SUARA PEMBARUAN DAILY

TAJUK RENCANA I

Bulutangkis Harus Berbenah

Kejuaraan bulutangkis beregu Piala Thomas dan Uber diselenggarakan dua bulan lagi, 11-18 Mei. Indonesia menjadi tuan rumah dan Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, akan menjadi saksi bagaimana jago-jago dunia beraksi.

Empat tahun lalu di tempat yang sama, tim Thomas Indonesia gagal mempertahankan gelar juara yang telah digapai lima kali berturut-turut. Bahkan, pada 2004 itu tim Merah Putih gagal menembus final setelah dikalahkan Denmark. Negara dari Eropa ini mencatat sejarah baru, yakni untuk pertama kali menembus final. Sayang, di partai puncak mereka tidak mampu berbuat banyak saat bertemu dengan Tiongkok.

Tiongkok akan kembali tampil di Jakarta untuk mempertahankan gelar juara. Mampukah Indonesia merebut kembali Piala Thomas? Indonesia menargetkan masuk final dan menggapai gelar juara. Untuk putri, tim Piala Uber rasanya masih jauh dari harapan. Masuk ke semifinal sudah cukup baik.

Peluang untuk menjadi yang terbaik memang di Piala Thomas. Indonesia diuntungkan oleh tradisi kuat di cabang beregu ini. Sejak Piala Thomas digelar Indonesia menjadi negara yang paling banyak menuai gelar juara, 13 kali. Menjadi tuan rumah bisa menguntungkan, tetapi bisa pula sebaliknya. Adanya tekanan harus menang di hadapan pendukung sendiri akan membebani pemain. Contohnya dialami Simon Santoso empat tahun lalu. Saat itu usianya masih 19 tahun dan menjadi tunggal ketiga. Dia tampil grogi dan kalah sebagai penentu.

Di Piala Thomas, tunggal ketiga akan menjadi penentu karena pasti ditempatkan di partai terakhir. Empat partai sebelumnya adalah tunggal, ganda, tunggal, dan ganda lagi. Kini Simon akan kembali menjadi tunggal ketiga karena peringkatnya memang di bawah Sony Dwi Kuncoro dan Taufik Hidayat. Saat ini Simon tentu berbeda dengan empat tahun lalu. Ia telah menjadi pemain senior dan diharapkan tampil dalam kondisi terbaik. Pelatih Hendrawan sengaja tidak mengirimnya ke dua turnamen di Eropa, All England dan Swiss Terbuka, karena dipersiapkan bermain di Piala Thomas.

Kalau merunut ke belakang, regenerasi pemain juga tidak jalan dengan baik. Bandingkan dengan Tiongkok. Chen Jin, yang baru menjuarai All England, empat tahun lalu bukan andalan, karena saat itu masih ada Chen Hong. Di Jakarta nanti Chen Jin dapat dipastikan menjadi andalan utama bersama Lin Dan dan Bao Chunlai. Lihat Indonesia, empat tahun lalu hingga saat ini, andalan di tunggal putra masih sama.

Bila dalam empat tahun itu Indonesia melahirkan satu pemain hebat mungkin akan banyak pilihan di Piala Thomas nanti. Tunggal keempat saja hingga kini belum ada karena akan diseleksi terlebih dulu. Sebagai salah satu imbas gagalnya regenerasi adalah hasil buruk harus dialami pemain Indonesia di All England, yakni tak berhasil meraih gelar. Satu-satunya yang menembus final adalah ganda campuran (Nova Widianto/Liliyana Natsir). Namun, nomor ini tidak dipertandingkan di Piala Thomas dan Uber.

Nomor lain justru tak lagi menjanjikan. Tunggal putra, Sony dan Taufik, hanya sampai babak perempat final. Yang lebih parah, ganda putra. Duet nomor satu Indonesia, Hendra Setiawan/Markis Kido, bahkan takluk di babak pertama. Ganda kedua, Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto, hanya mampu menembus perempat final.

Hasil itu sungguh buruk apalagi di tengah persiapan menghadapi Piala Thomas dan Uber. Untuk itu, Pelatnas harus berbenah dan pelatih harus mengevaluasi mengapa hasilnya sangat mengecewakan.


Last modified: 11/3/08