
[JAKARTA] Melihat hasil turnamen All England yang berakhir dengan munculnya beberapa juara di luar perkiraan, mantan bintang bulutangkis Indonesia Rudy Hartono berkesimpulan bahwa semua pemain mempunyai kesempatan untuk menang.
"Dengan menggunakan sistem reli poin, ini adalah permainan yang cukup memberi kesempatan banyak pemain untuk menjadi juara," ujar juara delapan kali All England itu kepada Antara di Jakarta, Senin (10/3).
Ia mencontohkan, Tine Rasmussen dari Denmark dan pasangan Korea Lee Kyung Won/Lee Hyo Jung yang bisa mematahkan dominasi putri Tiongkok dan berhasil memenangi turnamen bergengsi itu. Tiongkok yang selama ini selalu mendominasi dalam setiap turnamen, kali ini hanya berhasil membawa pulang dua gelar melalui tunggal putra ganda campuran meski meloloskan finalis pada empat nomor.
Melihat hasil tersebut, juara All England tujuh kali berturut-turut itu berpendapat peluang untuk menang juga terbuka bagi pemain-pemain Indonesia. "Masalahnya mau tidak mereka menjadi juara dan berkorban dengan melakukan persiapan lebih banyak dari sebelumnya. All England adalah turnamen bergengsi, semua pemain pasti melakukan persiapan sebaik mungkin untuk menang. Saya yakin Tine pasti melakukan persiapan lebih untuk bisa menjadi juara," kata Rudy.
Ia juga mengatakan, sebaiknya pemain tidak menggantungkan diri pada pelatih dalam menentukan porsi latihan. "Pemain harus tahu berapa banyak yang dibutuhkan," jelasnya.
Kecerdikan
Kematangan berpikir, kepercayaan serta kecerdikan dalam menentukan strategi dalam bertanding juga menjadi faktor yang belum sepenuhnya disadari pemain-pemain Indonesia. "Teknik dan fisik pemain kita tidak kalah, tetapi yang belum matang adalah kepercayaan dan kecerdikan strategi, sehingga sering melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang," kata juara 1968-1974 dan 1976 itu.
Ia mencontohkan, permainan ganda campuran Indonesia Nova Widianto/Lilyana Natsir yang kalah di final melawan pasangan Cina Zheng Bo/Gao Ling 21-18, 14-21, 9-21. Nova/Lilyana berhasil memenangi game pertama meski sempat tertinggal 6-15, namun mereka gagal melakukan hal yang sama pada game kedua dan ketiga saat ganda Tiongkok itu mengubah pola permainan mereka.
"Waktu itu saya lihat pemain kita terlambat mengubah strategi, sehingga mengikuti strategi lawan, makanya kalah," jelas pria asal Jawa Timur itu."Dalam All England, pemain bukan asal main, harus ada perubahan-perubahan, pada set kedua pemain Tiongkok berubah dan dalam perubahan itu mereka berhasil".
Ia juga mengingatkan bahwa untuk meraih kemenangan pemain harus punya prinsip untuk merebut angka lebih dulu sehingga tidak berada dalam posisi tertekan terutama pada set penentuan. "Semua ini pelajaran berharga, bagi yang berpikir positif, mereka akan kembali mempersiapkan diri, mengevaluasi kelemahan dan mempertajam senjata mereka," ujarnya seraya mengingatkan bahwa tidak lama lagi mereka menghadapi dua turnamen besar, Piala Thomas dan Uber (11-18 Mei) serta Olimpiade Beijing (8-24 Agustus). [W-11]