[WASHINGTON] Setelah bergulirnya kontes pencalonan di Partai Demokrat selama 14 bulan, para pemilih di empat negara bagian yakni Ohio, Texas, Rhode Island, dan Vermont dalam pemilihan pendahuluan (primary), Selasa (4/3) atau Rabu pagi WIB, harus memutuskan apakah Barack Obama adalah kandidat tunggal yang benar-benar pantas diajukan partai untuk bertarung di pemilihan Presiden AS November mendatang. Mereka juga harus membuat keputusan cermat apakah Hillary Rodham Clinton dapat tetap mempertahankan pencalonan.
Pemilihan pendahuluan serentak di empat negara bagian, Selasa, sejak awal diperkirakan bakal menjadi momentum ujian bagi Obama apakah ia dapat mengatasi sesumbar Hillary yang berkali-kali menyebutkan Partai Demokrat belum siap untuk mengabaikan pencalonan mantan Ibu Negara yang berbekal segudang pengalaman.
Dari empat negara bagian, Vermont adalah wilayah pertama yang memberikan kemenangan pada Obama. Sementara perebutan suara antara Obama-Hillary di Ohio berlangsung sangat ketat.
Sejumlah jajak pendapat yang dilakukan Associated Press di Vermont memperlihatkan Obama, senator Illinois, menang mudah di seluruh kelompok demografis, termasuk para pemilih dari kalangan perempuan berkulit putih serta warga berpenghasilan rendah, yang sejak lama dikenal merupakan basis suara bagi Hillary.
Dukungan Besar
Tetapi di Ohio, Hillary memperlihatkan keperkasaan dengan meraih dukungan suara besar dari basis pendukungnya, termasuk warga AS berkulit putih baik laki-laki maupun perempuan, para pemilih berpendidikan rendah serta berusia lanjut, maupun para anggota serikat pekerja. Obama, yang berhasrat menjadi Presiden AS berkulit hitam pertama, di sisi lain juga mampu mengimbangi kekuatan Hillary. Di Ohio, ia memenangkan hampir seluruh suara warga kulit hitam maupun dukungan dari kelompok muda, serta para pemilih dari kalangan kaya.
Dalam sejumlah wawancara, Selasa (4/3), Hillary mengatakan, ia tidak ingin membuat keputusan apa pun tentang masa depan kampanyenya hingga suara yang terakhir rampung dihitung.
"Saya tidak ingin berpikir dulu tentang apa yang akan saya lakukan sebelum kita semua mengetahui apa yang terjadi hari ini. Ini perjalanan yang sangat panjang," kata Hillary dalam Evening News di CBS.
Tetapi, setelah 11 kekalahan telak dari Obama sejak diselenggarakannya Super Tuesday pada 5 Februari lalu, sejumlah kalangan memperkirakan sulit bagi Hillary untuk tetap melaju dalam pencalonan tanpa didahului adanya kemenangan solid di Ohio dan Texas.
Mantan Presiden AS Bill Clinton, pendukung terkuat pencalonan Hillary, juga menyampaikan penilaian serupa setidaknya pada pekan lalu. "Jika Hillary menang di Ohio dan Texas, saya pikir kampanye dia akan tetap berlanjut," kata Andrew Polsky, profesor ilmu politik di Hunter College, New York.
"Tetapi apabila ia kalah di Ohio dan Texas, saya pikir ia harus mundur dari pencalonan. Sedangkan jika ada hasil yang berbeda antara di Ohio dan Texas, ia harus membuat keputusan apakah pencalonan tetap diteruskan atau tidak. Hillary telah memperlihatkan adanya keinginan nyata untuk mempertahankan masa lalu, di mana banyak kandidat akan menanggapinya dengan mengatakan cukup sudah!" kata Polsky.
Tentu saja, Hillary sejauh ini tetap tabah menghadapi berbagai bentuk penghinaan, mulai dari kekalahan beruntun dari Obama, hingga adanya keputusan sejumlah delegasi super (superdelegate) untuk mencabut dukungan mereka pada mantan Ibu Negara tersebut. Salah seorang delegasi super pendukung Hillary dari kelompok kulit hitam yang ternama, John Lewis, anggota DPR AS dari Partai Demokrat untuk daerah pemilihan Georgia, memutuskan mencabut dukungan dan mengalihkan suara pada Obama. [AP/E-9]