arga Jakarta tidak sabar menanti akhir bulan jalan-jalan rusak di Ibukota diperbaiki. Mereka meminta supaya perbaikan jalan dipercepat sehingga tidak menimbulkan kemacetan lebih parah. Selain itu, agar tidak menimbulkan korban jiwa lebih banyak lagi.
"Sampai tunggu berapa banyak lagi yang meninggal. Apa tunggu sampai korban lebih banyak lagi baru diperbaiki. Tidak cukupkah dengan data kecelakaan yang ada sekarang ini?" tanya Roni, warga Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dengan kecewa, Rabu (12/3).
Ia menyayangkan kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang berencana baru memperbaiki jalan yang rusak pada akhir Maret nanti. "Terlalu lama menunggu perbaikan itu. Mengapa tidak dipercepat biar tidak menimbulkan korban jiwa lebih banyak lagi," tambahnya.
Pernyataan senada disampaikan Ustin, warga Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Ia menegaskan, perbaikan jalan tidak perlu menunggu musim hujan berakhir karena akan semakin banyak kecelakaan yang diderita warga. "Masa harus menunggu musim hujan berhenti baru diperbaiki. Kalau musim hujannya belum berakhir Maret bagaimana, jadi belum bisa diperbaiki," kata Ustin.
Calvin, warga Pondok Gede, Bekasi, yang setiap hari melintas di kawasan UKI, Cawang, mengatakan, perbaikan jalan sebenarnya tidak harus menunggu musim hujan berhenti. "Itu menunjukkan kualitas aspal yang dipakai nanti tidak baik. Kalau kualitasnya baik, cuaca apapun tidak akan berpengaruh," kata Calvin yang mengaku selama ini sudah beberapa kali keluar masuk bengkel untuk memperbaiki mobilnya yang rusak akibat jalan berlubang.
Sementara itu, Data Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) Kepolisian Daerah Metropolitan Jaya mengemukakan dalam bulan Januari-Februari, terdapat 35 orang meninggal dan 283 orang luka berat akibat jalan rusak. Sedangkan total kecelakaan mencapai 1.021 kejadian dan 359 diantaranya akibat jalan rusak. [RBW/L-8]