Suara pembaca dikirim melalui email opini@suarapembaruan.com atau Faks ke redaksi, disertai alamat lengkap dan fotocopy identitas yang masih berlaku
Pada saat ini, boleh dikatakan dunia perfilman nasional kita telah bangun dari tidur. Munculnya optimisme insan muda film dalam berkarya memberikan angin segar bagi masyarakat perfilman nasional. Tentu saja, kabar baik ini sangat menyejukkan kita yang tengah merasa frustasi oleh kondisi ekonomi saat ini.
Tidak salah, jika masyarakat Indonesia menaruh banyak harapan dengan meledaknya dunia perfilman nasional, demi sebuah identitas baru. Ini menggembirakan, karena berita (dan iklan) mengenai hadirnya film nasional baru seringkali kita lihat di media cetak hiburan atau pun media umum yang memiliki rubrikasi hiburan.
Untuk mempertahankan prestasi demikian, masyarakat perfilman nasional memerlukan dukungan semua pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan terutama pengusaha-pengusaha bioskop. Untunglah pengusaha bioskop cukup merespons positif, sehingga hari-hari terakhir ini kita banyak melihat film produksi dalam negeri di layer lebar.
Ke depan, kami mengharapkan agar dukungan bioskop dapat lebih aktif berperan serta memajukan perfilman nasional dengan jalan menayangkan secara luas film kita di arena pertunjukan film mereka. Mudah-mudahan, perfilman nasional Indonesia semakin maju dan sukses.
Debbie Davis
Kepala Departemen Komunikasi The Celebrity Watch (CelebWatch) Jakarta
Saya adalah nasabah Bank Niaga dengan nomor rekening 006.01.xxxxxxx. Kamis, 6 Maret 2008, pukul 16:34:34 menarik dana Rp 2,5 juta (resi terlampir). Janggalnya, penarikan tersebut disaksikan oleh petugas polisi bernama Donni dan petugas vendor ATM Niaga. Saat keluar, tumpukan uang berserakan, dan tidak keluar semuanya. Melihat saya kebingungan, kedua orang tersebut membantu saya menarik uang, sebagian dana yang tersisa ditelan kembali oleh mesin ATM.
Setelah dihitung bersama uang yang keluar hanya Rp 2,1 juta, sedangkan dana saya terdebet Rp 2,5 juta. Petugas membuka mesin ATM dan terlihat uang yang ditelan tercecer di dalam. Ternyata petugas bernama Jeffri adalah karyawan PT Tunas Arta Gardatama, vendor ATM Bank Niaga yang sedang melakukan perbaikan mesin ATM tersebut.
Saya diminta menghubungi Bank Niaga untuk memperoleh sisa uang yang tercecer, melalui telepon merah di samping ATM. Yang terjadi, satu jam saya dipingpong ke beberapa petugas, diantaranya sdr Tya, Erni dan Ayu, dan setiap berpindah tangan, pengaduan saya diproses dari awal, termasuk interogasi dengan pihak saksi yaitu polisi dan petugas ATM.
Saya menjadi semakin frustasi karena pihak Bank tidak mau tahu kalau saat itu saya sedang dalam perjalanan ke Bandara dan tetap tidak mau membantu, karena alasan peraturan yang mengharuskan proses tiga hari kerja.
Karena waktu terbatas, akhirnya saya minta bukti tertulis bahwa keluhan saya diproses. Namun mereka semua menolak dengan alasan bukti pelaporan telah terekam di voice recording. Karena saya ngotot tidak punya pegangan tertulis, akhirnya mereka memberikan nomor pengaduan saya. Atas saran pengacara saya, saya pun membuat BAP tertulis seadanya dengan tanda tangan pihak saksi (terlampir)
Saat ini saya masih menanti proses selanjutnya dari Bank Niaga, namun saya sangat menyesalkan petugas ATM yang tidak memberitahu akan adanya kerusakan mesin, dan atas respon Bank Niaga yang bekerja seperti mesin dan tidak mempedulikan keadaan pelanggan.
Saya meminta perhatian Manajemen Bank Niaga dalam penanganan laporan dan keluhan pelanggannya, sehingga dapat memberikan solusi yang membantu dan menyejukkan, bukannya membuat frustrasi dan menghilangkan kepercayaan pelanggan yang sudah berpuluh tahun setia menjadi nasabahnya. Masih untung saya ada saksi, saya tidak bisa membayangkan bila saat itu tidak ada orang, dan saya dalam keadaan kritis gawat darurat. Yang jelas kini saya benar-benar trauma untuk menggunakan ATM Niaga saya.
B Tjandrasjahan
Tangerang