[KUALA LUMPUR] Jutaan warga Malaysia diperkirakan tidak akan mempedulikan pemungutan suara dalam pemilu Sabtu (8/3). Gelombang apatisme tersebut dinilai kalangan pemantau sebagai wujud kebosanan dan perasaan terasing dari koalisi yang berkuasa.
Setelah berkuasa selama setengah abad, tidak ada seorang pun di Malaysia yang punya bayangan bahwa suara mereka dapat meruntuhkan kekuatan Koalisi Barisan Nasional yang perkasa, meskipun kepemimpinan koalisi tersebut diwarnai meningkatnya inflasi, ketegangan etnis, dan tingginya angka kejahatan.
"Kami seharusnya punya hak untuk membuat pilihan. Saya tidak akan memilih karena bagi saya tampaknya tidak ada pilihan lain dalam pemilu di negara ini," ungkap Akmal Hakim (29 tahun), seorang pelayan restoran siap saji dan anggota Muslim Malays, kelompok kaum muda, yang sebagian besar tidak memilih di Kuala Lumpur, Kamis (6/3).
Mantan Wakil PM Malaysia, Musa Hitam memperkirakan sekitar lima juta orang tidak akan menggunakan hak pilih mereka. Ia mengatakan, tren tersebut mengancam proses demokrasi di Malaysia yang sudah sangat terstruktur. "Sebagian orang tidak senang dengan pemerintah. Namun, mereka tidak merasa perlu datang ke pencoblosan dan memberikan suara menentang pemerintah. Sejumlah kalangan menyatakan muak dengan politik. Mereka merasa tidak memperoleh apa-apa dengan semua ini," kata Musa Hitam, Kamis.
"Pemilu Terkotor"
Sementara itu, sejumlah aktivis Malaysia memperingatkan pemilu hari Sabtu (8/3) akan menjadi "pemilu terkotor sepanjang sejarah Malaysia". Peringatan yang disampaikan, Kamis (6/3) itu, menyusul sikap Pemerintah Malaysia menolak penggunaan tinta pemilu di jari para pemilih yang sudah memberikan suara mereka. Penggunaan tinta diusulkan guna mengantisipasi kecurangan.
Partai oposisi mengutuk keputusan Komisi Pemilihan (EC) yang dinilai "menggelikan", dan sengaja diciptakan untuk mengantisipasi melonjaknya dukungan bagi oposisi. EC juga dituduh bersekutu dengan pemerintah.
Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi membantah tudingan tersebut. "Kami tidak pernah melakukan kecurangan. Kami berhasil karena kami tidak curang. Kami bekerja keras dan melakukan segala sesuatunya dengan baik," kata Badawi, sebagaimana dikutip Kantor Berita Bernama.
Dari Singapura dilaporkan, mantan Wakil PM Malaysia Anwar Ibrahim memprediksi oposisi dapat menggagalkan ambisi koalisi berkuasa untuk meraih dua pertiga mayoritas dalam pemilu 8 Maret.
Anwar, yang kini menjadi pemimpin oposisi, menyebutkan sejumlah laporan dari berbagai sumber, termasuk lembaga jajak pendapat independen serta komunitas intelijen, memperlihatkan oposisi dapat memenangkan lebih dari sepertiga kursi par- lemen. "Dari sumber-sumber saya baik di dalam partai berkuasa dan juga dari aparat intelijen, jelas oposisi akan meraih perolehan besar," tegas Anwar di depan Foreign Correspondents Association di Singapura.
Anwar menambahkan, oposisi berhasil mengungkap bukti-bukti penyimpangan daftar calon pemilih. Contohnya, ada 10.820 pemilih terdaftar yang berusia 100 tahun ke atas. "Kita punya kelompok orang sangat lanjut usia terbesar di dunia," kata Anwar, mengolok-olok.
Anwar mengungkapkan, di sebuah tempat ada 223 pemilih yang tercatat menggunakan satu alamat yang sama. Sementara di daerah lain, ada 200 pemilih menggunakan satu alamat.
Selaras dengan Anwar, Koalisi untuk Pemilu Bersih dan Adil (Bersih), telah mendokumentasikan sejumlah penyimpangan dalam daftar calon pemilih. Diungkapkan, di beberapa wilayah ada sejumlah besar pemilih yang tiba-tiba dipindahkan dari satu distrik ke distrik lain.
Human Rights Watch (HRW), dalam pernyataan Rabu (5/3), menyebutkan, manipulasi otoritas berwenang dalam proses elektoral tampaknya dilakukan untuk memastikan bahwa koalisi yang berkuasa dapat tetap mempertahankan dua pertiga mayoritas di parlemen. "Untuk kesekian kalinya, pemilu di Malaysia nyata sekali tidak adil kepada oposisi," ungkap Elaine Pearson, Wakil Direktur HRW untuk Asia. [AFP/E-9]