
Masyarakat pemerhati otomotif Indonesia mungkin masih ingat, sekitar 5-6 tahun lalu, pamor Daihatsu di Indonesia tak lebih dari mobil kelas dua. Masyarakat lebih menyukai Toyota, Honda, Suzuki, ataupun Mitsubishi sebagai mobil pilihan mereka. Bahkan dibanding Isuzu yang hanya menjual mobil-mobil bermesin diesel, penjualan Daihatsu tetap saja kalah.
amun perlahan tapi pasti, Daihatsu melaju dan mampu menyejajarkan diri dari kwartet Jepang penguasa pasar mobil Indonesia itu. Puncaknya di tahun 2007 lalu di mana Daihatsu mampu menembus posisi tiga besar untuk kategori mobil penumpang dibawah Toyota dan Suzuki. Total penjualannya hampir 52.000 unit.
Bahkan secara produksi, Daihatsu boleh menahbiskan diri sebagai peringkat dua dengan total produksi mencapai 114.000 unit. Sebagai bagian dari Toyota Motor Corporation, sebagian produksi ADM memang diberi label Toyota seperti Avanza dan Rush.
Rahasia sukses Daihatsu menurut pengamat otomotif Rudi Kurniadi, berkat kolaborasi apik antara lini produksi di bawah supervisi TMC dan lini penjualan sebagai bagian dari raksasa bisnis kelompok Astra. Dari sisi produksi, Astra Daihatsu Motor (ADM) mereposisi diri dengan mengeluarkan produk-produk yang diminati publik.
"Mereka tak lagi kaku dan menuruti kemauan pasar dengan desain-desain mobil-mobil yang disukai masyarakat kita," ujar Rudi.
Gebrakan Xenia yang disusul Terios menurut Rudi membuat Daihatsu mulai dilirik masyarakat yang menginginkan mobil-mobil dengan harga terjangkau, irit, tapi mampu memuat banyak penumpang. Rudi melihat kepemimpinan Wakil Presiden ADM, Sudirman MR, sebagai salah satu kuncu sukses lini produksi.
Sementara itu, dari sisi pemasaran, para punggawa Astra yang diterjunkan untuk membenahi penjualan Daihatsu mampu memenuhi harapan para petinggi Astra. Era kepemimpinan Johannes Loman yang diteruskan Suparno Djasmin menurut ahli pemasaran Adrie Wongso mampu mengubah persepsi publik terhadap Daihatsu dari mobil kelas dua menjadi sejajar dengan Toyota ataupun Honda. Tiga hal yang dibenahi manajemen Astra Internasional Daihatsu Sales Operation (AI DSO) untuk membuat Daihatsu naik kelas, ujar Wongso. Pertama, mengubah persepsi publik tentang kualitas mobil Daihatsu, kedua memperluas jaringan pemasaran, ketiga memperbaiki kualitas layanan bengkel termasuk layanan servis cepat.
Seperti diakui Direktur Pemasaran ADM, Suparno Djasmin, pihaknya hingga saat ini telah melebarkan sayap pemasarannya dengan 157 gerai di seluruh Indonesia. Perbaikan jaringan pemasaran ini juga dibarengi dengan peningkatan kualitas showroom, bengkel, pengadaan spare part siaga dan kualitas sumber daya manusianya.
Di Bawah Rp 150 Juta
Saat SP mewawancarai Sudirman dan Suparno mengenai rahasia sukses penjualan Daihatsu, keduanya kompak mengatakan sejak awal mereka fokus menggarap segmen kendaraan di bawah Rp 150 juta. Langkah ini dibuktikan dengan pesatnya penjualan tahun 2007 yang sebagian besar disumbang model Xenia. Selama 2007, jenis kendaraan multi purpose vehicle (MPV) Xenia rata-rata terjual sebanyak 2.500 unit setiap bulan. "Sejak diluncurkan, penjualan mobil MPV seperti Xenia atau Avanza memang cukup tinggi," ungkap Sudirman. Menurut dia, pesatnya penjualan jenis MPV disebabkan masyarakat Indonesia lebih menyukai mobil berpenumpang banyak dengan harga terjangkau.
Ia meyakini dalam beberapa tahun ke depan pasar otomotif nasional akan tetap didominasi mobil di bawah Rp 150 juta sesuai dengan daya beli masyarakat. Oleh sebab itu, lanjutnya, ADM akan berkonsentrasi di segmen ini melalui model kendaraan yang dapat diterima dan memenuhi keinginan konsumen. Meski demikian, untuk tahun depan ADM tidak akan mengeluarkan model baru di segmen ini.
"Yang kami lakukan adalah inovasi teknologi, misalnya dengan terus melakukan efisiensi bahan bakar minyak (BM) pada mesin mobil, selain terus mengembangkan teknologi mesin mobil yang ramah lingkungan," tutur Sudirman.
Mengenai prospek Daihatsu di tahun 2008, Sudirman pihaknya mampu memperoleh penghasilan hingga Rp 17 triliun atau tumbuh signifikan dibanding tahun lalu yang hanya 13 trilyun. Optimisme pencapaian target tahun ini dipicu oleh kapasitas produksi yang telah meningkat dari tahun lalu sebesar 114.000 unit menjadi 211.000 unit.
"Semakin meningkatnya produksi dan tambahan jenis baru meyakinkan kami target bisa dicapai," ujar Wakil Presiden ADM, Sudirman MR. Tahun lalu, penjualan dari 151.000 unit yang diproduksi baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor mampu menyumbang pendapatan Rp 13 triliun. Dengan total produksi tahun ini yang ditargetkan mencapai 211.000 unit,maka totalpendapatan yang ditargetkan mencapai Rp 17 triliun, ujarnya.
Tahun ini ADM memang sangat mengandalkan ekspor di samping penjualan dalam negeri yang juga terus meningkat. Setiap tahun ditargetkan 30.000 unit kendaraan terdiri dari Xenia, Gran Max, dan Terios di eskpor ke negara Asia, Timur Tengah, dan Amerika Latin, ujar Sudirman.
Sementara itu, Suparno mematok target penjualan mobil Daihatsu di Indonesia sebanyak 87.500 unit, atau lebih besar dari penjualan tahun 2007 sebesar 51.957 unit. Target tersebut setara dengan 17 persen pangsa pasar mobil nasional yang diperkirakan akan menembus 500 ribu unit tahun ini. Namun, agaknya perlu kerja keras dan kreativitas tak kenal lelah untuk mencapai target tersebut. Pasalnya persaingan di tahun 2008 diprediksi bakal lebih sengit dari tahun 2007. Kita tunggu saja gebrakan mereka. [L-11]