SUARA PEMBARUAN DAILY

Nama Besar Melayang Ditebas Kelewang

Peristiwa yang terjadi pada Rabu, 5 Maret lalu, sungguh menyentak keluarga besar Ikatan Pemuda Karya (IPK), salah satu organisasi kemasyarakatan dan pemuda di Indonesia yang dibangun Olo Panggabean. Salah satu tokoh organisasi, Mangasi Sidabutar (43), yang selama ini paling disegani rekan satu organisasi maupun lawan-lawannya, tewas dengan kondisi sangat mengenaskan.

Mangasi yang menjabat Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPK di Kecamatan Medan Labuhan, juga Ketua II IPK Medan itu, ditemukan bersimbah darah di dalam sebuah gudang di Lingkungan VI, Pajak Rambe, Kelurahan Martubung, Kecamatan Medan Labuhan, Sumatera Utara (Sumut). Terlihat luka dalam di kepala bagian belakang. Tubuhnya pun penuh luka bekas bacokan dan tikaman.

Sebagian sulit mempercayai peristiwa itu terjadi, sebagian lagi menganggap kejadian itu sebagai takdir Mangasi. Kematian korban membuat situasi di Medan Labuhan mencekam di malam hari. Warga mengkhawatirkan bakal ada aksi balas dendam.

Tidak ada seorang warga pun berani keluar rumah. Yang terlihat hanyalah polisi berpakaian seragam berjaga-jaga. Sebagian lagi berpakaian preman, mondar-mandir di kawasan Medan Labuhan. Semua itu dilakukan agar tidak ada korban pelampiasan kemarahan rekan seorganisasi Mangasi. Bentrokan berdarah sempat diperkirakan akan terjadi di daerah tersebut.

Nama Mangasi Sidabutar tidak hanya dikenal di wilayah kecamatan, namun juga di wilayah Kota Medan hingga Sumut. Ia juga Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di Medan Labuhan.

Dia memang dikenal sebagai sosok pemberani. Dalam pertikaian antarorganisasi, dia selalu berada di gugus paling depan. Bukan hanya itu, dia pun dikenal sebagai sosok disegani, bahkan punya ilmu kebal. Dalam beberapa kali kejadian bentrok fisik, dia tak pernah terlihat terluka.

Direncanakan?

Pembantaian Mangasi diperkirakan sudah direncanakan. Sebelum kejadian, dia sempat menghadiri rapat organisasi. Seusai rapat, dia bergegas berangkat mengendarai mobilnya menuju gudang alat berat di Medan Labuhan. Ada orang yang menghubunginya, memintanya datang. Setiba di lokasi, dia dikepung dan diserang.

Mangasi sempat melawan, meski dengan tangan kosong. Satu jari tangannya nyaris putus saat berusaha menangkis sabetan kelewang. Dia terjatuh ketika serangan mengenai kepalanya. Tidak puas juga, pelaku menganiayanya bertubi-tubi, hingga tewas. Pelaku pun pergi.

Tewasnya Mangasi menggemparkan masyarakat. Sosok yang selama ini dikenal kebal senjata, kenyataannya dapat ditembus senjata tajam.

"Saya sudah pernah melihatnya bertikai melawan delapan orang menggunakan kelewang. Justru lawannya yang berlari- an dalam keadaan terluka. Tapi Mangasi tidak terluka sama sekali," ujar Iwan (36), warga Medan Labuhan.

"Semula saya tidak yakin mendengar kabar kematiannya. Namun saya yakin para pelaku lebih dulu mencari tahu kelemahan Mangasi," dia menambahkan.

Orang yang paling terpukul dan kehilangan atas tewasnya Mangasi adalah Maria boru Sianipar (36), istrinya. Dia menjerit histeris meratapi suaminya di lokasi pembantaian tersebut, "Apa salah dia? Kenapa ada orang yang tega berbuat ini kepadanya?"

Jenazah Mangasi pun dibawa polisi dari lokasi, untuk diproses visum et repertum di Rumah Sakit Umum Dr Pirngadi Medan. Tokoh-tokoh IPK melayat almarhum di rumah duka di Medan Labuhan.

Empat Tersangka

Malam hari setelah kejadian itu, polisi mengamankan empat tersangka otak pembunuhan. Menurut Kepala Kepolisian Kota Besar (Kapoltabes) Medan Kombes Pol Bambang Sukamto, keempat pelaku pembunuhan itu bernama Anggiat Simbolon, Rere Simbolon, Irfan Simbolon, dan Udin. "Selain mereka, ada seorang lagi tersangka yang terlibat dalam pembunuhan tersebut, yang sedang dikejar," katanya.

Kapoltabes menambahkan, latar belakang di balik pembantaian ini bukan akibat bentrokan antar-OKP. Dia memastikan kejadian itu diawali dendam lama, yang hanya kebetulan antara korban dan pelaku dari kelompok organisasi berbeda. Kapoltabes juga menampik pelaku penyerangan mencapai puluhan orang. "Sesuai pengakuan saksi yang melihat kejadian, pelaku hanya lima orang," katanya.

Sementara Anggiat Simbolon, saat ditemui sebelum diperiksa polisi membantah merencanakan pembunuhan tersebut. Kejadian itu di luar dugaan. Latar belakang persoalan karena masalah sepele. Anggiat menambahkan, Mangasi memaki saudaranya di dekat sebuah gedung yang sedang dibangun. Korban kembali memaki ketika mereka bertemu kembali di tempat kejadian.

"Mendengar makian itu, saya jadi emosi dan kehilangan kendali, lalu membantu saudara saya melawan Mangasi. Sebenarnya tidak ada niat kami membunuhnya. Kami sangat menyesal," kata Anggiat.

Kendati demikian, pengakuan Anggiat itu dianggap sebagai alasan saja. "Kami minta polisi bersikap tegas, mengusut di balik kematian rekan kami," ujar seorang anggota IPK.

Mangasi memang pernah berurusan dengan hukum. Polisi pernah menangkapnya dengan tuduhan terlibat pembunuhan Fendi Simangunsong, salah satu anggota OKP, tahun 2005. Simangunsong tewas mengenaskan, penuh dengan luka bekas bacokan dan tikaman. Saat itu, jabatan Kapoltabes Medan dipegang Kombes Pol Irawan Dahlan.

Namun, tuduhan polisi dianggap kurang beralasan. Saat kejadian itu Mangasi sedang menghadiri pesta acara adat keluarganya.

Tidak hanya itu, polisi juga menjeratnya atas kasus perusakan rumah. Peristiwa perusakan rumah yang melibatkan Mangasi terjadi sebelum kejadian pembunuhan Fendi Simangunsong. Namun saat di pengadilan, tuduhan atas Mangasi dianggap tidak memiliki bukti. Mangasi dibebaskan demi hukum. Meski begitu, dia tidak menuntut balik polisi maupun kejaksaan.

Tetapi, masyarakat merasa keberatan atas vonis bebas tersebut. Mereka melancarkan demo ke kantor kejaksaan dan pengadilan, menuntut Mangasi dihukum berat. Mereka juga melakukan aksi demo ke kantor polisi. Namun memang tidak ada alasan kuat yang dapat menjerat Mangasi saat itu. [SP/Arnold H Sianturi]


Last modified: 11/3/08