
Didit Majalolo
Pengunjung melihat pameran fotografi dengan tema "Sawahlunto Effect" di Museum Nasional, Jakarta, Selasa (4/3). Pameran bersama ini diikuti oleh Oscar Motulloh, Arbain Rambey, Yori Antar dan Jay Subiakto. Pameran berlangsung sampai Sabtu (15/3).
eindahan kota dataran tinggi bukan satu-satunya alasan pemerintah kolonial Belanda jatuh cinta kepada Sawahlunto, Sumatera Barat. Ada daya tarik dibalik kesejukan desa, harta yang membutakan para penjajah. Mereka memperbudak anak-anak bangsa untuk kekayaan negeri seberang.
Kekelaman tersebut berusaha ditangkap oleh empat fotografer dalam karya mereka yang dipamerkan dengan judul, Sawahlunto Effect. Pameran fotografi tersebut berlangsung dari 29 Februari hingga 15 Maret 2008, di Museum Nasional, Jakarta. Masing-masing fotografer menangkap sisi tersendiri yang dapat diungkapkan kota tua ini kedalam sebuah gambar diam.
Arbain Rambey menangkap rutinitas kehidupan masyarakat desa saat ini yang masih sederhana dan jauh tertinggal, dibalik sejarahnya sebagai salah satu pusat industri zaman dahulu.
Sementara Oscar Motuloh melalui media foto hitam putih berusaha menangkap secercah cahaya dari kegelapan bayang-bayang masa silam. Sedangkan Jay Subiakto berusaha mengungkap sisi emosi dari objek-ebjek sosial budaya yang terjepret melalui kameranya, dan Yori Antar berusaha menangkap sisi eksotisme alam Sawahlunto yang dulu sanggup membuat jatuh hati para penjajah.
Banyak hal yang dapat diungkapkan melalui foto-foto pameran kali ini. Sejarah kelam yang mengekor kejayaan kota mutiara hitam. Dibalik mewahnya pilar perekonomian Sawahlunto zaman dahulu, tersimpan sejarah kekelaman yang memilukan bagi bangsa Indonesia. Puing-puing bangunan yang dulunya dapat dibayangkan sebagai bangunan mewah dengan arsitektur kolonial, ternyata menyimpan kisah berdarah yang memakan ratusan korban jiwa dan tetes keringat bangsa untuk membangunnya.
Kota yang dibangun menjadi pusat industri di abad 19 ini, kini hanya menyisakan puing-puing. Sawahlunto masa kini, dibalik rongsokan situs-situs tambang, bangunan-bangunan megah kolonial bergaya indies, arena pacuan kuda, gerbong dan rel kereta api yang sebagian besar telah mati. Juga masih hidup riwayat kelam "orang-orang rantai" sebutan bagi para pribumi yang bekerja membanting tenaga demi pembangunan tambang batubara. Infrastruktur dibangun dengan cepat untuk memudahkan perpindahan benda dan orang, keluar masuk Sawahlunto.
Foto demi foto dalam pameran ini berusaha memperlihatkan sisa-sisa kejayaan zaman dahulu, saat Sawahlunto masih berupa kota modern. Situs dalam stasiun kereta api yang kental dengan nuansa kolonialisme, saksi sejarah manusia-manusia yang pernah bergerak dalam kesibukan kota industri abad lampau.
Namun beberapa foto juga berusaha mengungkapkan sebuah sisi lain yang tersirat dalam kehidupan Kota Sawahlunto. Sejarah kekelaman bangsa yang diperbudak untuk memuaskan nafsu kekayaan para kolonialis. Sejak pertama kali William De Groet menemukan adanya kandungan batu bara dalam tanah dataran tinggi Sumatera Barat ini, kehidupan masyarakat Sawahlunto berubah drastis seiring masuknya semua kebudayaan asing ke dalam desa perawan ini.
Berturut-turut pembangunan semua infrastruktur penunjang industri dibangun seperti rel kereta api, pembangunan pabrik semen, pelabuhan kapal Teluk Bayur dan semua yang dapat mendukung jalannya perekonomian kolonial Belanda.
Saat ini kandungan batubara di tanah Sawahlunto telah habis terkuras. Pemerintah daerah saat ini berusaha mengarahkan perekonomian daerah ke arah sektor pariwisata yang berbasis sejarah tambang sebagai sektor unggulan dalam menunjang perekonomian masyarakat lokal.
Selain meniti balik sejarah-sejarah zaman penjajahan kolonial di tanah Indonesia, pameran foto ini juga memperlihatkan budaya kehidupan masyarakat Sawahlunto yang hingga saat ini masih sangat kental dengan unsur tradisional. Beberapa foto memperlihatkan suasana keseharian masyarakat yang masih sangat sederhana. [CAT/N-5]