SUARA PEMBARUAN DAILY

Memimpin Bersama Mentor

REUTERS/RIA Novosti/Kremlin

Presiden terpilih Dmitry Medvedev (kanan) diperkirakan akan mempertahankan kebijakan sang mentor, Vladimir Putin. Keduanya tampil dan berbicara kepada penonton konser di Moskwa, Minggu (2/3).

Suhu yang menggigit di Moskwa pada Minggu (2/3) malam, tetap terasa nyaman bagi Presiden Rusia Vladimir Putin dan Dmitri Medvedev. Keduanya berjalan beriring memasuki panggung konser musik rock di Lapangan Merah. "Kendati hujan salju berderai membuat udara jadi dingin, tetapi hari ini sangat berarti bagi kehidupan Rusia," kata Medvedev yang mengenakan jaket kulit dan celana jin biru.

Medvedev dari Partai Rusia Bersatu tampil sebagai pemenang dalam pemilu yang baru saja berlangsung. Ia meraih porsi terbanyak dengan 70 persen suara. Lelaki asal St Petersburg ini mengalahkan pesaing-pesaingnya dari Partai Komunis Gennadi Zyuganov yang meraih 18 persen dan Vladimir Zhirinovsky dari Partai Demokrat Liberal yang meraup sembilan persen suara.

Namun, kemenangannya banyak dipertanyakan. Sejumlah pihak menilai pemilu Rusia tidak memenuhi standar-standar internasional. Uni Eropa menyesalkan bahwa proses pemilu tidak membuka peluang untuk persaingan yang sejati.

Sejak awal tuduhan kecurangan sudah merebak. Pada pemilu parlemen 2 Desember 2007, sejumlah lembaga pemantau pemilu dan kelompok oposisi Rusia menuduh pemerintah memanipulasi suara sehingga Partai Rusia Bersatu, yang berafiliasi ke Presiden Putin, bisa menang telak, dengan 70 persen kursi di parlemen. Dengan demikian calon yang dijagokan bisa menang.

Partai Komunis, Liberal, dan pemantau-pemantau asing menjuluki sebagai pemilu tidak jujur. Salah satu oposan politik yang juga mantan juara catur dunia, Garry Kasparov, menyebut pemilu Desember maupun Maret ini paling kotor dalam sejarah Rusia moderen.

Disiapkan Jauh

Naiknya Medvedev memang tidak lepas dari berbagai manuver dalam pemilu. Sejak awal, Putin sudah menyiapkan Medvedev untuk memimpin Kremlin. Putin yang habis masa jabatannya tahun ini, berusaha untuk tetap berperan di panggung kekuasaan. Namun, untuk mencalonkan diri lagi tidak mungkin karena Konstitusi Rusia menetapkan jabatan presiden hanya dua periode. Karena itu Putin harus melepas kursi kepresidenannya. Pilihan yang dicarinya adalah duduk di kursi perdana menteri. Niat Putin untuk tetap berkuasa tersirat sejak awal 2007, ketika ia menyatakan akan berusaha mendapati kursi PM setelah masa kepresidenannya selesai.

Kemenangan Medvedev (42) merupakan titik klimaks dari upaya Putin untuk mengonsolidasikan kendali pemerintahan, bisnis dan media.

Medvedev sendiri telah meminta Putin untuk menjadi PM. "Hubungan kami yang terjalin lama akan menjadi faktor positif bagi kemajuan bangsa ini," timpal Medvedev yang dikutip International Herald Tribune, Selasa (4/3).

Menurut Medvedev, Putin banyak berjasa bagi pembangunan Rusia. Di bawah Putin Rusia meraih kembali tempatnya yang pantas di panggung dunia. "Rusia telah tampil beda, lebih kokoh dan lebih sejahtera. Orang tidak lagi berusaha mengatur kami seperti anak sekolah. Mereka menghormati kami," tegasnya.

Bagi sebagian rakyat pun Putin dipandang telah mengangkat nama Rusia dan memulihkan kebanggaan nasional. Ia dinilai berhasil membangun Rusia mengatasi kemiskinan dan ketidakpastian pada 1990-an. "Kami tidak mengenal kandidat lain sehingga tidak tahu ke mana kami akan dibawa," komentar Raisa Tretyakova, pensiunan berusia 61 tahun yang ikut memilih.

Pembagian Kekuasaan

Untuk tetap memberi tempat bagi Putin maka pembagian kekuasaan diatur sedemikian rupa. Medvedev akan duduk di Kremlin sebagai presiden ketiga yang memegang rantai komando, menjadi figur bangsa dan ikon Rusia di dunia luar. Sementara Putin menjabat PM yang memimpin kabinet termasuk memanajemen ekonomi.

Pola pembagian kekuasaan ini banyak dipertanyakan masyarakat internasional. Belum pernah Rusia nyaman dengan dua tsar di waktu yang sama karena hal itu berarti tiap pemimpin memiliki timnya sendiri, basis kekuasaan dan jangkauan pengaruh. Ini berarti pertarungan kekuasaaan yang bisa mengarah ke konfrontasi.

Situasi ini mengkhawatirkan banyak negara terutama Eropa dan AS. Di bawah kepemimpinan Putin, Rusia dinilai telah dibawa ke dalam pusaran perang dingin dan membuat demokrasi mundur. Berkuasanya Medvedev yang tak lain "orang" Putin dikhawatirkan akan melanggengkan gaya kepemimpinan Putin.

Sementara ada segudang masalah yang perlu diselesaikan bersama khususnya bagi Eropa dan AS, dari soal Kosovo hingga rencana pemasangan perisai rudal di Ceko dan Polandia. Di sisi lain, disadari Moskwa adalah penyuplai energi terbesar bagi Eropa dan merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, dan mitra penting dalam mengatasi nuklir Iran dan berbagai masalah global. Karena itu siapa yang duduk di kekuasaan akan berpengaruh pada tata hubungan dan penyelesaian berbagai masalah tersebut.

Dalam hal ini, Medvedev dianggap hanya akan menjadi boneka Putin. Dua hari setelah menang, Medvedev menyatakan akan tetap memakai tim Kremlin, untuk mengacu pada tim pembantu Putin. Memang banyak yang memperkirakan Medvedev akan sangat bergantung pada Putin. "Ia sangat bergantung pada Putin dan tentu saja Putin perlu memiliki orang yang tidak akan mengancam posisinya," pendapat pengamat politik Kremlin, Stanislav Belkovsky, yang dikutip mingguan Newsweek.

Banyak kalangan berpendapat rahasia karier Medvedev yang pesat terletak pada kesetiaannya pada atasan. Mematuhi perintah dan bersikap penuh respek dan perhatian pada Putin adalah kunci sukses Medvedev.

Berbeda

Namun, jika dicermati lebih jauh sebetulnya banyak perbedaan pada diri murid-mentor ini.

Putin senang seni bela diri dan musik Rusia sementara Medvedev gemar renang dan musik metal seperti Balck Sabbath dan Led Zeppelin. Putin senang berpose dengan pakaian seragam, Medvedev lebih menyukai setelan jas yang dikelim licin, jaket Versace, bolpen Parker dan iPhone.

Medvedev yang lahir pada 1965 berpengalaman di dunia hukum dan bisnis. Pengalaman ini akan memberikan perspektif yang berbeda dalam mengelola Rusia dan perannya di dunia. Dalam pandangan dia, kebanggaan nasional bukan pada mengancam tetangga tetapi pada menjamin kesinambungan pertumbuhan ekonomi dan hidup sejahtera rakyatnya.

Pada tahun 1989, Medvedev terpesona pada gagasan-gagasan Barat tentang pasar bebas dan demokrasi. Kemampuannya mengelola patut diacungi jempol. Saat memimpin Gazprom, perusahaan gas negara, ia mengganti pola kepemimpinan usang dan menutup lubang-lubang kebocoran di sana-sini. Laba Gazprom melonjak. Dari US$ 670 juta pada 1998 menjadi US$ 25 miliar pada 2007. Tentu saja, keuntungan itu mengalir ke kantong-kantong Kremlin. Dengan pengolaan yang cemerlang Gazprom menjadi senjata ampuh dalam politik luar negeri Rusia.

Medvedev yang tidak berlatar belakang KGB, diperkirakan akan memperlunak wajah Kremlin. Dalam sebuah pidato di hadapan tokoh sipil dan budaya bulan lalu, Medvedev menegaskan harapannya bahwa Rusia dapat berubah dari kleptokrasi ke sistem yang mencerminkan demokrasi ala Eropa. "Rusia negara dengan nihilisme hukum," ujarnya.

Keterusterangannya pada persoalan-persoalan mendasar di Rusia inilah yang akan membuat Medvedev berhadapan dengan sang mentor. Salah satu akar korupsi di Rusia adalah keterkaitan erat hubungan bisnis yang dibangun oleh kroni-kroni Putin selama delapan tahun ini. Membersihkan ini akan menyebabkan bentrokan dengan sang mentor.

Untuk jangka panjang kemungkinan itu bisa terjadi. Tetapi untuk jangka pendek Medvedev akan berhati-hati karena dia masih perlu bergantung pada dinas rahasia dan birokrasi yang berkuasa untuk menjaganya tetap di kursi Kremlin.

Namun, suatu ketika Medvedev pun akan menyelonong dari ruas Putin. Dulu Putin pun dibilang bakal menjadi boneka Boris Yeltsin yang membawanya naik ke panggung Kremlin. Tetapi terbukti, Putin memiliki warna tersendiri. [SP/Yohanna Ririhena]


Last modified: 6/3/08