ematian Besse, seorang ibu hamil dan anaknya berusia tujuh tahun bernama Bahar di Makassar Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu, sungguh memprihatinkan. Kematian akibat kelaparan di daerah yang dikenal sebagai lambung pangan itu, tentu sangat ironi.
Peristiwa sedih itu seharusnya menjadi bahan introspeksi diri bagi pemimpin bangsa ini. Apa yang mereka lakukan untuk rakyat, sudahkah mereka memperhatikan nasib rakyat sesuai janji mereka ketika berkampanye.
Kenyataannya, para pemimpin kita malah mencari pembenaran. Seperti halnya Wali Kota Makassar, Ilham Sirajuddin yang berkelit soal kematian Besse bahwa tidak terpantau karena sering berpindah-pindah, Wakil Presiden (Wapres) Muhammad Jusuf Kalla mencari dalih.
Jusuf Kalla menilai kasus kematian Basse, bukan melulu karena kasus kelaparan tetapi juga karena masalah sosial. ''Suaminya yang bernama Basri menggunakan sebagian penghasilannya sebagai tukang becak untuk membeli minuman keras,'' tegaskan Wapres Jusuf Kalla dalam sambutannya sebagai pembicara kunci pada seminar bertajuk "Mencari Identitas Politik Luar Negeri Indonesia" yang diselenggarakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia Depok, Jawa Barat, Selasa (11/3).
Lebih lanjut Wapres Jusuf Kalla menegaskan bahwa terlepas masih adanya masalah seperti busung lapar baik di Makassar itu maupun di beberapa tempat lain di Indonesia, situasi Indonesia pada 10 tahun terakhir mulai membaik. Hal itu dibuktikan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus membaik setiap tahun yang juga diikuti oleh meningkatnya pendapatan per kapita hingga US$ 2.000 saat ini. Dengan angka seperti itu, lanjut Kalla, sebenarnya Indonesia berada dalam kategori negara berkembang menengah.
Namun demikian, Indonesia harus bekerja keras untuk terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi guna membangun perekonomian yang kuat. Sebab dengan perekonomian yang kuat, bangsa ini akan dihormati dan dihargai oleh bangsa-bangsa lain.
Dia mencontohkan, berkat perekonomian yang kuat dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi, ketika Presiden Tiongkok berkunjung ke Amerika Serikat selalu disiarkan secara langsung oleh CNN. "Sedangkan saya dan SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) dua tiga kali ke sana, di koran sana pun beritanya tidak ada. Paling di koran-koran dalam negeri, karena kita bawa wartawan sendiri," ujar Kalla.
Menurut Kalla, semua negara bisa maju, baik negara kecil, negara besar dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi seperti Tiongkok dan India maupun negara miskin dan berkembang seperti Indonesia. Yang terpenting ada semangat bersama sebagai sebuah bangsa untuk bisa maju. Semangat bersama itu harus diwujudkan dengan kerja keras ditambah dengan kemajuan teknologi yang tinggi. Sebab teknologi bisa memberi nilai tambah dalam memajukan perekonomian sebuah bangsa.
Menuai Kritik
Pada akhirnya, kata Kalla, kemajuan ekonomi itu akan membawa kesejahteraan rakyat. Sebab dengan ekonomi yang baik dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi diharapkan lapangan pekerjaan semakin terbuka lebar. Dengan begitu maka pengangguran dan kemiskinan bisa terkurangi.
Namun demikian, Wapres Jusuf Kalla dikritik oleh mahasiswa Universitas Indonesia yang mengajukan pertanyaan kepadanya dalam sesi dialog. Sejumlah mahasiswa berebutan mengajukan pertanyaan kepada Kalla. Mereka antara lain mempertanyakan kebijakan pemerintah yang memungut pajak yang tinggi tetapi tingkat kesejahteraan masyarakat belum juga terwujud. Kalaupun ada kemajuan, kata mereka, tidak terlalu signifikan.
Faktanya tingkat pengangguran masih tinggi dan masih banyak juga masyarakat yang tinggal di bawah kolong jembatan.
Sementara para pejabat negara menikmati hidup mewah. Begitu pun dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang oleh pemerintah dinilai cukup tinggi.
Di mata mahasiswa itu, tingkat pertumbuhan ekonomi itu ternyata belum juga membuka lapangan pekerjaan yang cukup. [SP/Alex Madji]