SUARA PEMBARUAN DAILY

Stabilitas Kawasan Amerika Selatan Rentan

Oleh Fiki Oktanio

Mendengar kawasan Amerika Selatan atau Amerika Latin tentunya kita membayangkan tayangan telenovela atau musik-musik latin, seperti Ricky Martin atau Gloria Estefan. Produk kebudayaan tersebut berkaitan dengan sifat masyarakat Amerika Selatan. Los latinos memiliki sifat terbuka dan reaktif.

Di bidang politik, Amerika Selatan termasuk sebuah kawasan yang sangat rentan. Tidak ada negara di kawasan Amerika Selatan yang tidak memiliki permasalahan bilateral dengan negara tetangga. Friksi ideologis di antara negara di kawasan tersebut sangat tajam.

Terbunuhnya orang nomor dua Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia (FARC), Raul Reyes, beberapa hari yang lalu menyebabkan terjadinya ketegangan diplomatik antara Kolombia dengan Ekuador dan Venezuela. Ketegangan diplomatik yang memiliki resiko terjadinya pertentangan terbuka di antara negara di kawasan Amerika Selatan seringkali terjadi.

Menjadi pertanyaan, mengapa stabilitas kawasan Amerika Selatan demikian rentan? Dalam tulisan ini juga akan dibahas latar belakang permasalahan FARC, yang menjadi momok bagi pemerintah Kolombia dan insiden terakhir yang menyebabkan terjadinya ketegangan diplomatik antara Kolombia dengan Ekuador dan Venezuela.

Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia merupakan kelompok gerilyawan yang beraliran marxist leninisme terbentuk pada 1964. FARC merupakan momok bagi pemerintahan Kolombia. FARC sendiri diindikasi memiliki hubungan dengan kartel narkotika Kolombia. Bahkan lebih dari 70 persen anggarannya berasal dari kartel-kartel narkotika di Kolombia. FARC juga dikenal dengan penculikan terhadap beberapa politisi, rohaniawan, tentara, dan berbagai kalangan masyarakat Kolombia lainnya.

Lebih dari 31 negara telah mengkualifikasikan FARC sebagai kelompok teroris. FARC sendiri telah menguasai 24 dari 32 departamentos (provinsi) di Kolombia dan aktivitas FARC terkonsentrasi di wilayah perbatasan dengan Ekuador dan Venezuela. Negara di kawasan Amerika Selatan, seperti Ekuador, Bolivia, dan Brasil, tidak mengkategorikan FARC menjadi kelompok teroris dan menganggap FARC merupakan urusan domestik Kolombia. Venezuela melalui Presiden Huga Chavez merupakan penyokong utama FARC bahkan meminta FARC dikeluarkan dari kelompok teroris. Menurut Chavez, gerakan FARC bukanlah gerakan teroris, namun gerakan yang diilhami oleh Simon Bolivar.

Presiden Kolombia Alvaro Uribe sejak berkuasa pada 2000 memperlihatkan sikap yang tidak kompromistis terhadap FARC. Bahkan Uribe sendiri memperkeras sikap terhadap FARC. Pemerintah Kolombia secara gencar menggalang internasional untuk mendapatkan dukungan melawan FARC. Pada Agustus 2007, Presiden Uribe mengutus Senator oposisi, Piedad Cordoba, untuk menjadi fasilitator dalam Perjanjian Kemanusiaan terhadap para sandera dan menyetujui keinginan Presiden Chavez menjadi mediator. Usaha pembicaraan tersebut gagal karena Presiden Chavez dinilai oleh Pemerintah Kolombia bukan bertindak sebagai mediator, namun lebih banyak mengatur pihak Kolombia. Di balik kegagalan tersebut, berkat intervensi Chavez, telah dibebaskan enam politisi yang disandera oleh FARC.

Tak Dipuji

Pada 1 Maret 2008, Militer Kolombia berhasi menyergap dan membunuh Raul Reyes yang dikenal sebagai orang nomor dua FARC. Namun, aksi militer ini bukan mendapat pujian dari negara tetangga, justru menimbulkan protes dari Ekuador dan kemudian Venezuela. Ekuador memprotes keras Kolombia karena aksi itu dinilai telah melewati batas wilayahnya.

Protes yang lebih keras disampaikan oleh Presiden Hugo Chavez. Presiden Chavez melontarkan kata-kata yang keras terhadap Presiden Uribe. Bahkan dalam sebuah acara televisi, Presiden Chavez mengajak seluruh warga Venezuela untuk mengheningkan cipta atas meninggalnya Raul Reyes. Bahkan Chavez telah mengancaman untuk mengirim 10 batalionnya ke daerah perbatasan Venezuela dan Kolombia.

Ketegangan diplomatik antara Venezuela, Ekuador, dan Kolombia merupakan fenomena yang cukup menarik. Protes yang disamapaikan oleh Ekuador dapat dimengerti karena pelanggaran wilayah kedaulatan nasionalnya. Namun, menjadi hal yang mungkin diluar pengertian, protes keras malah diajukan oleh Presiden Hugo Chavez. Presiden Chavez menuduh Presiden Uribe sebagai mentiroso (pembohong) dan mengatakan, Raul Reyes adalah pejuang yang harus diberikan penghormatan.

Sikap reaktif Chavez selain dengan memanggil Dubes di Bogota dan menutup Kedutaan di Bogota juga memerintahkan pengerahan 10 batalion ke daerah perbatasan Kolombia dan Venezuela. Walaupun FARC adalah permasalahan dalam negeri Kolombia, namun pembebasan sandera, yang merupakan intervensi Chavez, menjadi satu alasan bagi Chavez bahwa aksi militer tersebut justru akan membahayakan eksistensi Chavez.

Rentannya stabilitas di kawasan Amerika Selatan disebabkan beberapa faktor. Pertama adalah faktor historis. Secara historis, Kolombia, Ekuador, dan Venezuela bergabung menjadi sebuah negara di masa awal kemerdekaan. Ketiga negara tersebut tergabung di dalam Republica Gran Colombia. Namun, dengan menjadi negara yang independen terdapat residu permasalahan di masa lalu yang belum tuntas hingga sekarang. Beberapa konflik bilateral seperti Chile dengan Peru dan Bolivia juga akibat tidak terselesaikannya permasalahan akibat Perang Pasifik secara tuntas.

Kedua, terjadinya kerentanan adalah akibat friksi ideologis yang sangat tajam di antara negara di kawasan Amerika Selatan. Venezuela, yang disokong oleh Ekuador dan Bolivia, mengembangkan politik beraliran sosialis radikal yang secara tidak langsung memiliki pertentangan dengan negara, seperti Chile, Peru dan Kolombia, yang mengembangkan politik lebih moderat. Friksi tersebut seringkali menciptakan ketegangan di antara negara di kawasan Amerika Selatan.

Ketiga, di kawasan Amerika Selatan tidak terdapat wadah atau organisasi regional yang bisa menjaga stabilitas. Di balik semua kritik, stabilitas di kawasan Asia Tenggara dapat tercipta dengan adanya ASEAN. Kita patut bersyukur bahwa ASEAN dapat menjadi tonggak terciptanya stabilitas kawasan. Hal inilah yang membuat Amerika Selatan dianggap sebagai kawasan yang stablitasnya sangat rentan.

Penulis adalah Sekretaris III KBRI Santiago. Tulisan ini merupakan pokok pi kiran pribadi dan bukan kebijakan Kedutaan Besar Republik Indonesia


Last modified: 12/3/08