SUARA PEMBARUAN DAILY

Urbanisasi di Makassar Membengkak

Ilham Arif Siradjuddin

[MAKASSAR] Urbanisasi menjadi masalah yang sangat serius dihadapi Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) saat ini. Setiap tahun pendatang dari berbagai daerah memadati wilayah kantong-kantong kemiskinan serta menambah beban sosial di kota itu.

"Penduduk Makassar dua tahun lalu sekitar 1,3 juta jiwa, sekarang sudah mencapai sekitar 1,6 juta jiwa," ujar Wali Kota Makassar, Ilham Arif Sira- djuddin, di Makassar, Selasa (4/3) malam, berkaitan meninggalnya seorang ibu hamil dan putranya, warga pendatang asal Kabupaten Bantaeng.

Membengkaknya jumlah penduduk dalam waktu yang singkat itu diakibatkan banyaknya pendatang yang mencari kehidupan di Kota Makassar dan sebagian besar dari mereka tidak tercatat sebagai penduduk Kota Makassar. Kaum urbanisasi umumnya keluarga miskin yang datang dari berbagai daerah.

Sesuai data dari Badan Pusat Statistik, tercatat warga miskin penerima bantuan tunai langsung di Makassar sebanyak 70.162 orang. Di luar dari data tersebut, masih ada penambahan sekitar 5.000 orang, sesuai hasil pendataan terbaru.

Dia tak membantah jika selama ini memang terdapat kelemahan aparat pemerintahan di tingkat bawah, mulai dari RT, RW hingga lurah. Banyak orang yang masuk di suatu wilayah tanpa melaporkan kedatangan.

"Mulai Rabu (5/3), 14 camat dan 143 lurah akan berkumpul dan semua saya perintahkan untuk lebih aktif mendata pendatang di daerah masing-masing dengan bantuan 974 RW dan 4.978 RT," tandasnya.

Prihatin

Ilham sangat prihatin dengan kematian Basse (35), ibu hamil tujuh bulan yang meninggal dunia bersama putranya, Bahar (7) di sebuah kamar kontrakan di Jalan Daeng Tata I Blok V, Setapak II, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Jumat lalu. Ini merupakan contoh masalah sosial yang dihadapi kaum urban, katanya.

Kasus itu dialami keluarga yang suka berpindah-pindah tempat tinggal dan itu sebenarnya kasus biasa. Korban terserang diare dan tidak mau berobat ke Puskesmas, meskipun diajak tetangganya, alasannya tidak punya biaya. Setelah korban meninggal, kasus kematiannya ditonjolkan sebagai korban kematian akibat kelaparan.

Korban datang ke Makassar bersama keluarganya, mengontrak rumah tanpa melapor ke RT dan RW, di situ terkena diare dan meninggal.

Kasus itu heboh dan menjadi konsumsi para politisi menjelang pemilihan kepala daerah wali kota. Warga yang meninggal itu karena kelaparan dan dituduh sebagai kelalaian wali kota. [148]


Last modified: 5/3/08