SUARA PEMBARUAN DAILY

Sosok

Stoner, "The Most Wanted"

Casey Stoner

Satu tahun lalu di bulan Maret, pembalap muda Australia, Casey Stoner tiba di Sirkuit Losail, Qatar, tempat seri perdana kejuaraan dunia balap motor MotoGP, tanpa banyak publikasi. Dia baru saja bergabung dengan tim pabrikan motor Italia, Ducati. That's it. Hanya itu berita mengenai pemuda dari Kurri-kurri, New South Wales ini yang banyak dilansir media.

Rata-rata publikasi mengenai MotoGP, terfokus pada persiapan juara dunia lima kali, Valentino Rossi (Fiat Yamaha) dengan rival terberatnya, pembalap tim Honda Repsol, juara dunia 2006, Nicky Hayden dan rekan setimnya Dani Pedrosa.

Bahkan publikasi cenderung lebih tertuju pada Pedrosa. Maklum saja, pembalap Spanyol bertubuh 160-an centimeter itu diyakini mampu menjadi juara dunia baru dengan turunnya kapasitas mesin motor MotoGP dari 990 cc menjadi 800 cc. Pacuan menjadi lebih ringan bobotnya, dan sangat cocok untuk ditunggangi pembalap bertubuh kecil ketimbang pembalap-pembalap bertubuh besar seperti Hayden.

Apalagi pada musim pertamanya di MotoGP (2006), Stoner kerap terjatuh dari tunggangan motornya saat bergabung bersama tim Honda LCR. Prestasi terbaik pemuda berwajah anak-anak (boyish) itu adalah runner-up Grand Prix Turki. Namun kehadiran Stoner sudah dipantau oleh Rossi. Dia meramalkan ada dua pembalap muda bertalenta yang dijuluki the young guns yang patut diwaspadai. Pertama Pedrosa, dan kedua Stoner. Pada akhirnya Rossi meralat ucapannya itu, dengan menempatkan Stoner di posisi pertama.

Seperti yang diprediksikan, ternyata putra dari Colin Stoner itu tampil cemerlang dengan menjadi juara dunia 2007. Kini perhatian banyak orang tertuju kepadanya, saat musim lomba 2008 dimulai dengan balapan malam hari di Qatar, Minggu (9/3) ini. Kehadirannya kembali ke Qatar pada awal Maret lalu, tak pernah luput dari perhatian media. Dia juga kini menjadi sasaran target semua pembalap MotoGP untuk ditaklukkan.

Dan, Stoner tampaknya sadar dia menjadi the most wanted rider di arena MotoGP. Dia merupakan pembalap yang cerdas, dan mengerti apa yang hendak dilakukan dan konsekuensinya. Stoner sadar untuk menjadi seorang juara dunia, tak mungkin dia bergabung dengan sebuah tim satelit seperti Honda LCR. Sebab perhatian utama pabrikan motor tentu kepada tim intinya dan bukannya pembalap tim lapis kedua.

Karena itu, setelah setahun bersama LCR, dia memutuskan pindah mengejar impiannya menjadi juara dunia, dan bergabung dengan tim pabrikan. Stoner sempat nyaris dipinang tim Yamaha. Hanya saja belum pasti jika dia bergabung dengan tim pabrikan berlambang garpu tala itu, dia akan menjadi pembalap tim inti atau tim kedua. Pada akhirnya dia menerima pinangan tim Ducati, yang berjanji menempatkannya sebagai pembalap tim inti.

Stoner tampil mencengangkan banyak pihak. Tidak hanya kehebatan motor Ducati Desmosedici yang menakutkan dengan kecepatan tak tertandingi lawan-lawannya di lintasan lurus, tetapi juga kepiawaian Stoner dalam menunggangi motor tersebut. Tak pernah sekalipun dia terjatuh atau mengalami insiden berat pada balapan di musim lomba 2007. Setiap seri yang dilaluinya selalu menghasilkan poin.

"Stoner semakin baik penampilannya. Apalagi dia memiliki sikap yang membumi. Sukses yang sudah diraihnya sebagai juara dunia, tak pernah memupus hasratnya untuk terus meraih kemenangan," puji pemimpin tim Ducati, Livio Supo.

Bekal itu yang dibawa Stoner untuk kembali merajai MotoGP 2008. [Berbagai Sumber/L-9]


Last modified: 6/3/08