[WASHINGTON] Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) mengkritik rencana pembangunan ratusan permukiman baru Israel di wilayah timur Yerusalem. Pemerintahan Bush menyebutkan, rencana Israel untuk memperluas permukiman di wilayah yang sedang dipersengketakan dengan Palestina tidak membantu kemajuan perundingan damai Timur Tengah sebagaimana diupayakan AS selama ini.
Rencana perluasan permukiman yang diumumkan oleh Perdana Menteri Israel Ehud Olmert dibicarakan dalam pertemuan antara Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice dengan Menlu Israel Tzipi Livni, Senin (10/3).
Pada Minggu dan Senin, Israel mengumumkan rencana membangun 1.150 rumah di Yerusalem timur, serta 350 apartemen di Givat Zeev, sebuah permukiman Yahudi di Tepi Barat yang berada di luar Yerusalem.
Rice kepada para wartawan mengatakan, sangat penting bagi semua pihak untuk mempertahankan agar atmosfer tetap positif.
Kritik atas rencana Israel juga dilontarkan oleh UE. Dalam sebuah pernyataan, di Brussels, Senin (10/3), UE menyayangkan rencana Israel itu. UE menilai, hal itu menjadi ancaman bagi upaya perdamaian.
Kepala Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan UE Javier Solana mengatakan, UE tetap berkomitmen mendukung proses perdamaian Israel-Palestina meskipun letupan kekerasan di Gaza baru-baru ini telah membayang-bayangi keberhasilan upaya damai tersebut. Perjanjian damai akhir Israel-Palestina diharapkan dapat disepakati pada akhir 2008.
Dari Paris dilaporkan, desakan juga disampaikan oleh Presiden Prancis Nicolas Sarkozy agar Israel menghentikan pendudukan di Tepi Barat. Sarkozy, yang menyebut dirinya sebagai sahabat Israel, menegaskan Prancis akan tetap berada di sisi Israel. [AP/E-9]