![]()
AP/Hatem Moussa
Mohammed Abu Shbak duduk bersama keluarga di rumahnya di Jebaliya, Selasa (4/3). Tiga hari setelah putra dan putrinya dimakamkan, Mohammed Abu Shbak akhirnya kembali ke Jalur Gaza.
ohammed Abu Shbak akhirnya tiba di Jalur Gaza, Selasa (4/3) siang, dua hari setelah anak perempuan dan lelakinya dimakamkan. Keduanya tewas akibat serangan Israel ke Gaza, Sabtu (1/3).
Abu Sbhak pulang dengan hati pilu. Ia tidak ada di Gaza ketika anak sulungnya, Jacqueline (17) dan adiknya Iyad (16) tewas ketika Gaza dibombardir Israel. "Ini bencana buat kami. Sang ayah tidak bisa menghadiri pemakaman anaknya," tutur Hatem, adik Abu Sbhak.
Tak banyak yang hadir di pemakaman dua remaja ini. Hanya nenek,kakek, dan paman yang menguburkan mereka. Kedua orangtuanya pun tak datang. Saat dikuburkan Abu Shbak berada di Ramallah, istrinya pun tak dapat keluar dari rumah mereka di Jebaliya karena pertempuran sengit terus terjadi.
Abu Shbak adalah salah seorang tokoh Fatah yang berpihak pada Presiden Mahmoud Abbas. Ia, seperti ratusan pengikut Fatah lainnya, angkat kaki dari Gaza begitu Hamas menguasai wilayah tersebut, Juni 2007. Banyak loyalis Fatah mengalir ke Tepi Barat. Akibatnya Palestina terbelah, Hamas menguasai Gaza dan Fatah mengendalikan Tepi Barat. Abu Shbak tinggal di Ramallah, Tepi Barat dan terpisah dari istri dan kelima anaknya.
Dalam beberapa hari terakhir, Israel melancarkan operasi ofensif ke Jalur Gaza untuk menghentikan serangan roket yang dilakukan Hamas. Saling serang berlangsung tetapi jumlah korban sipil terbanyak di pihak Palestina. Sebanyak 120 warga Gaza tewas sementara di pihak Israel, dua tentara dan mahasiswa meninggal.
Persatuan
Abu Shbak tak berdaya menyaksikan siaran berita di Ramallah. Ia pun terjatuh setelah kawan-kawannya memberitahukan bahwa dua anaknya jadi korban. Padahal baru 20 menit lalu, Jacqueline dan Iyad menelepon dirinya. "Ia terkejut bukan kepalang. Sampai-sampai kalau telepon berdering dia mengira itu anaknya dan minta dijawab," ujar seorang kawannya yang tak mau disebut jati dirinya.
Para loyalis Fatah mengatakan Hamas memperingatkan Abu Shbak untuk tidak pulang ke Gaza. Tokoh-tokoh Hamas di Jebaliya sudah mengancam kehadiran Abu Shbak tak akan ditolerir. Namun, Hamas menyangkal hal itu. Setelah beberapa petinggi Hamas secara pribadi mengajak langsung Abu Shbak untuk pulang ke Gaza, barulah ia merasa aman. Ia pun bergegas pulang untuk menemui keluarganya. Abu Shbak yang tampak kuyu tak sanggup menahan kesedihan ditinggal dua anak sekaligus. Ia memeluk kedua orangtuanya.
Dalam kedukaan itu, ia mengimbau agar kon- flik internal segera diakhiri. "Saya mengabdikan dua anak saya sebagai martir persatuan (Palestina)," isaknya ketika diwawancarai Associated Press, kemarin.
Tragedi keluarga Abu Shbak menyentak seluruh warga Gaza yang kini tinggal di Ramallah, Tepi Barat. Banyak dari mereka yang bernasib sama, terpisah dengan keluarganya. Di satu sisi tak bisa pulang karena takut jadi sasaran balas dendam Hamas. Di sisi lain mereka pun tak bisa membawa keluarganya untuk tinggal di Ramallah. [Y-2]