SUARA PEMBARUAN DAILY

Pameran Lukisan "On Last Supper"

Menyelami Momen Perjamuan Terakhir

SP/Ferry Kodrat

Salah seorang pengunjung sedang mengamati lukisan pensil arang sepanjang 150 x 700 cm yang berjudul "Holy Mass" karya pelukis J Ariadhitya Pramuhendra dalam pameran lukisan "On Last Supper" di Cemara 6 Galeri, Menteng, Jakarta, dari tanggal 11 hingga 25 Maret.

Suatu hari, tahun lalu, di sebuah gereja di Kota Bandung, Jabar, dalam sebuah doa dengan mata terpejam, J Ariadhitya Pramuhendra atau yang akrab dipanggil Hendra, menerawang mata batinnya ke sosok Yesus Kristus.

Ketika itu, Hendra sekali masuk ke dalam ke- hidupan Yesus yang telah memberikan dirinya ins- pirasi, baik dalam mengarungi kehidupan di du- nia ini termasuk dalam berkarya.

"Saya percaya Tuhan itu hidup dalam diri pribadi dan saya dapat menemukan Tuhan di sana. Suatu hari, saya berimajinasi, jika kami berada di sana, duduk bersama-sama mereka, mengikuti apa yang sedang mereka diskusikan, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka imajinasikan dalam Perjamuan Terakhir..." Itulah kalimat yang menjadi imajinasi seorang Hendra mengenai Perjamuan Terakhir.

Imajinasi itulah yang akhirnya membuahkan lukisan dan fotografi bertema "On Last Supper" (Perjamuan Terakhir) yang dipamerkan di Cemara 6 Galeri, Menteng, Jakarta Pusat, dari hari Selasa (11/3) hingga Selasa (25/3). Tema dari pameran itu sendiri

Kisah Perjamuan Terakhir memang sudah melegenda. Kisah ini, sudah begitu merasuk dalam benak orang-orang Kristiani. Perjamuan Terakhir itu terus dituangkan dalam Ekaristi suci (ibadat utama) bagi umat Katolik Roma.

Lukisan Perjamuan Terakhir juga menjadi tema yang kerap kali diangkat oleh para pelukis besar dunia, misalnya lukisan dinding atau mural karya sang maestro Renaissance abad ke-15, Leonardo Da Vinci yang dipajang di Santa Matria delle Grazie, Milan, Italia, atau pelukis Ducco di Buoninsegna, Dieric the Elder Bouts, Domenico Ghirlandiao, Albrecht Durer, dan lain-lain.

Lukisan-lukisan bertema ini bukan sekadar memiliki nilai dengan pemikiran estetika semata, namun lebih dalam lagi. Lukisan-lukisan ini bisa dilihat dari perjalanan religius dan perjalanan iman sebagai seorang Kristiani. Bagi Hendra, lukisan-lukisan yang dia pamerkan tersebut berangkat dari hal yang paling hakiki yaitu keyakinannya sebagai umat Katolik.

"Sebagai umat Katolik, saya harus memaknai semua ajaran dan ritual yang saya lakukan setiap minggu," kata Hendra kepada SP setelah pembukaan pameran di Jakarta, Rabu (11/3) malam.

Di Cemara 6 Galeri, Hendra memajang empat lukisannya yang seluruhnya dibuat dari charcoal atau pensil arang di atas kanvas putih. Dari empat lukisannya, terdapat satu lukisan berukuran besar, 150 x 700 cm tanpa sambungan kanvas putih yang dia beri judul Holy Mass.

Lukisan tersebut menggambarkan Perjamuan Terakhir. Hanya saja, pa-da lukisan Perjamuan Terakhir versi Hendra, seluruh wajah yang muncul diubah menjadi wajah sang perupa (Hendra), termasuk juga wajah 12 rasul. Mungkin orang akan mengajukan pertanyaan alasannya.

"Saya hanya ingin mengimajinasikan diri saya bagaimana kalau saya berada di sana. Terus terang, untuk mengimajinasikan pikiran itu, saya mengambil referensi dari lukisan karya Leonardo Da Vinci," ujar pelukis kelahiran Semarang, Jateng, 13 Agustus 1984 ini.

Rekayasa Komputer

Sebelum mengeksekusi di kanvas dalam melukis Holy Mass, Hendra memperhatikan satu persatu sosok-sosok yang muncul dalam karya Leonardo Da Vinci. Dia kemudian memperagakan seluruh gestur dengan tubuhnya sendiri dengan telanjang dada dan kemudian direkam oleh sebuah kamera digital. Foto-foto hasil jepretan itulah yang kemudian diolah lewat rekayasa komputer untuk menyusuk imajinasi Perjamuan Terakhir-nya.

Untuk karya tersebut, Hendra menyelesaikannya dalam waktu sebulan. Sementara tiga lukisan lainnya yang dia beri judul The Chairmen's Dialogue, The Waiter, dan Divided And Fold, dibuat dalam waktu 15 hari.

Selain empat lukisan, pelukis beraliran realist ini juga memamerkan tiga karyanya berupa patung dan empat karya fotografi. Salah satu karya patungnya adalah sepasang sepatu yang dicat warna emas dan diberi judul Superstar Christ. [F-4]


Last modified: 12/3/08