alam dua bulan terakhir, lima bayi diberitakan mati kelaparan di Rote, Nusa Tenggara Timur. Di Kota Makassar, seorang ibu yang sedang hamil tujuh bulan dan anaknya yang berusia lima tahun, juga diberitakan meninggal setelah tiga hari tidak makan. Itulah berita yang mengguncangkan rasa kemanusiaan kita. Mengapa di zaman merdeka seperti sekarang ini masih ada orang mati karena kelaparan?
Pertanyaan itu semakin menyembul kala kita hidup di kota besar seperti Jakarta. Demikian pesat pembangunan kota, pusat perbelanjaan, hotel, dan kawasan bisnis terpadu bermunculan, yang menandakan semakin makmurnya sebuah wilayah. Mereka yang berpenghasilan cukup bisa semakin menikmati kehidupan Kota Jakarta. Namun, di sisi lain, rakyat yang tidak sanggup menghadapi "kejamnya" Kota Jakarta akan semakin terpinggirkan.
Harus diakui, kemiskinan memang tidak bisa dihapuskan seratus persen. Namun, sangat memprihatinkan kalau kemiskinan tersebut sampai membawa kematian. Mati karena kelaparan. Hal itu menunjukkan pemerintah kurang peduli terhadap warganya dan mengingkari keinginan para pendiri bangsa ini, yang menghendaki negara memperhatikan nasib rakyatnya.
Selama ini dipahami bahwa mati kelaparan dan kasus busung lapar merupakan simbol negara terbelakang, karena negara itu tidak sanggup menyediakan bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduknya. Dalam kondisi seperti itu uluran tangan dari pihak luar sangat dibutuhkan. Lalu, apakah Indonesia juga seperti itu?
Orang bisa berdalih bahwa mati akibat kelaparan atau kekurangan gizi di masyarakat hanya kasuistis. Artinya sangat kecil kemungkinan terjadi. Tetapi, dari yang kecil itulah orang bisa melihat ternyata perhatian kita terhadap orang-orang yang kekurangan masih kurang. Dalam kasus tersebut sangat aneh bila pemerintah daerah sampai tingkat rukun tetangga (RT) tidak tahu ada warganya sedang sakit dan kelaparan yang membutuhkan pertolongan.
Terjadinya kasus busung lapar dan orang mati kelaparan di sekitar kita menunjukkan rasa kepedulian mulai luntur. Ketidakpedulian warga terhadap sesama bisa terjadi karena memang rasa peduli tidak dipupuk dengan baik. Hal itu juga menjadi cerminan dari kinerja pemerintahan, apakah pemerintah juga menunjukkan kepedulian kepada warganya dan serius membangkitkan semangat kebersamaan untuk bersama-sama menuju kehidupan yang lebih baik.
Kita berharap pemerintah dan semua elemen masyarakat memberikan perhatian yang serius terhadap warga kita, khususnya mereka yang memiliki gizi buruk. Pemerintah sendiri dalam APBN 2008 telah mengalokasikan anggaran kemiskinan sekitar Rp 80 triliun untuk berbagai program. Namun, yang kita harapkan, program-program tersebut hendaknya dilaksanakan dengan hati, bukan mengejar target.
Program yang sudah dirancang pemerintah hendaknya dilaksanakan dengan ketulusan. Sebab, kalau sudah ada motivasi lain, seperti, mencari keuntungan finansial dalam pelaksanaan program, maka rasa kepedulian itu sebenarnya tidak ada lagi. Karena yang ada adalah mental calo, menyalurkan uang rakyat untuk rakyat dengan meminta imbalan. Bila program itu dijalankan dengan rasa kasih, maka dana itu akan bermanfaat karena mereka yang menjadi target program akan merasakan ketulusan dalam penyaluran anggaran tersebut. Kita berharap perhatian dan kepedulian terhadap sesama yang menderita bisa terus ditumbuhkan. Jangan sampai kita dicap sebagai negara terbelakang karena tidak bisa menyediakan kebutuhan dasar bagi rakyat sendiri.