SUARA PEMBARUAN DAILY

Bangunan Liar Penuhi Taman BMW Jakut

- Lahan Dijual Rp 80.000 Per Meter

[JAKARTA] Taman Bersih, Manusiawi, dan Berwibawa (BMW) di Kelurahan Papanggo, Keca- matan Sunter Agung, Jakarta Utara semakin penuh dengan ratusan bangunan liar.

Kebanyakan penghuninya adalah pendatang, mereka membeli lahan di sana dari beberapa orang broker yang mengaku sebagai penggarap seharga Rp 80.000 hingga Rp 100.000 per meter persegi (M2).

Menurut pantauan SP, selain rumah berdinding triplek, terdapat pula rumah permanen berdinding bata. Selain sebagai tempat tinggal, Taman BMW itu juga dipenuhi warung makanan (warteg), depot air isi ulang, hingga kios penjual ikan.

Sepuluh tahun lalu, Taman BMW terlihat hijau dan dipagari. Namun kini pagar itu hilang dan kehijauan berganti dengan permukiman kumuh.

Padahal kabarnya, Wiyogo Atmodarminto, Gubernur DKI ketika itu sudah mengucurkan dana lebih dari Rp 250 miliar untuk pembebasan dan pembangunan Taman BMW seluas 26,5 hektare yang letaknya di sebelah kanan Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Utara itu.

Seorang warga Sunter Agung, Jakarta Utara, RNS (50) menyatakan, ia memiliki rumah seluas 25 m2 di Taman BMW. Rumah itu dibeli dari seorang penggarap seharga Rp 2 juta. Kini penjual itu telah pindah ke Bandung. Rata-rata penjual dan pembeli berasal dari suku yang sama, seperti suku Batak atau Madura.

"Rumah yang saya beli ini sudah jadi, bisa langsung ditempati. Banyak rumah yang dibeli orang, sedikit yang dikontrakkan. Mending tinggal di sana, kan murah. Udah gitu rumah sendiri," ujarnya kepada SP, Selasa (11/3). Dikatakan, ada pula rumah yang dijual seharga Rp 3 juta dan Rp 4 juta bergantung pada luas lahan.

Ada Jaringan Listrik

Warga yang tinggal di Taman BMW ternyata juga sudah menikmati aliran listrik dari PLN. RNS mengaku, setiap bulan dia membayar listrik Rp 40.000, tidak memandang jumlah pemakaian listrik.

Sekalipun RNS menggunakan listrik dalam kapasitas tinggi, dia tetap membayar Rp 40.000. Selain itu setiap bulan pula dia membayar Rp 5.000 sebagai iuran warga jika ada warga yang sakit atau meninggal.

Sedangkan untuk mandi dan mencuci, warga tidak sulit memperoleh air. Seorang warga yang enggan disebutkan namanya menyebutkan, dia mendapat air dari sumur yang dia gali. "Airnya masih bersih, tidak asin. Ada juga warga yang beli air satu pikul Rp 4.000," katanya.

Menurutnya, war- ga yang tinggal di Ta- man BMW adalah korban penggusuran kolong tol Ancol dan korban kebakaran Ancol.

Mereka ditampung sementara di taman itu. Selanjutnya mereka ditawari tinggal di sana. Akibatnya mereka membuat sendiri kapling melalui pematokan lahan kosong dengan kayu. Sebagian warga yang mendapat kapling itu menjualnya lagi ke warga sekitar.

"Yang menawarkan tinggal di sana kasihan sama korban gusuran itu, katanya ini tanah untuk orang susah," tutur dia.

Dijelaskan, tidak semua orang yang tinggal di sana adalah orang susah, seperti petani kebun sayur, tukang air, hingga tukang cuci. Ada pula yang mampu. Terlihat ada warga Taman BMW yang memiliki rumah mewah dilengkapi mobil juga. Taman BMW kini tak ubahnya sebuah permukiman. Ada nama kampung, ketua RT, bahkan akan dibangun masjid. [IGK/Y-4]


Last modified: 12/3/08