
foto-foto: Utun Kartakusumah
Para peserta River Bodyboard (papan seluncur) di Sungai Citarik mendapat paparan dari Instruktur, Acun (kiri) mengenai beberapa cara menghadapi alur jeram maupun hadangan bebatuan.
liran Sungai Citarik di Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, merupakan pusat konsentrasi wisata air. Di sana berkembangnya beberapa usaha operator arung jeram dengan menggunakan sarana perahu karet dan dengan pemandu yang berpengalaman.
Para operator itu tampaknya giat mencari hal baru guna memancing penghobi wisata air. Kini wilayah aliran sungai Citarik melalui operator Arus Liar bekerja sama dengan seorang pembuat alat untuk river surfing dan bodyboarding, Acun (38), telah membuka kesempatan bagi peminat olahraga air yang lebih mengandalkan ketangkasan dalam mengarungi derasnya aliran Sungai Citarik.
Acun, yang berpengalaman sepuluh tahun sebagai skipper (perkumpulan) Arus Liar kini menekuni pembuatan sandal sport bermerek Citarik, sandal yang diperuntukkan bagi mereka yang menyukai olahraga air. Beberapa bulan terakhir dia menciptakan peralatan yang disebutnya river surf dan river bodyboard.
Yang dikenal umum selama ini, kedua alat itu biasa digunakan oleh mereka yang hobi berselancar di pantai yang bergelombang panjang.
Selama beberapa bulan, Acun merekrut dan melatih warga Desa Pajagan, Kecamatan Cikidang. Sepulang sekolah anak-anak dari tingkat usia SD dan SMP itu menekuni pembuatan dan menggunakan kedua jenis alat ciptaan Acun.
"Lebih mudah mendidik sumber daya manusia dari tingkat usia tersebut karena mereka berperawakan lentur dalam ketepatan mencari keseimbangan badan saat menggunakan alat tersebut di atas air deras," katanya.
Hingga kini sudah ada 10 pemain terampil berusia 10 hingga 15 tahun yang siap melayani dan membimbing pengguna jasa permainan tersebut di akhir minggu.

"River Surfing"
Jenis permainan pertama yang ditawarkan kepada peminat berupa ketangkasan river surfing. Peralatannya terlihat sederhana terbuat dari bahan semacam karet busa berukuran 1,5 meter x 60 cm yang dilengkapi belt untuk mengikatkannya pada tubuh si pemakai. Kita tinggal mengambang dengan beralaskan alat tersebut kemudian kedua tangan berpegangan ke tali yang terhubung ke tali temali yang terentang melintang sungai.
Tali pegangan sebagai alat kemudi untuk mengarahkan luncuran sambil membuat variasi gerakan meluncur tegap pada derasnya aliran sungai serta menentukan dan memilih relung-relung air untuk tetap meluncur bermanuver dengan gerakan yang lincah dalam waktu tergantung keinginan bermain.
Kesamaannya dengan berselancar di gelombang laut adalah bagaimana menstabilkan keseimbangan badan. Hanya saja berselancar di laut dilakukan dengan berdiri termasuk untuk menentukan arah luncuran yakni keseimbangan berdasarkan pijakan kaki.
Sedang bermain bodyboarding, sang pemain menggunakan papan luncur yang terbuat dari bahan karet busa berukuran sekitar 1,5 meter x 80 cm. Hanya saja pemain tak lagi bergantung pada ikatan tali yang statis melainkan mengikuti aliran sungai dari hulu ke muara.
Permainan ini lebih berbahaya karena si pemain bisa terbawa arus sungai. Karena itu pemain harus mahir berenang. Karena tingkat risiko yang tinggi, maka pada setiap kesempatan harus ada pemandu. Si pemandu akan memulai di depan diikuti pemain, baru setelah itu di bagian belakang terdapat tim rescue. Tim paling belakang ini menggunakan perahu karet. Soal keamanan juga terlihat dari peralatan yang digunakan pemain seperti pengaman siku, lutut, dan helm.
Meski berisiko, bodyboarding terlihat lebih mengasyikkan. Pemain dapat berslalom pada alur relung derasnya aliran sungai di antara bebatuan, dan hadangan puluhan jeram. Bagi mereka yang telah terampil dapat berlama-lama melakukan berbagai variasi gerakan saat meluncur.
Sejumlah orang dari kelompok remaja Citarik dan dari "Indonesia Riverboard Assiation (IRA) Bandung" baru-baru ini secara bersama-sama mencoba kedua permainan itu mulai dari wilayah Cikadu hingga jembatan Desa Pajagan. Panjang rutenya 8 km yang diarungi selama 2 jam 30 menit dengan diiringi tim rescue dan tim medis dari Arus Liar.
Acun bertindak sebagai instruktur. "Atraksi semi ekstrim yang dilakukan banyak orang seperti kali ini di kawasan Indonesia baru di aliran sungai Citarik. Ternyata mereka enjoy-enjoy semua," ujar Acun.
Benar kata Acun. Para peserta begitu menikmati karena pengalaman berarung jeram di lekuk-liku sungai, menghindar apitan bebatuan ber-bodyboard saat meluncur, sangat berbeda dibanding menggunakan perahu karet. Masing-masing pemain akan menemui pengalaman berbeda, saat mengarahkan alat yang ditumpanginya mengingat banyak pilihan alur yang dianggap aman agar terlepas dari perangkap himpitan bebatuan pada jeram yang sulit.
Oleh sebab itu, bagi penggemar dan pencari pengalaman ekstrem tampaknya belum lengkap kalau belum mencoba river surfing dan body boarding seperti yang dikelola operator Arus Liar. [Utun Kartakusumah]