Suara pembaca dikirim melalui email opini@suarapembaruan.com atau Faks ke redaksi, disertai alamat lengkap dan fotocopy identitas yang masih berlaku
Dalam setiap pilkada semua berjanji untuk kesejahteraan rakyat. Semua peserta menebar janji pendidikan murah, berobat gratis, dan memberantas kemiskinan. Kenyataannya, janji tinggal janji, rakyat ditipu dengan janji-janji yang tak pernah terealisasi.
Akibatnya banyak protes dan aksi unjuk rasa menuntut janji-janji itu. Anehnya aksi dan unjuk rasa itu dibawa ke pusat dan diarahkan pada kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Masalah pendidikan misalnya, selalu yang diungkap anggaran 20 persen, padahal sejak awal pemerintah telah menyatakan bahwa anggaran negara belum memungkinkan memenuhi dana pendidikan 20 persen tersebut. Namun karena janji-janji para calon gubernur dan bupati yang kebablasan, Presiden ketiban pulungnya. Ketidakmampuan kepala daerah dalam menyelesaikan masalah selalu dibawa ke pusat.
Sementara menyangkut anggaran, para kepala daerah selalu bernafsu untuk meminta ke pusat. Ini membuktikan bahwa otonomi daerah menjadi ajang pemerasan elite daerah untuk kepentingan kekuasaannya.
Atas dasar itu, Presiden menyindir beberapa calon gubernur, calon bupati/wali kota yang banyak mengobral janji saat kampanye harus mewujudkannya ketika berkuasa. Isu masalah kemiskinan, kesehatan dan pendidikan yang sering menjadi tema kampanye harus betul-betul diwujudkan ketika yang bersangkutan benar-benar terpilih.
Kalau tidak sungguh-sungguh, nanti rakyatnya marah, marahnya ditujukan kepada pemerintah pusat. Lantas biasanya yang jadi sasaran adalah pemerintah pusat. Mereka akan menuduh bohong karena tidak menepati janji.
Oleh karena itulah, hati-hati dalam mengambil tema kampanye karena setiap tema kampanye adalah janji yang bila tidak ditepati akan terus menjadi utang yang harus dibayar untuk rakyat.
Dono Sadono
Jl Bangka Raya, Kemang Jakarta Selatan
Bermacam-macam makanan atau minuman yang dijajakan di sekolahan atau di pasar tradisional yang unik dan menarik karena warna-warni makanan atau minuman tersebut. Warna-warni makanan atau minuman menyimpan daya tarik, sehingga konsumen terutama anak-anak sekolah sangat menyukainya.
Kebanyakan makanan atau minuman tersebut mengandung bahan pewarna kimia yang sangat berbahaya bagi tubuh kita. Terbukti dari penelitian dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) terhadap sampel yang di ambil dari makanan yang dijajakan di sekolah dasar dan pasar-pasar tradisional seperti kerupuk, agar-agar, aromanis.
Penelitian itu membuktikan bahwa makanan tersebut mengandung Rhodamin B, bahan kimia sangat berbahaya. Jika mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung Rhodamin B dalam jumlah yang besar maupun berulang-ulang menyebabkan iritasi saluran pernapasan, iritasi kulit, iritasi pada mata, iritasi pada saluran pencernaan, keracunan, dan gangguan hati/liver.
Konsumen yang paling sering terkena adalah anak-anak usia sekolah. Hal ini perlu diwaspadai bagi ibu-ibu yang mempunyai anak usia sekolah agar lebih memperhatikan jajanan anak-anak di sekolah.
Ada beberapa tips bagi ibu-ibu untuk mencegah anak jajan sembarangan. Yaitu sarapan dan minum susu sebelum berangkat ke sekolah, membawa bekal dari rumah dan uang saku secukupnya. Semuanya untuk mencegah anak jajan sembarangan.
Selain itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan harus meningkatkan pengawasan terhadap makanan dan minuman yang beredar di sekolahan atau di pasar tradisional. Yang mengandung pewarna kimia buatan harus di tarik dari peredaran. Sekaligus memberikan edukasi kepada pedagang tentang bahaya menggunakan pewarna kimia.
Syafiq Hasan Futhuri
Jl Saimin No 41- 44 Pondok Albarkah, Banten