SUARA PEMBARUAN DAILY

Setahun Bersama Jasad Ibunya

SP/Ruht Semiono

Dua anak mengamati rumah yang menjadi tempat penemuan kerangka di Jalan Ternate 82, Cideng, Jakarta Pusat, Selasa (4/3).

Seperti kisah fiktif dalam film-film horor, seorang perempuan di Cideng, Gambir, Jakarta Pusat, betah tinggal bersama jasad ibunya selama setahun. Winarni Djuned yang biasa disapa Wice oleh tetangga, saat ini usianya tidak muda lagi. Ia sudah kepala lima alias 55 tahun.

Ketika ayah, Djuned dan ibunya Liem Hiang Nio alias Yanti Djuned masih hidup, Wice dikenal sebagai anak yang patuh dan taat. Tetangga juga mengenal mereka sebagai keluarga yang rukun dan terpelajar. Ayahnya membuka usaha berupa sebuah toko di rumahnya di Jalan Ternate No 82 RT 08/02 Cideng, Gambir, Jakarta Pusat.

Pak Djuned sudah tua, dan sejak 1998 kondisi kesehatannya mulai memburuk. Dua tahun ia berjuang melawan penyakitnya. Tetapi pada tahun 2000, ia meninggal dunia. Sejak kepergian sang ayah yang sangat dicintai dan dikasihi, Wice mengalami depresi berat. Hidup mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Jakarta Barat itu berubah.

Dia mulai patah semangat. Kuliahnya terhenti di tengah jalan. Belakangan, Wice mengalami gangguan jiwa. Ia stres dan belum bisa menerima kenyataan kematian ayahnya yang amat dia sayangi. Sementara Ibu Yanti Djuned juga semakin uzur, tidak bisa lagi mengurus toko sebagai satu-satunya tumpuan hidup mereka. Usaha itu pun ditutup.

Kehidupan terus berlangsung, walau terasa sepi dan datar. Wice kini hanya bersama ibunya. Dalam kondisi stres, ia masih membawa ibunya yang sudah renta berjalan-jalan di kompleks perumahan. Mereka berhenti sebentar, bertegur sapa dengan warga sekitar.

Akan tetapi, setahun belakangan, warga tidak pernah melihat Ibu Yanti keluar rumah. Hanya Wice yang sesekali terlihat. Tetapi Wice pun sering tidak pulang ke rumah. Warga curiga, ke mana Ibu Yanti? Siapa yang mengurusi perempuan tua renta itu?

Bau Busuk

Awal 2007, hujan terus mengguyur Ibukota. Jalan-jalan di kompleks digenangi air hingga setinggi lutut orang dewasa. Ketika banjir surut, warga membersihkan lingkungan dan rumah mereka. Saat itu, warga mencium bau busuk menyengat. Beberapa menduga, itu bau mayat dari rumah Ibu Yanti. Ketua RT 08/06, Djoko Sudianto ketika itu membantah. Tetangga sekitar rumah Ibu Yanti masih penasaran akan bau busuk itu. Bau itu aneh, karena bukan bau hewan yang mati.

Wice biasa saja menanggapi kecurigaan warga. Ia beraktivitas seperti biasa, walau belakangan jarang keluar rumah. Paling banter hanya untuk makan. Lampu luar rumah Wice selalu menyala, tetapi di dalam rumah mati. Rumah itu selalu gelap. Kecurigaan warga semakin bertambah ketika melihat perilaku Wice yang semakin aneh. Bila keluar rumah, pakaiannya tidak terurus, tetapi tidak juga kotor. Warga mengatakan, dulu pacar Wice sering mampir ke rumah itu. Tetapi dua tahun belakangan tidak lagi.

Suryo (60), satpam, mengakui Wice semakin aneh. Pakaiannya seadanya ketika ia berjalan ke warung tempat usaha ayahnya dulu. Ia menjual barang-barang itu untuk membiayai hidupnya. Suryo mengatakan, belakangan ini, setiap malam Wice selalu berteriak.

Swis Putranto, warga RT 08/06 Cideng, bahkan sering mendengar Wice berbicara sendiri. Bahasanya campur aduk antara bahasa Tionghoa dan Indonesia. Ketua RT pun merasa ada yang aneh dalam diri Wice. Beberapa saudara yang pernah mampir ke rumah itu selalu ditolak Wice. Kepada yang berkunjung, Wice selalu bilang, "Ibu baik-baik saja. Ibu masih hidup."

Pada Selasa (4/3) pagi, Caecilia Soegini, keponakan Ibu Yanti, dan Lilistina Mustika, bibi Wice datang ingin menjeguk Wice dan ibunya. Mereka tetap ditolak masuk. Kali ini, Caecilia dan Lilistina pantang mundur. Karena sudah lama penasaran mengapa Yanti tidak pernah terlihat, keduanya meminta bantuan Ketua RT dan bersama petugas keamanan mendobrak pintu rumah itu. Sebelum masuk, Waryono, sopir pribadi Lilistina, memanjat pagar rumah dan melihat kerangka kaki manusia. Caecilia dan Lilistina langsung histeris. Ia tak percaya Ibu Yanti sudah meninggal dunia.

Dibantu petugas kepolisian dari Polsek Gambir, keluarga memanggil Wice agar membukakan pintu. Tetapi tidak ada jawaban. Ketika pintu hendak didobrak, Wice muncul mengenakan pakaian dalam dan bertanya, "Ada apa ini ramai-ramai."

Rumah Wice berantakan. Semua perabotan berdebu. Tak terurus. Caecilia dan Lilistina langsung menuju kamar Ibu Yanti. Mereka terperangah dan histeris, Ibu Yanti sudah menjadi kerangka. Anehnya, tulang-tulang itu terlihat bersih." Rupanya Wice mengelap setiap saat tulang-tulang itu," kata Caecilia.

Di samping kerangka, terdapat dua gelas yang diletakkan persis di samping kasur tempat kerangka itu berbaring. Kasus itu sangat bersih, berbeda dengan sekelilingnya.

Ketika ditanya untuk siapa gelas itu, Wice mengatakan, dia baru saja memberi minum ibunya. Isak tangis Caecilia dan Lilistina semakin menjadi-jadi. Mereka tak menduga, Wice mengalami kelainan jiwa. Ketika kerangka Ibu Yanti diambil untuk diautopsi, Wice marah besar. "Ibu masih hidup. Ibu baik-baik saja," teriak Wice berkali-kali. Wanita itu pun dibius dan di bawa ke RS Jiwa Sumber Waras, Grogol. Keduanya kini berpisah. [Hendro Situmorang]


Last modified: 5/3/08