Pemerintah mengingatkan PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) agar mengoptimalkan penggunaan pita frekuensi yang dimiliki jika tidak ingin lebar pita dikurangi atau bahkan dicabut. Kabag Umum dan Humas Ditjen Postel Depkominfo, Gatot S Dewa Broto, di Jakarta, Selasa (11/3) mengatakan, peringatan ini didasarkan hasil kajian Ditjen Postel dengan menggunakan basis data Sistem Informasi Manajemen Frekuensi. Hasil kajian itu menunjukkan, penggunaan kanal frekuensi yang dialokasikan kepada NTS terhadap data pembangunan menara radio pemancar (BTS) untuk penyelenggaraan layanan seluler dianggap kurang efektif jika dibanding dengan lebar pita frekuensi radio DCS 1.800 sebesar 15 MHz yang telah ditetapkan kepada operator tersebut.
Head of Corporate Communication NTS Anita Avianty kepada wartawan menegaskan, pihaknya telah membangun jaringan sesuai dengan komitmen yang disampaikan kepada pemerintah. NTS memperoleh lisensi seluler nasional tahun 2001 dan merupakan operator selular berteknologi GSM dan layanan seluler generasi ketiga (3G). [N-3]
Kebijakan pemerintah untuk menghapuskan KUT (Kredit Usaha Tani) baru-baru ini sebesar Rp 7, 1 triliun tidak mendidik. Umumnya petani sangat patuh untuk membayar utang. Kalau sampai menunggak, itu biasanya akibat bencana alam atau hama. Tidak ada niat untuk "ngemplang" seperti halnya konglomerat yang ngemplang BLBI sampai triliunan rupiah. Seharusnya, tunggakan KUT itu direstrukturisasi dengan pemberian kredit lagi sehingga petani bisa menggarap lahannya secara produktif untuk mengembalikan utang KUT tersebut.
Di sisi lain, penghapusan utang atau tunggakan KUT itu bisa menimbulkan citra yang tidak baik dari perbankan atau lembaga keuangan, seolah-olah penunggak KUT tersebut merupakan debitor yang beretiket tidak baik. Ini akan menyulitkan petani untuk mendapatkan kredit lagi. Restrukturisasi kredit untuk petani diharapkan memperkuat produksi pangan nasional sehingga mengurangi ketergantungan impor, kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Induk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Kadin UMKM) Elias Tobing, Senin (10/3), di Jakarta. [RST/M-6]

Direktur Operasional Bursa Efek Indonesia (BEI), MS Sembiring (kiri), Komisaris Utama PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti (kanan) dan Direktur Utama Bank BTPN, Paulus Wiranata (tengah) melihat perkembangan harga saham BTPN pada menit-menit pertama listing di BEI, Rabu (12/3) pagi. SP/Luther Ulag