ampah berserakan di sekitar batu-batu besar itu. Dari mulai kulit dan biji rambutan, sampah plastik, kertas, sisa makanan, hingga pecahan keramik. Memang tidak sampai menimbulkan bau menyengat. Tapi masuk ke area itu jelas bukan kegiatan yang menyenangkan. Apalagi saat hujan turun. Becek. Kotor.
Di lokasi itu memang terdapat banyak batu besar. Batu megalitik, menurut arkeolog. Batu yang menurut arkeolog bisa menjadi petunjuk pengungkapan sejarah di masa lalu. Lokasi tepatnya, Kampung Sindangbarang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor. Tidak ada papan keterangan dari pemerintah mengenai situs penting itu.
Di sekitar lokasi itu terdapat rumah-rumah penduduk. Sudah mulai padat. Beberapa penduduk berdatangan saat SP mengunjungi tempat itu Sabtu pekan lalu. Hujan baru saja berhenti. Langit gelap.
"Itu batu yang dihancurkan. Siapa mau menjaga batu itu? Banyak orang tidak tahu arti penting batu itu bagi penelusuran sejarah," kata Sawab, penduduk setempat. Telunjuknya mengarah ke sebongkah batu yang selintas terlihat biasa-biasa.
Dari dekat terlihat jelas betapa pinggir batu itu "terluka". Bekas patahan. Sebagian pinggir batu terlihat kasar. Bekas patahan.
"Itu batu megalitik yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-14. Di masa itu berdiri Kerajaan Sundapura dengan ibu kota Pakuwan Padjadjaran. Situs di Sindangbarang sebenarnya bisa menjadi sarana kita untuk mengetahui sistem keper- cayaan atau keagamaan penduduk masa itu. Tapi memang susah memang menjaga situs-situs tanpa komitmen tegas pemerintah," kata Agus Aris Munandar, dosen arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, di tempat terpisah.
Komentar Agus tidak berlebihan. Keberadaan batu-batu di tengah permukiman penduduk tanpa keterangan apa pun jelas mengundang setiap orang untuk memanfaatkan batu itu. Untuk fondasi rumah, misalnya.
Hancurnya batu itu hanya contoh kecil jelas bukan hanya soal hilangnya salah satu jejak sejarah di Indonesia. Di beberapa tempat di Sindangbarang dan sekitarnya kerusakan situs-situs seolah menunggu waktu.
Beberapa situs lain terkepung di permukiman penduduk. Keberadaan situs di lahan milik penduduk menjadikan penduduk menganggap bahwa batu itu bisa dimanfaatkan untuk apa saja.
Padahal, dalam penelitian awal Agus beserta dosen dan mahasiswa dari UI dua tahun terakhir di Sindangbarang dan sekiktarnya, telah ditemukan 70 situs penting. Semua situs diperkirakan berasal dari abad ke-14.
Kurangnya perhatian pemerintah Kabupaten Bogor dan pemerintah pusat pada keberadaan situs di Sindangbarang semakin membuktikan betapa rendahnya perhatian kita semua pada sejarah. Jangan jauh-jauh, naskah asli Super Semar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang menandai periode penting perjalanan bangsa ini pada 1966 hingga kini masih kontroversi.
Kabur. Padahal, naskah itu berumur sangat muda jika dibandingkan dengan situs-situs di Sindangbarang.
Biografi Jenderal M Jusuf, Panglima Para Prajurit yang ditulis Atmadji Soemarkidjo, 2006, yang diharapkan bisa menguak misteri keberadaan naskah asli Super Semar masih menyisakan kabut hitam. Bisa dipahami pula jika hancurnya berbagai situs di berbagai belahan Indonesia dinilai bukan masalah besar. Biasa-biasa.
Tapi, tidak bagi Ahmad Mikami Sumawijaya, pupuhu (tetua) adat Sindangbarang.
"Coba saja selusuri situs-situs yang ada di Sindangbarang. Tanya pada nurani Anda, baru kita diskusi. Ancaman kerusakan situs-situs Sindangbarang, Bogor, contoh terbaru betapa kita tidak punya penghargaan terhadap sejarah," katanya.
Ahmad Mikami yang lebih akrab dengan panggilan Ama Maki sejak kecil banyak mendengar cerita sesepuh setempat tentang tempat-tempat keramat di Sindangbarang dan kampung sekitarnya. Belakangan, saat ia dan beberapa tokoh setempat ingin mengadakan kembali upacara adat Seren Taun, ia menelusuri tempat-tempat yang dianggap keramat itu.
Penelusurannya menemukan puluhan batu megalitik, kuburan tua, kolam, sumber mata air, dan beberapa punden berundak. Rasa penasaran Maki terus meningkat saat menyadari lokasi ditemukannya benda itu ternyata berada di Kampung Taman Sari. Nama kampung Taman Sari, bukan nama sembarang?
Maki mengontak Agus Aris Munandar. Sejak 2006 Agus dan teman-temannya melakukan penelitian. Sejak awal Agus sudah yakin situs-situs di Sindangbarang dan sekitarnya punya nilai sejarah penting.
Laporan awal penelitian tim itu menyebutkan adanya banyak batu megalitik, sumur Jalatunda, Taman Sri Bagenda, bukit kecil bertingkat yang oleh penduduk disebut punden Majusi dan punden Surawisesa.
Dalam catatan Agus, penyebutan Taman Sri Bagenda untuk kolam berukuran sekitar 45 x 15 meter mempunyai makna khusus. "Penamaan kolam seperti itu telah dikenal sejak lama. Kitab Wangbang Wideya yang disusun awal abad ke 16 menyebut keberadaan taman dengan nama itu (Taman Sri Bagenda, Red), Kidung Harsya-Wijaya menyebut Taman Bagenda, Kidung Pamancangah yang dikenal di Bali juga menyebut-nyebut nama taman itu," tuturnya.
Dengan lain perkataan, Agus memperkirakan, taman yang berbentuk kolam itu kemungkinan besar adalah bekas taman keluarga raja di masa lalu. Jika dikaitkan dengan keberadaan batu-batu megalitik yang banyak terdapat di sekitar Sindangbarang, besar kemungkinan wilayah itu termasuk wilayah yang banyak ditempati masyarakat di masa lampau.
Teori itu semakin kuat jika dikaitkan dengan hasil temuan tim dari Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional di Kampung Dampit, Desa Parakan, Kecamatan Ciomas, yang tidak terlampau jauh dari Sindangbarang. Di Parakan ditemukan guci dengan ornamen berbentuk naga dan kepala burung phoenix berisi tulang belulang manusia.
"Punden berundak yang terdapat di Sindangbarang bisa jadi merupakan sarana peribadatan masyarakat sekitar abad ke-14. Tapi untuk memastikan usia dan sejarah keberadaan dan kegunaan batu itu diperlukan penelitian lebih komprehensif. Tapi bagaimana penelitian bisa berlangsung dengan baik jika situs-situs itu sekarang sudah mulai berhancuran dan terancam penghancuran," Agus menambahkan.
Agus menyadari pemerintah pasti menghadapi kendala dana untuk membebaskan lahan milik penduduk yang menjadi lokasi keberadaan situs-situs kuno. Sudah terlampau banyak contoh situs-situs yang tersebar di Indonesia hancur karena kendala dana dan kurangnya keseriusan pemerintah melakukan penelitian.
Sosialisasi kepada penduduk mengenai arti penting situs itu adalah salah satu jalan keluar. Langkah lainnya ialah pemerintah membeli sebagian kecil lahan yang menjadi lokasi keberadaan situs-situs itu.
"Untung masih ada orang seperti Pak Maki yang sejak beberapa tahun lalu mencoba menjaga situs itu bersama beberapa penduduk lainnya. Jika tidak, sejarah masa lalu akan semakin sulit ditelusuri. Anda tahu nasib bangsa yang tidak tahu sejarahnya bukan," ujarnya. [SP/Aa Sudirman]