SUARA PEMBARUAN DAILY

Heboh Susu Formula

Dok SP

Kabarsusu formula yang terkontaminasi oleh bakteri "E sakazakii" cukup meresahkan ibu rumah tangga. Bakteri tersebut menghasilkan enterotoksin tahan panas dan menyebabkan enteritis (mencret), sepsis (kejang) dan meningitis (radang otak) pada bayi.

Pemberitaan yang simpang-siur tentang baik atau tidaknya susu formula membuat warga masyarakat resah. Ada yang mengaku waswas, meski tidak sampai menyetop anaknya minum susu.

** missed drop char **Saya sudah dengar seputar masalah kuman yang ada di susu dari teman-teman. Sebenarnya itu bagaimana? Kok ada yang bilang bisa diminum, ada juga yang tidak," kata Wita, ibu satu putra yang bekerja di perusahaan rekaman terkenal di Jakarta kepada SP, Kamis (6/3).

Wita khawatir, sebab putranya Langit (8 bulan) mengkonsumsi susu formula sejak usia 3 bulan. Sebulan bisa menghabiskan tujuh kaleng, atau enam kilo. "Jelas khawatir. Sebagai orangtua, saya tidak ingin anak saya menderita penyakit karena mengonsumsi susu yang ada penyakitnya. Maklum, produksi ASI ibunya kurang bagus. Kalo gak konsumsi susu, mau dikasih apa lagi?," tutur Wita.

Dia mengaku, di awal menggunakan susu formula anaknya sempat mengalami gejala buang-buang air berwarna hijau mirip seperti gejala terkena bakteri E sakazakii. Tetapi setelah diperiksa, menurut dokter anaknya kelebihan zat besi. "Jadi, selama belum ada gejala yang benar, saya tidak akan ganti-ganti susu dulu. Nanti malah salah diagnosisnya. Ngeri ah," tukasnya.

Seperti diketahui, susu formula yang diteliti tim IPB tersebut merupakan produk yang beredar April-Juni 2006. Hanya saja, setelah melakukan penelitian secara intensif, tim dengan ketua dr Sri Estuningsih dan bergabung drh Hernomoadi Huminto MVS, dr I Wayan T Wibawan dan dr Rochman Naim menyimpulkan di Indonesia terdapat susu formula dan makanan bayi yang terkontaminasi oleh E sakazakii yang menghasilkan enterotoksin tahan panas dan menyebabkan enteritis (mencret), sepsis (kejang) dan meningitis (radang otak) pada bayi.

Kekhawatiran yang sama juga dialami penyanyi Rossa. Hanya saja kepada SP dia mengaku belum mengganti susu formula untuk putranya Rizky Langit Ramadhan (2 tahun, 4 bulan). "Soalnya saya sudah memberi dia ASI selama enam bulan. Jadi, percaya kalau antibodinya cukup kuat," kata penyanyi yang saat dihubungi sedang tampil di Bandung.

Selain itu Rossa punya jurus berhati-hati. "Setiap membeli susu saya lebih memperhatikan kaleng susu yang bagus sehingga tidak terkontimanasi bakteri dan juga tanggal kedaluwarsanya. Dan jangan lupa baca bismillah," ucapnya lagi.

Itu tadi gambaran kekhawatiran yang dialami para ibu. Kekhawatiran itu wajar karena informasi yang beredar tentang susu formula yang tercemar, muncul sepotong-sepotong. Ini tentu bukan salah media massa yang memberitakannya. Karena media massa hanya meng-updating berita. Dalam hal ini, pemerintah yang lebih banyak memegang peranan karena tidak segera memberikan pernyataan yang menenangkan masyarakat. Bahkan yang terjadi, sempat terjadi polemik antara Menteri Kesehatan dan pihak IPB perihal penelitian tersebut.

Situs jurnalisme warga Wikimu juga memuat seruan warga ter- utama ibu-ibu. Mereka umumnya menyerukan meminta informasi yang benar yang bisa dijadikan panduan mereka dalam membeli susu formula. "Pemerintah harus segera memberi pernyataan yang komprehensif dan jelas perihal susu formula ini. Jangan sampai kasusnya nanti seperti formalin. Informasi tentang formalin juga simpang siur, sepotong-sepotong dan masyarakat telanjur heboh," tulis Retno di situs jurnalisme warga itu.

AP/Xinhua, Enwaer

Setelah agak besar, bayi juga mulai mengonsumsi makanan padat.

Simpang-siur

Simpang siur pemberitaan susu bermasalah cukup meresahkan masyarakat. Masalah ini mengundang tanggapan dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Don Bosco Salamun anggota KPI mengatakan, media massa turut andil dalam meresahkan masyarakat. Bahkan ada pemberitaan yang dinilai terkesan nimbrung.

"Pemberitaan media massa punya andil untuk meresahkan . Saya tidak mengatakan pemberitaan ini salah tapi prosedur pemberitaannya harus lebih teliti lagi. Sebab jika tidak bisa memberikan kepastian kepada masyarakat akan membawa dampak damage," kata Don Bosco saat dihubungi SP, Kamis (6/3) di Jakarta.

Menurut pria yang pengalaman mengelola sejumlah media televisi itu, dalam hal ini pemberitaan media massa harus seimbang dalam memberikan informasi. Ketika ada laporan dari IPB, maka harus ada konfirmasi dari pihak lain yang terkait seperti pemerintah, Badan POM, dan juga termasuk hasil uji penelitian lain sebagai perbandingan. "Persoalannya di saya merasa proses cek dan ricek media dalam hal ini telat, atau tidak proporsional. Bahkan ada pemberitaan yang kelasnya berita nimbrung, sehingga masyarakat tidak memperoleh informasi yang tepat dan akurat. Kredibilitas media dalam hal ini dipertaruhkan," ungkap koordinator bidang perizinan KPI itu.

Hanya saja, menurutnya tidak ada tindakan hukum akan pemberitaan yang simpang-siur seperti ini, sehingga akhirnya, dia berharap masalah ini akan jelas lewat turun tangganya pemerintah. "Pemerintah yang harus memberikan keyakinan kepada masyarakat apa sesungguhnya yang terjadi dan tindakan apa yang harus dilakukan. Masyarakat berhak tahu kebenaran yang sesungguhnya," katanya lagi.

Sementara itu, anggota Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Soedaryatmo, mengatakan, tim peneliti IPB harus membuka hasil penelitian secara lengkap dan menyebutkan nama produk-produk yang tercemar bakteri. Keterbukaan ini sangat penting, agar masyarakat tidak resah.

Terkait dengan bakteri yang disebut terdapat dalam susu formula, Kepala Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB), Rizal Syarief menyatakan, sebenarnya bakteri E sakazakii akan mati pada temperatur 70 derajat Celsius. Namun, dia juga mengingatkan agar bayi yang baru usia 0-6 bulan, sebaiknya diberi air susu ibu (ASI).

Menurutnya, ketika bayi berusia enam bulan ke atas, imunitasnya sudah lebih tinggi terhadap bakteri sakazakii tersebut. Karena itu, susu formula yang mengandung bakteri sakazakii, tak akan berbahaya lagi. Berkaitan dengan cemaran bakteri dalam susu formula itu, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) membuka posko pengaduan melalui hotline service 021-87791818 dan posko layanan anak 021-8416159. [RPS/HR/126/E-7/W-10]


Last modified: 6/3/08