
Foto-foto SP/Alex Suban
Saat berkeliling membawa kamera, peralatan harus tersimpan di tas khusus yang dilengkapi penyekat, untuk meredam benturan.
Bila dalam waktu cukup lama tidak memegang kamera dan melakukan pemotretan, otomatis kemampuan memotret pun akan semakin berkurang dan tidak selincah sebelumnya.
** missed drop char **Mas, kenapa ya, hasil pemotretan dengan kamera ini hasil gambarnya selalu ada bercak putih. Padahal kameranya masih baru dan disimpan dengan baik," kata Andi kepada tukang servis kamera di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Setelah bagian-bagian kamera dibuka dan diperiksa secara cermat dan diamati menggunakan kaca pembesar oleh si tukang servis, dapat diketahui bahwa kamera Andi bermasalah karena lensa kamera sudah mulai berjamur, dan bagian tempat penyimpanan baterai terlihat berkarat, karena saat kamera disimpan, baterai tetap ada di dalam kamera, sehingga ada bagian yang bocor.
"Wah, kalau ini masalahnya, perbaikannya tidak bisa ditunggu, karena cukup lama dan harus hati-hati mengerjakannya," kata tukang servis kamera." Kalau mau, sebaiknya kamera ditinggal saja, besok pagi bisa diambil," tambahnya.
Apa yang dialami Andi seperti cerita di atas, yaitu kerusakan kamera akibat lama tidak dipakai dan tidak dikontrol penyimpanan dan perawatannya, memang sering terjadi.
Menurut beberapa tukang servis kamera di Pasar Baru, Jakarta Pusat, salah satu penyebab kerusakan kamera adalah cara penyimpanan yang salah dan tidak diperiksanya kamera secara teratur.
"Walaupun kamera jarang dipakai, tetapi kalau setiap 1-2 minggu sekali dilihat dan diperiksa sambil dicoba-coba untuk memotret, pasti kamera akan selalu dalam kondisi baik. Masalahnya, sudah penyimpanannya salah, kondisi kamera tidak pernah dikontrol," kata Rizal yang sudah puluhan tahun menjadi tukang servis kamera.
Ketika baru pertama kali membeli dan memiliki kamera, biasanya pemotret sangat senang dan bersemangat melakukan berbagai pemotretan, seakan-akan sampai kehabisan subjek pemotretan.
Namun, setelah beberapa kali pemotretan dilakukan dan hasil pemotretannya cukup banyak, rasa jenuh dan bosan mulai menghinggapi diri pemotret.
Kondisi ini membuat pemotret kehilangan gairah atau mood untuk melakukan pemotretan, seakan-akan sudah tidak ada lagi subjek pemotretan yang menarik dan perlu didokumentasikan.
Kondisi ini banyak dialami pemotret dadakan yaitu pemotretan yang dilakukan karena ada acara-acara khusus seperti untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri, Hari Natal, pesta perkawinan dan sebagainya.
Setelah selesai, kamera disimpan dalam waktu lama, bahkan ada yang sampai menjelang hari-hari besar keagamaan tahun berikutnya, baru kamera dicari dan diperlukan.
Kalau perasaan jenuh, bosan dan kehilangan mood mulai menghinggapi pemotret, kondisi ini harus diwaspadai dan harus bisa diatasi. Kalau kondisi ini dibiarkan terus-menerus, dikhawatirkan akan berdampak kurang baik terhadap pertama, kamera. Dengan tidak melakukan pemotretan, otomatis kamera hanya tergeletak ditempat penyimpanannya.
Kalau penyimpanan kamera dilakukan dalam waktu lama dan tidak benar, kamera bisa mengalami kerusakan, terutama pada bagian lensa. Biasanya lensa akan cepat terserang jamur yang menempel, tombol pelepas rana bisa ngadat tidak bisa dikokang atau ditekan untuk pemotretan, bodi kamera mulai berkarat dan jika tidak segera dibersihkan bisa menjalar kemana-mana.
Kedua, dengan waktu cukup lama tidak memegang kamera dan melakukan pemotretan, otomatis kemampuan memotret pun akan semakin berkurang dan tidak selincah sebelumnya. Hal ini sangat dirasakan, terutama pada gerakan-gerakan jari tangan ketika mengatur berbagai fitur kamera dan mensinkronkan cara kerja kamera saat memotret.
Kemampuan yang juga terasa berkurang antara lain adalah saat melihat, menentukan dan memilih sudut pemotretan (angle) yang menarik, serta dalam pengaturan komposisi gambar. Jadi? Jangan sampai berhenti memotret. [Eddy Suntoro]