SUARA PEMBARUAN DAILY

Heroisme Dari Zaman Pra Sejarah

Film : 10,000 BC

Sutradara: Roland Emmerich

Pemain: Steven Strait, Camilla Belle, Cliff Curtis, Joel Virgel, Affif Ben Badra, Mo Zinal, dan Nathanael Baring.

Skenario: Roland Emmerich dan Harald Kloser

Genre: Aksi Petualangan

Produksi: Warner Bross

Kisah dalam film cerita memang sekedar rekaan belaka, tapi 10,000 BC melebihi imajinasi dokumenter. Hasil mengagumkan dari kerja keras Studio Warner Bross.

Sosok sutradara Roland Emmerich mungkin terkesan spektakuler. Ia selalu menampilkan sesuatu yang "raksasa" dalam filmnya. Dalam film Godzilla, ia menghadirkan monster. Dalam film The Independence Day, ia membuat Gedung Putih hancur. Di film The Day After Tomorrow, Emmerich menciptakan tsunami yang luar biasa. Dan dalam film terbarunya 10,000 BC, ia menghadirkan mammoth, hewan purba, dan piramid.

Tidak hanya itu, "kekuatan dan kebesaran" alam pun selalu berhasil dieksplorasi dengan apik oleh Roland. Gaya khas Emmerich saat menggarap film-film kolosalnya. Namun untuk film terakhir, 10,000 BC, ia menyebutnya sebagai pencapaian terbaik.

Film 10,000 BC sejak awal memang sudah didengung-dengungkan akan menyaingi keunggulan film 300 yang tayang tahun lalu. Dibanding 300, kisah yang ditampilkan pun tidak jauh berbeda, sebuah kisah heroik. Hanya saja 10,000 BC mengambil setting masa pra sejarah yang literaturnya tidak selengkap heroisme Leonidas dalam film 300.

Masa prasejarah yang ditampilkan dalam kisah 10,000 BC memang cuma rekaan saja sehingga Roland bebas menghadirkan eksotisme gunung bersalju dan padang pasir nan luas. Roland yang juga menulis skenario film ini, mengambil waktu sezaman masa pembangunan piramida di Mesir,

Tidak hanya keindahan alam, Roland juga coba merekonstruksi suasana sosial dan budaya pada zaman itu. Mitos, sistem kepercayaan, dan cara pandangan primitif, membalut isi cerita yang disajikan. Di sebuah desa yang didiami Suku Yagahl berkembang mitos tentang gadis cilik bermata biru. Akan datang seorang gadis bermata biru yang memiliki kekasih seorang pejuang. Pejuang itulah yang akan membebaskan Suku Yagahl dari kesengsaraan.

Ternyata mitos itu menjadi kenyataan. Seorang anak lahir dengan bola mata berwarna biru. Anak itu diberi nama Evolet (Camilla Belle), dan oleh pemuka agama, anak itu harus dijaga dengan baik, karena membawa petuah dari leluhur mereka.

Ketika tumbuh remaja, Evolet ternyata jatuh cinta kepada D'leh (Steven Strait). D'leh sebenarnya bukanlah pemuda yang bisa diharapkan. Oleh suku Yagahl, D'leh adalah salah satu anak yang disisihkan. Ia disebut sebagai anak dari seorang pengecut, karena ayahnya meninggalkan suku itu sejak ia kecil.

Sesuai dengan rekaan masa pra sejarah, Suku Yagahl adalah suku primitif yang hidup dengan berburu. Salah satu hewan buruannya adalah mammoth, hewan purba seperti gajah dengan bulu panjang. Suku Yagahl mengenal sebuah ritual, berburu mammoth sekaligus memperebutkan tombak suci, simbol pemimpin suku.

Siapa yang berhasil membunuh mammoth dengan tombaknya, orang itu berhak untuk mendapatkan tombak suci dan memilih pasangannya. Dalam ritual tersebut, D'leh berhasil jadi pemenang hingga ia dijadikan pemimpin suku. D'leh juga memilih Evolet sebagai pasangannya.

Suatu ketika datanglah bencana terhadap suku itu. Suku Yagahl diserang oleh suku lain yang mengendarai kuda. Saking primitifnya dan tidak pernah melihat kuda, Suku Yagahl menyebut kuda-kuda itu sebagai setan berkaki empat. Dalam penyerbuan itu Evolet berhasil ditawan. Hal inilah yang membuat D'leh marah dan bersumpah akan membebaskan kekasihnya.

Bersama tiga rekannya yang selamat D'leh mengejar para perusuh itu. Di sinilah mitos tentang kehadiran seorang pembebas mulai tampak nyata. D'leh memiliki pandangan-pandangan yang melebihi pengetahuan kaumnya. Namun D'leh selalu memungkiri takdir yang terikat padanya. Di dalam pikirannya ia hanya ingin membebaskan kekasihnya, dan tidak mau terganggu dengan mitos dirinya sebagai pemimpin.

Eksotis

D'leh memulai perjalanannya dengan melintasi gunung tinggi yang menjadi "batas dunia" Suku Yagahl. Awalnya Suku Yagahl percaya bahwa tidak ada orang yang mampu melintasi gunung tinggi yang diselimuti es itu. Tetapi D'leh bersikeras mencari kekasihnya meski harus melintasi gunung itu.

Di atas layar, perjalanan D'leh bersama kawan-kawannya menghasilkan gambar-gambar yang eksotis. Kemegahan dan keindahan gunung es di Selandia Baru tempat pengambilan gambar itu benar-benar dieksplorasi maksimal oleh Roland dan director of photography-nya, Ueli Steiger.

"Suatu kali, kami seharian naik helikopter untuk melihat lokasi, dan sudah memutuskan lokasi yang akan digunakan. Tapi tiba-tiba, ketika saya akan kembali ke hotel, sebuah pesan singkat muncul. Pesan itu menyebutkan agar saya kembali ke helikopter karena Roland menemukan sebuah "surga". Saya mengikuti pesan itu dan takjub dengan pemandangan yang ditemukan Roland. Akhirnya diputuskan untuk mengambil gambar di lokasi itu," cerita produser Michael Wimer.

Roland Emmerich memang dikenal sebagai sutradara yang tidak mau asal jadi. Semua hal di mata Roland harus bisa dieksplorasi maksimal dan menghasilkan sesuatu yang orisinal. Seperti misalnya dalam adegan sebuah pengejaran, D'leh dan kawan-kawannya tersesat di sebuah hutan purba.

Hutan itu ternyata dihuni oleh binatang aneh. Di antara ilalang yang tingginya jauh di atas kepala manusia menyembul kepala-kepala hewan aneh, seperti monster. Tapi ternyata hewan itu adalah burung unta raksasa. Burung unta raksasa itu tidak hanya menyerang D'leh, tapi juga menyerang kelompok penyandera.

Manusia-manusia purba yang tersesat itu, bak cacing yang sedang diincar ayam-ayam besar. Untuk menghasilkan gambar rekaan hewan purba seperti aslinya, Roland harus menyewa dua perusahaan di Inggris khusus mendesain hewan-hewan purba yang ada di filmnya. di film itu, tidak hanya mammoth dan burung unta, Roland juga menghadirkan singa raksasa.

"Film ini sebuah tantangan, membuat hewan-hewan itu seperti hewan nyata yang dapat dilihat setiap hari atau bahkan bisa dipegang. Kami menyewa dua perusahaan khusus untuk hal itu," ujar Roland.

Roland mungkin memiliki kebebasan yang lebih besar di film ini, karena selain sutradara dan penulis, ia juga bertindak sebagai produser. Sehingga ia pun rela untuk mengorek kocek lebih banyak ketika harus mengambil gambar di Afrika Selatan dan Namibia.

Dalam alur ceritanya, perjalanan D'leh bertemu suku primitif lain yang alamnya 180 derajat berbeda dengan tempat asal mereka. D'leh dan kawan-kawannya bertemu suku-suku penghuni gurun pasir.

Untuk menggambarkan suku-suku padang pasir, Roland mengambil gambar di Gunung Spitzkoppe, Namibia. Selama pengambilan gambar di lokasi itu, kru film harus membangun sebuah kamp karena lokasinya yang sangat jauh dari peradaban. Kamp itu dibangun seperti layaknya hotel, memiliki fasilitas pendingin, air panas, bahkan internet. Selama pengambilan gambar di lokasi itu, 60.000 liter air harus diangkut setiap harinya dari sumber air yang berjarak 70 kilometer.

Tidak hanya itu, untuk menghasilkan gambar pembangunan piramida dan Sungai Nil yang mendekati nyata mereka harus memesan sebuah replika dari Jerman. Replika sungai itu di buat di Munich, Jerman, dengan skala 1; 24 dan berukuran 100 meter persegi. Replika itu harus diangkut dengan 15 kontainer kapal laut ke Namibia.

Dalam alur cerita memang dikisahkan para penculik itu membawa orang-orang pedalaman sebagai budak untuk pembangunan piramida. Termasuk Evolet dan anggota Suku Yagahl lainnya. Budak-budak itu diangkut menggunakan perahu yang berlayar sepanjang Sungai Nil.

Omar Sharif

Sebenarnya dalam 10,000 BC, tidak hanya cerita dan gambar yang diunggulkan, tetapi juga tata suaranya. Kebetulan dalam film ini Roland berduet dengan Harald Kloser. Harald Kloser sebelumnya memang dikenal sebagai komposer handal untuk urusan suara di film, namun dalam 10,000 BC Kloser juga berperan sebagai penulis skenario dan produser.

Sepertinya memang Roland Emmerich yang menjadi kunci utama dalam film ini. Roland mengatur dengan baik komponen-komponen filmnya, sehingga sulit untuk tidak memberi acungan jempol kepadanya. Roland dengan detail memperhatikan hal-hal yang mendukung filmnya, bahkan untuk urusan kostum dan desainnya Roland pun tidak mau tanggung-tanggung.

Acungan jempol itu juga berlaku untuk kepiawaian Roland memilih aktor-aktornya. Dengan kejelian, ia memilih pemain-pemain yang pas membawakan karakter cerita, seperti Steven Strait, Camilla Belle, dan Cliff Curtis.

Untuk Steven Strait yang memerankan D'leh, Roland memiliki kesan khusus. Ia mengaku terpesona saat pertama kali melihat Steven Strait tampil di layar lebar. Dari seluruh casting yang dilakukan di Eropa, Amerika Serikat, dan Amerika Selatan, Roland selalu membandingkannya dengan Steven, sampai akhirnya ia memilih Strait.

"Dia baru berumur 18 tahun, saat saya melihatnya bermain film. Saat itu saya lihat dia sebagai aktor yang bagus, tapi dia tidak menyadarinya. Di film ini, saya sangat puas dengan kerjanya," ucap Roland mengomentari para aktor.

Steven pun ternyata sudah sejak lama mengagumi film-film Roland. Ketika ia terpilih bermain dalam film ini ia merasa mendapat sebuah kebanggaan. Untungnya di film ini Stven bermain bersama Cliff Curtis, pemain asal Selandia Baru yang lebih berpengalaman.

Curtis menjadi seperti mentor Strait untuk urusan akting. Di 10,000 BC, Curtis berperan sebagai Tic Tic, salah satu tetua Suku Yagahl yang menemani D'leh mengembara mencari musuhnya.

Namun yang lebih menarik adalah menyaksikan Camilla Belle. Aktris eksotis berdarah campuran Amerika dan Brazil ini berperan sebagai Evolet, kekasih D'leh. Belle sebelumnya pernah bermain dalam The Lost World: Jurassic Park dan Practical Magic yang mengantarkannya mendapat nominasi dalam ajang Young Artist Award. Selain itu artis yang lancar berbahasa Spanyol dan Portugis ini juga berhasil masuk nominasi dalam ajang yang sama dalam film televisi Replacing Dad dan Rip Girls.

Roland ternyata tidak hanya memberi kehormatan kepada aktor dan aktris muda. Ia juga memberi kehormatan kepada aktor senior Omar Sharif. Meskipun tidak tampil dalam film itu, Omar Sharif menjadi pemeran Baku tua, si pencerita kepahlawanan D'leh.

Film 10,000 BC bisa jadi sebuah pemanasan dari persaingan film-film blockbuster musim panas tahun ini. Seperti tahun lalu, kisah heroik dalam 300 menjadi awal persaingan film-film top box office. Pada tahun ini, mudah-mudahan saja persaingannya akan lebih seru, sehingga akan semakin banyak film-film yang spektakuler. [SP/Kurniadi]


Last modified: 6/3/08