alon Gubernur Bank Indonesia (BI), Raden Pardede, dicecar pertanyaan bertubi-tubi dari 18 anggota Komisi XI DPR, yang hadir dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test), di Gedung DPR, Senin (10/3).
Para anggota dewan memperdebatkan visi-misi yang dipaparkan Raden. Dia juga ditanya tentang keterlibatannya dalam kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2005, sampai alasannya mengapa percaya diri untuk diajukan sebagai calon gubernur BI.
Selama kurang lebih enam jam, Raden berada di Gedung DPR untuk menjalani fit and proper test. Acara yang sebelumnya dijadwalkan mulai pukul 10.00 WIB, namun molor sampai pukul 10.25.
Setelah rapat dibuka oleh Ketua Komisi XI, Awal Kusumah, Raden yang menggunakan setelan jas warna abu-abu, diberi kesempatan untuk memaparkan visi dan misinya setebal 25 halaman, selama 30 menit. Raden memberi tajuk "Bank Indonesia in Harmonia".
Dari 27 anggota Komisi XI yang hadir saat itu, dalam dua jam, 18 di antaranya mengajukan pertanyaan kepada Raden. Seusai makan siang, Raden diberi waktu untuk menjawab semua pertanyaan itu.
Raden tampak tenang. Bahkan, dia cukup tegas menjawab beberapa pertanyaan menyangkut kebijakan moneter yang sudah dijalankan BI selama ini, antara lain mengenai penentuan suku bunga terkait inflasi.
Jawaban yang disiapkan, sama sekali tidak berbentuk ketikan, melainkan coretan tulisan tangan di lembaran kertas ukuran HVS berwarna kuning. Jawaban tersebut, disiapkan sendiri oleh Raden tanpa bantuan staf, pada waktu rehat sekitar 30 menit.
Gusar
Satu-satunya pertanyaan yang membuat Raden terlihat gusar adalah menyangkut kebijakan subsidi BBM, yang sedikit disinggung dalam paparan visi dan misinya. Apalagi pertanyaan tersebut, juga dikaitkan dengan keterlibatannya dalam pengambilan keputusan ketika pemerintah menaikkan BBM pada 2005.
Dalam paparannya, dia mengungkapkan, hasil simulasi yang dibuat Depkeu menunjukkan, apabila harga minyak mencapai US$ 100 per barel, dengan tingkat produksi minyak sekarang ini, maka subsidi minyak dan energi serta pangan diperkirakan dapat mencapai Rp 250 triliun.
"Akibatnya, terjadi relokasi sumber daya dari sektor belanja, baik barang maupun investasi pemerintah, ke sektor subsidi yang tidak produktif. Pada akhirnya, akan berpengaruh terhadap pelambatan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja," jelasnya.
Pertanyaan yang semula diajukan anggota Komisi XI dari Fraksi PDI-P, Ramson Siagian itu, ternyata mendapat tambahan dari anggota DPR lainnya, seperti Drajad Wibowo dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), setelah mendengar penjelasan Raden.
Drajad menilai, pernyataan Raden justru akan berdampak atau menjadi kans negatif buat Raden sebagai calon Gubernur BI, karena seolah dia tidak mendukung subsidi untuk rakyat.
Namun Raden menjelaskan, masalah subsidi BBM dalam APBN adalah persoalan yang harus selalu menjadi pilihan sulit, namun harus dijawab apa adanya. "Jadi jangan sampai dipolitisasi," tukasnya.
Menjawab pertanyaan mengapa dia begitu percaya diri untuk maju sebagai calon gubernur BI, Raden menjawab, dia menghormati Presiden yang telah memilihnya. "Dalam sejarah hidup saya, kalau saya melakukan yang benar, saya tidak takut. Jadi, kalau saya ditantang memimpin BI untuk melakukan yang benar, saya juga tidak takut," ujarnya.
Seusai fit and proper test, Raden yang ditawany pers mengatakan, pertanyaan-pertanyaan anggota dewan cukup variatif dan mengandung intervensi. "Pertanyaan-pertanyaan itu cukup memaksa saya untuk berpikir dan memberikan pandangan-pandangan, baik dalam posisi sebagai ekonom maupun sebagai seseorang yang akan memimpin BI ke depan," katanya.
Sedangkan mengenai kansnya dalam proses pemilihan gubernur BI, Raden mengatakan, menyerahkan sepenuhnya pada keputusan DPR. "Soal keyakinan saya punya. Tapi, saya serahkan semua kepada keputusan akhir anggota dewan," ujar Raden. [J-9]