
su global warming terus bergulir. Kalangan fashion pun tidak mau ketinggalan menanggapi isu ini dengan menghadirkan konsep eco fashion. Eco Fashion merupakan pakaian dan perlengkapan yang bahan dan proses pembuatannya ramah lingkungan hidup.
Tidak dapat dibantah lagi bahwa fungsi dan dampak dari fashion dalam kehidupan masyarakat kini sangatlah besar. Kain katun yang terlihat paling natural sekalipun, sebenarnya, justru sangat tidak ramah lingkungan dibandingkan dengan kain sintetis lainnya. Kapas merupakan salah satu tumbuhan di dunia yang paling tidak ramah lingkungan. Tahukah kalian bahwa kapas secara rutin disemprot dengan campuran pestisida dan bahan kimia lainnya yang jauh lebih berat dan berbahaya daripada yang digunakan untuk tumbuhan pangan?
Demikian juga dengan bahan nilon dan polyester. Keduanya terbuat dari petrokimia yang rentan menyebabkan global warming. Dalam memproduksi nylon, muncul nitro oksida yang merupakan salah satu gas yang berbahaya dalam greenhouse effect yang kekuatannya 310 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam menyebabkan global warming. Kedua produk ini juga sulit didaur ulang.
Bahan-bahan kimia yang digunakan selama proses pembuatan bahan-bahan dan pakaian ini, akan terus ada dan akan terus memberikan dampak pada penggunaannya. Oleh karena itu, dengan banyaknya dampak buruk yang ditimbulkan, maka sudah sewajarnya industri yang berdampak besar bagi kehidupan manusia itu mulai memikirkan dan mengambil langkah untuk lebih "menghijaukan" industrinya.
Belakangan ini sebagian dari komunitas fashion dunia telah memulainya lewat organic dan eco fashion. Organic fashion berarti pakaian yang diproduksi dengan meminimalkan penggunaan bahan kimia dan meminimalkan pula dampak kerusakan pada lingkungan. Ini termasuk minimalisasi bahan kimia yang digunakan pada setiap langkah pemrosesan, mulai dari proses penanaman dan pemeliharaan bahan baku, pengupasan, pemintalan, sampai hingga ke finishing menjadi produk jadi berupa pakaian, tas, dan lainnya.
Sedangkan Eco-fashion ditujukan untuk pakaian dan produk fashion yang telah di produksi menggunakan produk - produk ramah lingkungan. Produk eco-fashion dapat menggunakan bahan-bahan pakaian lama yang di recycle atau bahkan menggunakan material recycle lainnya yang diproduksi dari botol plastik, kaleng soda, atau serat organik. Desainer kelas dunia yang mulai menghadirkan busana berkonsep eco fashion antara lain Stella McCartney, Versace, dan Diesel.
Kini sejumlah perancang dari Indonesia mencoba untuk menghadirkan konsep eco fashion pada karya rancangan mereka. Adalah Mardiana Ika, Musa Widyatmodjo, Sofie, Lenny Agustin, Taruna K Kusmayadi, Lia Mustafa, Monika Weber, Muji Ananta, Ali Charisma, Nita Azhar dan Oka Diputra. Selanjutnya Selphie Bong, Tuty Cholid, Anne Avantie, Charmanita, Afif Syakur, dan Fabio Renaldo. Ke-15 perancang ini menggelar karya busana bertajuk Eco Chic pada Senin (3/3) di Hotel Four Season, Jakarta.
Karya mereka menampilkan berbagai busana dengan bahan organik katun, daur ulang plastik, dan daur ulang kain. Selain itu ada rancangan yang menggunakan pelepah jagung, daun pandan, daun pisang sebagai alternatif bahan.

Memelihara Alam
Melalui pernyataan tertulis, Dr Christina Dean selaku Ketua Eco Chic dan Direktur Green2green mengatakan, melalui inspirasi dalam catwalk spektakuler yang melalui bahan-bahan tertera di atas, diharapkan kontribusi para perancang dapat memberi dorongan pada sektor bisnis dan tekstil untuk memulai kampanye di sisi mereka sendiri.
"Kegiatan ini bisa menyadarkan kita semua pentingnya memelihara alam. Dimulai dari lapisan yang bergerak dalam tata usaha busana, diteruskan ke lapisan tekstil dan diharapkan selanjutnya menyebar ke lapisan masyarakat," kata Mardiana Ika selaku Art Director Eco Chick pada wartawan. Dalam pergelaran itu juga ikut serta karya dari delapan desainer dari Hong Kong.
Meski menggunakan bahan daur ulang, garis rancangan tetap terlihat elegan dan trendy. Seperti karya Musa Widyatmodjo yang menghadirkan gaun terusan hijau dengan lipit-lipit di bagian bawah dengan aksen bordiran bunga-bunga putih di bagian pinggang atas. Jika dilihat sepintas, busana ini tidak terlalu istimewa, bahkan cenderung sederhana. Kehebatannya ada pada materi yang digunakan.
"Koleksi saya memang tidak terlalu spektakuler seperti desainer lainnya. Tapi dengan desain yang simpel ini akan bisa memunculkan pertanyaan dari banyak orang bahwa gaunnya kok simpel banget, apa hebatnya," kata desainer kelahiran Jakarta, 13 November 1965 ini. Musa menggunakan bahan dari mandoan, yakni sejenis pohon pandan yang tumbuh di daerah Jawa Tengah. Biasanya bahan ini dipergunakan untuk menghasilkan tikar tenun. Bahan tikar yang kaku ini ditangani Musa berubah wujud menjadi luwes dan cantik.
Untuk proses pembuatan gaun ini, butuh waktu satu bulan dengan 10 pekerja. Musa mengaku melakukan berbagai eksperimen untuk menghasilkan karya ini.
"Saya perlu trial and error agar bisa mewujudkan gaun yang bagus seperti saat ini. Sampai-sampai saya harus mengeluarkan semua jurus silat saya selama proses pembuatan busana," candanya.
Selain Musa, karya peserta yang lain tak kalah spektakuler. Seperti gaun rancangan Lenny Agustin yang menggunakan bahan sumbu kompor minyak tanah yang dilapisi sisa kain perca. Begitu juga Mardiana Ika yang menggunakan pakaian dengan tema kain batik bekas pakai, atau desainer Fabio dari Bali yang menampilan gaun dari daur ulang limbah kaca.
Karena menggunakan bahan yang ramah lingkungan, soal kualitas juga dijamin oleh para desainer. Pasalnya, pakaian tersebut memiliki pori sehingga bisa "bernapas" dan antialergi. Selain itu, karena berasal dari bahan-bahan alami, pembuatan kainnya tidak akan memakai bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara), seperti halnya pada pembuatan kain nylon atau polyester. Hanya saja produk fashion semacam ini belum diproduksi secara massal. Kita tunggu langkah selanjutnya! [W-10]