SUARA PEMBARUAN DAILY

Badawi Diambil Sumpah

REUTERS/Beawiharta

Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi bersama istrinya Jeanne tiba di Istana Nasional, Kuala Lumpur untuk diambil sumpah untuk masa jabatan kedua, Senin (10/3).

[KUALA LUMPUR] Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi, diambil sumpahnya untuk periode kedua masa kepemimpinan selama lima tahun pada hari Senin (10/3). Pengambilan sumpah Badawi dilakukan di tengah meningkatnya desakan mundur setelah koalisi Barisan Nasional meraih hasil yang sangat memprihatinkan dalam pemilu Sabtu, sehingga mengguncang lanskap perpolitikan negara itu.

Badawi diambil sumpah pada pukul 11.10 waktu setempat pagi tadi di depan Raja Mizan Zainal Abidin, sebagai pemegang monarki konstitusional dan puluhan pejabat tinggi pemerintahan di ruang pelantikan yang bermandikan cahaya, di Istana Nasional. Pelantikan disiarkan langsung oleh televisi.

"Saya berjanji melaksanakan tugas-tugas saya secara jujur dan dengan segenap kemampuan saya," kata Badawi, membacakan sumpah. "Saya berjanji melindungi dan menjunjung tinggi Konstitusi," kata Badawi.

Badawi sebelumnya secara tegas juga telah menolak desakan mundur yang disuarakan sejumlah kalangan, setelah koalisi Barisan Nasional (BN) kehilangan kontrol atas lima negara bagian yang berhasil direbut secara mengejutkan oleh kubu oposisi dalam pemilu, Sabtu (8/3). Dengan peningkatan suara signifikan yang berhasil diperoleh, oposisi berhasil merebut sepertiga kursi di parlemen.

Badawi menghadapi ketidakpastian kepemimpinannya di masa-masa mendatang setelah BN mendapat hasil terburuk sepanjang sejarahnya dalam pemilu. Sejumlah pejabat senior koalisi kehilangan kursi di dewan perwakilan rakyat baik di tingkat negara bagian maupun federal. Badawi memastikan, BN berhasil mengamankan posisi mayoritas sederhana di parlemen yang terdiri dari 222 anggota. Namun, tidak ada alasan bagi diselenggarakannya perayaan atas kemenangan tersebut. Pasalnya, BN hanya memenangkan 140 kursi atau 63 persen dari konstituensi. Dengan demikian, BN kehilangan posisi dua pertiga mayoritas untuk pertama kalinya sejak 1969.

Aliansi oposisi yang terdiri dari tiga partai, yakni Partai Keadilan Rakyat, Partai Aksi Demokratis, dan Partai Islam Pan-Malaysia berhasil meraup 82 kursi. Sebelumnya, oposisi hanya punya 19 kursi di parlemen.

Pemungutan suara yang dilakukan secara simultan untuk mengisi kursi anggota parlemen di 12 negara bagian berujung pada hilangnya kendali BN di majelis di Penang bagian utara, satu-satunya negara bagian yang mayoritas penduduknya adalah etnis Tionghoa. BN juga kehilangan kendali atas Selangor, Kedah, dan Perak, serta Kelantan yang direbut oposisi.

Para pemimpin koalisi kemarin melakukan serangkaian pertemuan untuk membahas langkah ke depan yang harus ditempuh. Tetapi, mereka sepakat untuk tetap memperlihatkan sikap bersatu.

"Tidak ada keraguan ataupun pertanyaan sama sekali di jajaran petinggi partai bahwa Badawi perlu mundur," kata Wakil Menteri Informasi Malaysia Ahmad Zahid Hamidi.

Era Baru

Amerika Serikat (AS) tetap menyuarakan kesiapan untuk meningkatkan kerja sama erat dengan pemerintah saat ini. AS menilai, Badawi tetap seorang mitra yang giat dan penuh semangat.

"Kami telah melihat hasil pemilu dan kami ingin menjalin kerja sama erat dengan pemerintahan PM Abdullah pada berbagai bidang kepentingan bersama," ungkap Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Kurtis Cooper.

"Ini momen yang sangat menentukan, sejarah bangsa kita yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya," kata pemimpin oposisi Anwar Ibrahim.

"Rakyat telah memilih dengan tegas untuk sebuah era baru di mana pemerintah harus benar-benar inklusif dan mengakui seluruh warga Malaysia tanpa membeda-bedakan ras, warna kulit, budaya, agama, di mana semuanya adalah satu bangsa," kata Anwar. [AP/AFP/Bernama/E-9]


Last modified: 10/3/08