SUARA PEMBARUAN DAILY

Mencari Solusi Alternatif Transportasi Kota

SP/Luther Ulag

Arus lalu lintas di jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat baik jalur lambat dan jalur cepat pada jam sibuk kantor acapkali macet, sedangkan untuk jalur busway terlihat lancar kerena mempunyai jalur khusus.

Keamanan, kemacetan, dan kenyamanan adalah persoalan utama transportasi perkotaan yang hingga kini belum dapat terpecahkan. Perkembangan kota dan populasi penduduk Jakarta berdampak besar pada masalah pelik transportasi. Pemda DKI Jakarta bahkan tak cukup mampu memberi solusi jitu, jika tak disebut gagal, alhasil masyarakat urban mesti mencari solusi.

Sarana busway, waterway dan kereta listrik KRL Ciliwung Blue Line masih belum cukup memecahkan persoalan pelik transportasi Kota Jakarta. Mobilitas penduduk Jakarta semakin tinggi. Jakarta sebagai megapolitan berdenyut 24 jam per hari. Tetapi pemda belum cukup serius menyediakan sarana transportasi umum yang aman, nyaman dan terjangkau.

Saat populasi permukiman bergeser ke daerah pinggiran Jakarta, kebutuhan sarana transportasi semakin mendesak. Tidak dipungkiri, banyak karyawan dan pekerja di Jakarta yang berdomisili di Tangerang, Bekasi, Bogor, Depok, Cibubur, dan Cibinong. Jarak puluhan kilometer ditempuh setiap hari untuk mencari nafkah. Namun faktor biaya, waktu, keamanan transportasi umum dan kemacetan lalu lintas mendesak mereka segera mencari alternatif.

Ketidaknyamanan pengguna transportasi umum hampir tidak digubris lagi. Mereka yang memiliki kendaraan pribadi juga setali tiga uang. Kemacetan memaksa pemilik kendaraan pribadi mengeluarkan uang ekstra kocek untuk tol dan bensin yang semakin boros. Biaya transportasi itu semakin membengkak dari tahun ke tahun.

Peraturan 3 in 1 dari pemda DKI Jakarta untuk kendaraan pribadi ternyata tak memberi hasil yang memuaskan. Alih-alih mengurai kemacetan dengan pembatasan jumlah penumpang pada mobil pribadi, aturan itu malah memicu masalah baru. Mulai dari joki hingga polisi yang korup.

Lambat laun kondisi tersebut telah "memaksa" masyarakat untuk berusaha mencari jalan ke luar sendiri. Dari mulai menumpang angkutan perkantoran, hingga menumpang kendaraan pribadi. Kondisi itu pula yang kemudian melahirkan komunitas nebeng. Komunitas ini didominasi oleh orang-orang yang bekerja di Jakarta, namun menetap di Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Cibubur, Cibinong, dan lain-lain, atau sebaliknya tinggal di Kota Jakarta dan bekerja di kota-kota sekitar Jakarta.

"Anggota komunitas nebeng adalah mereka yang memberi dan diberi tumpangan. Ada kerja sama yang saling menguntungkan terjadi pada kedua belah pihak. Mereka yang mendapatkan tebengan, bisa berangkat dan pulang kerja dengan menggunakan kendaraan yang jauh lebih nyaman dan manusiawi daripada angkutan umum," kata pengelola situs www.nebeng.com, S Rudyanto kepada SP di Tangerang, Selasa (4/3).

Sementara Herilis Priyono, pemilik mobil yang tinggal di Bekasi Timur, ada banyak manfaat sebagai pemberi tebengan. Selain menekan biaya bensin dan tol, ada hubungan pertemanan yang terjalin. Kadang- kadang, mereka bahkan berkumpul untuk makan bareng.

"Kalau rombongan pagi mulai pukul 05.30 WIB, biasanya ibu-ibu pegawai negeri. Kalau pulang sekitar pukul 18.00 WIB. Kalau ada berangkat, tidak ada ya jalan saja. Penumpang saya berganti-ganti, mungkin sekitar 20 orang. Mereka senang dengan ongkos 7.000 rupiah, bisa naik kendaraan sejuk nyaman, sambil nonton dvd," kata karyawan yang bekerja di Plaza Semanggi ini.

Heri mengaku mengawali kegiatan tebeng-meneng pada tahun 2003. Setelah mengikuti milis, aktivitas itu makin serius dilakoni. Meskipun hampir tanpa kendala, dia mengaku kadang mengeluh juga soal kebersihan. Kadang ada saja penumpang yang membuang bungkus permen atau tisu sembarangan.

Lebih jauh, Pemberi tebengan atau tumpangan yang menjadi anggota komunitas nebeng, lanjut Rudyanto, adalah mereka yang memiliki mobil pribadi. Bagi mereka diwajibkan untuk mendaftar serta mengisi data-data pribadi. Setiap data yang diberikan akan dicek kebenarannya.

"Calon penebeng akan bertindak seperti marketing kartu kredit, mengecek keberadaan calon pemberi tebengan dengan menelepon ke kantor dan rumahnya, sesuai dengan nomor yang mereka berikan," imbuhnya.

Sejumlah pekerja kantor pulang dengan menggunakan jasa angkutan mobil pribadi di Kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (5/3)

Foto-foto: SP/Ignatius Liliek

Sejumlah pekerja pulang dengan menumpang mobil pribadi di kawasan SCBD, Jakarta, Selasa (4/3).

Menurut Rudyanto, tak hanya pemberi tebengan yang wajib mendaftar, calon penebeng atau penumpang juga diwajibkan mendaftar dan mengisi data-data pribadi, seperti telepon kantor dan alamat kantor, serta telepon rumah.

"Bagi mereka yang berniat menebeng, calon pemberi tebengan juga akan mengecek data-data calon mitra perjalanan mereka. Kalau kedua pihak telah merasa sama-sama aman, barulah terjadi kesepakatan di antara mereka," urainya.

Dalam kesepakatan tersebut, papar Rudyanto, akan diatur tentang tempat dan waktu pertemuan mereka setiap hari kerja. Dalam kesepakatan yang dibuat secara lisan tersebut, biasanya juga dibicarakan masalah biaya pergi-pulang yang harus dibayar si penebeng.

Bagi Ira Nadira, mendapatkan tumpangan dari pemilik mobil pribadi saat akan berangkat dan pulang kerja merupakan suatu keuntungan. Sebab, jarak antara rumahnya yang berada di kawasan Bogor dengan kantornya yang berada di Gatot Subroto, Jakarta Selatan cukup jauh.

Jika menggunakan angkutan umum, jelas Ira, ia harus berganti-ganti (turun-naik, Red) mobil, sebelum akhirnya tiba di kantor. Namun dengan menumpang mobil pribadi, ia cukup naik dari depan kompleks rumah dan turun di depan kantornya.

"Tentu jauh lebih praktis nebeng mobil pribadi daripada naik angkutan umum, karena saya nggak perlu ganti-ganti mobil untuk sampai di kantor atau pulang ke rumah," ungkapnya kepada SP, Rabu (5/4).

Menebeng angkutan umum berplat hitam ini, lanjut Ira, telah ia lakoni sejak lebih dari dua tahun lalu. Bahkan karena pindah tempat kerja, Ira pun telah dua kali berganti mobil yang ditumpangi.

"Karena pindah tempat kerja saya pun ganti mobil yang ditumpangi, karena dalam mencari mobil yang akan ditumpangi saya harus sesuaikan antara rute yang mereka lewati dengan daerah kantor saya," ujar Ira.

Untuk wilayah Tangerang-Jakarta, ungkapnya, biasanya ditetapkan tarif antara Rp 5.000 - Rp 10.000 per sekali jalan (pergi saja atau pulang saja, Red). Wilayah Bogor, sekitar Rp 10.000 - Rp 12.000, Bekasi sekitar Rp 7.000 - Rp 10.000.

"Ada juga di antara pemberi tebengan yang menetapkan biaya bulanan," tambah Rudyanto.

Tak jarang, dari awalnya mencari teman perjalanan, akhirnya kerja sama tebeng-menebeng ini pada akhirnya menjadi lahan bisnis bagi orang-orang tertentu. Meski demikian, sebagian besar dari pemberi tebengan adalah mereka yang memiliki pekerjaan utama.

"Pekerjaan memberi tebengan ini sekadar pekerjaan sampingan. Tapi banyak juga yang hanya sebagai usaha mencari teman seperjalanan. Daripada sepanjang jalan sendirian, lebih baik cari teman yang bisa diajak ngobrol dan syukur-syukur bisa ikut meringankan biaya tol, bensin dan uang makan siang," urainya seraya tertawa.

Pemberi tebengan yang telah terdaftar di komunitas nebeng, kata Rudyanto, akan diberi nomor nebeng (none) yang dapat ditempel di kaca mobilnya. Dengan demikian, para penumpang akan mudah mengenali mobilnya sebagai mobil pem-beri tebengan langganan mereka.

"None ini akan memudahkan kedua belah pihak untuk saling mengenali, terutama memudahkan penebeng untuk mengenali mobil yang akan ia tumpangi," ujarnya. [SP/Yumeldasari Chaniago]


Last modified: 6/3/08