
ardjo Soebiandono yang lulus menjadi dokter bedah di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, ini tak membayangkan akan menjadi orang terkenal seperti selebriti. Ketika merawat mantan Presiden Soeharto, Januari 2008, wajahnya selalu tampil di semua televisi, disaksikan puluhan juta pemirsa, bahkan sampai ke mancanegara.
Setiap saat dia harus menjelaskan kondisi kesehatan Pak Harto. Sosoknya juga terpampang di banyak media massa cetak, sehingga tak asing bagi masyarakat. "Teman saya bertambah banyak. Saya pernah nyasar di suatu jalan, kemudian bertanya ke tukang sampah, dia ternyata mengenali saya sebagai dokter TDK, malah senyum-senyum dan menanyakan kondisi Pak Harto. Pernah juga saya makan batagor di pinggir jalan, pengunjungnya mengenali saya, kemudian semuanya menanyakan kesehatan Pak Harto. Saya jadi seperti selebriti. Terpaksa sekarang harus jaga image," tuturnya sambil tertawa.
Ayah dua putra kembar dan seorang putri ini lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 1 September 1949. Dia mengaku bukan dari keluarga dokter, tapi militer. Ayahnya pernah menjadi panglima daerah militer (pangdam), seorang adiknya juga menjadi pangdam. Mardjo bercita- cita menjadi pilot tapi malah masuk Fakultas Kedokteran (FK) Unpad, dan masuk wajib militer (wamil). Satu putranya baru lulus FK Unpad, dan putrinya sedang praktik dokter, menantunya juga seorang dokter. Dia pernah menjadi direktur RSPAD, dan saat ini menjadi Presiden Direktur PT Pertamina Bina Medika yang membawahi enam rumah sakit Pertamina di Jakarta dan daerah. Walaupun pernah ditugaskan ke Timor Timur pada awal pergolakan, dan ke beberapa negara yang sedang berperang, Mardjo tak terkesan militan. Namun, dia tetap bertindak tegas terhadap anak buahnya.
Istrinya, Nina, sudah terbiasa dengan pola kerja suaminya. Pada 1993, Mardjo ditugaskan ke Bosnia, tergabung dalam Kontingen Indonesia Garuda XIV A, di Batalyon Kesehatan. Ada pengalaman selama di Bosnia. Kontingen Garuda menerapkan sistem teritorial atau disebut juga "ngeter".
"Kami mengobati warga Bosnia, Krosia, dan Serbia. Kegiatan ini dilarang PBB, sebab yang boleh mengobati pengungsi hanya UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees). TNI yang sudah terbiasa "ngeter" dan melakukan pendekatan dengan rakyat, seperti bakti sosial dan pengobatan massal, tetap masuk ke rumah sakit-rumah sakit di semua wilayah di kawasan itu. Semua pasien diobati dan dirawat tanpa melihat asal-usulnya, termasuk komandan kompi Serbia yang sakit TBC akut. Komandan inilah yang kemudian melindungi dan membuka jalan bagi pasukan Indonesia untuk bergerak dengan rasa aman dan damai," tuturnya.
Sistem pengobatan yang biasa diberikan kepada masyarakat di Indonesia itu, kemudian dipakai oleh seluruh komandan sektor di kawasan tersebut. "Setelah itu, semua ba- talyon yang ada di sana disuruh meniru batalyon Indonesia, mengobati warga tanpa melihat dari mana asal mereka," paparnya. Penggemar olahraga lari dan sepakbola ini masih aktif membaca buku dan jurnal ilmiah. Dia juga masih praktik operasi bedah, yakni Selasa dan Kamis di RSPAD, Senin dan Rabu di poliklinik. Menurutnya, pangkat boleh hilang, namun selama dikaruniai kesehatan, praktik dokter bedah jangan sampai hilang. [AMT/W-12/S-26]