SUARA PEMBARUAN DAILY

Sheryl Crow

Menyerap Penderitaan Hidup

apSheryl Crow

Pengalaman hidup merupakan guru sekaligus sumber inspirasi dalam ber- karya. Setiap pengalaman susah atau senang pasti memiliki makna. Seorang Sheryl Crow bahkan memetik nilai positif dari setiap penderitaan hidup.

Sebagai penyanyi tenar, Sheryl Crow bukan selalu hidup senang. Dia adalah manusia biasa yang juga mengalami peristiwa menyedihkan dalam hidupnya. Selama tiga tahun terakhir, kehidupan Crow bermasalah. Mimpi indah pertunangan Crow dengan pembalap sepeda, Lance Amstrong ternyata bubar di tengah jalan. Lebih buruk lagi, dia divonis mengidap kanker payudara.

Sheryl Crow, penyanyi kenamaan asal Kennett Missouri, Amerika Serikat, itu sempat putus asa. Pukulan hidup yang dialami Crow memang berat dan bertubi. Namun, dia bukan tipe perempuan cengeng yang meratapi derita. Setelah vakum cukup panjang, Crow mencoba untuk bangkit.

Awal Februari 2008, Ia kembali menelurkan album keenam berjudul Detours berisi 24 tembang. Semua lagu dalam album ini memiliki makna khusus. Barisan lirik lagu merupakan rangkaian perjalanan hidup Crow selama tiga tahun dalam penderitaannya.

Kampung halaman Nasville menjadi tempat pilihan untuk merekam 24 tembang terbaru dalam waktu 40 hari. Single pertama dalam album Detours, yakni Shine Over Babylon bahkan sudah selesai dirilis. Tembang tersebut bercerita tentang perjuangan dirinya melawan ketakutan dan kesedihan.

"Mungkin saja lagu ini bisa menjadi lagu perjuangan bagi orang yang mendengarkan. Jadi, melalui pengalaman hidup saya, orang lain bisa juga memetik maknanya," ujar Crow seperti yang dikutip AP.

Tema-tema yang diangkat Crow dalam album Detours tidak luput dari pengalaman pahitnya. Simak saja, tembang Make It Go Away yang mengisahkan perjuangan melawan kanker payudara. Tembang Lullaby for Wyatt menggambarkan kecintaan Crow pada anak angkatnya, Wyatt, yang kini menginjak usia sembilan bulan.

Bagi Crow, Wyatt mengajarkan banyak hal akan ketulusan cinta. Bahkan di kala penderitaan merudung, Wyatt seolah hadir membawa harapan dan semangat baru untuk bangkit.

"Ia menjadi obat penenang di kala rasa takut menghampiri," ungkap Crow.

Sumber inspirasi lain yang juga dilukiskannya dalam album kebangkitan ini tak lain adalah Lance Amstrong, sang mantan tunangan. Diamond Ring merupakan judul yang dipilih untuk menggambarkan makna sebentuk cincin berlian dalam hubungan kekasih. Tetapi makna romantis tidak berlaku buat Crow yang sudah tiga kali kandas menjalin hubungan asmara.

"Berlian mungkin sesuatu yang indah untuk dikenakan, tetapi sayangnya benda itu tidak berarti apa-apa bagiku," katanya dingin.

Kritik

Detours tidak melulu hanya menceritakan pengalaman hidup, Crow juga dikenal sebagai penyanyi yang berani mengkritik masalah politik dan sosial di AS.

Selama tujuh tahun pemerintahan Bush, Crow merasa masyarakat AS sudah menyimpang dari tujuan dasarnya. Melalui lagu God Bless This Mess, dia mengkritik Bush. Lagu lain yang juga ungkapan kondisi dunia tertuang dalam Shine Over Babylon dan Peace Upon Us. Dua lagu itu menceritakan pemahaman budaya. Sementara lagu tentang keguncangan dunia karena kelangkaan bahan bakar yang diprediksi terjadi di 2017 dituangkan dalam Gasoline. Bahkan Crow juga menggambarkan kisah menyedihkan korban bencana banjir di New Orleans yang tertuang dalam lagu Love is Free.

Lirik lagu yang kental akan kritikan merupakan ciri khas dari wanita berusia 46 tahun pada 11 Februari lalu. Bisa dibilang semua album yang dikeluarkannya sarat dengan kritik, baik itu pada kehidupan pribadi, sosial, politik, dan budaya. Enam album berhasil dikeluarkan Crow yakni Tuesday Night Music Club (1993), Sheryl Crow (1996), Globe Session (1998), C'mon C'mon (2002), Wildflower (2005), dan terakhir Deutors (2008).

Kilas balik ke awal tahun 90-an, lagu All I Wanna Do dan D'yer Maker yang membuat nama Crow melambung di dunia musik. Setelah itulah album yang ditelurkannya diburu pencinta musik. Bahkan lagu yang berjudul Tommorow Never Dies terpilih menjadi soundtrack film James Bond. Lagu lain yang juga menjadi hit yakni Soak Up The Sun, The First Cut Is The Deepest, dan If It Makes You Happy.

Wanita yang lahir di tengah keluarga harmonis ini dikenal sebagai pemusik yang mampu mencampur berbagai elemen musik, seperti rock, blues, serta folk.

Kepiawaian Crow memainkan alat musik mulai terlihat sejak ia berumur enam tahun. Saat itu, ia jatuh cinta pada piano, bahkan pada usia 13 tahun, Crow mulai mencipta lagu. [EAS/U-5]


Last modified: 6/3/08