![]()
AFP
Para Pemenang Academy Awards ke-80 (dari kiri): Aktor Terbaik Daniel Day-Lewis ("There Will Be Blood"), Aktris Pendukung Terbaik Tilda Swinton ("Michael Clayton"), Aktris Terbaik Marion Cotillard ("La Vie En Rose") dan Aktor Pendukung Terbaik Javier Bardem ("No Country For Old Men") berpose dengan Piala Oscar masing-masing di the Kodak Theater, Hollywood, California, AS, saat malam penyerahan trofi.
iala Oscar akhirnya berlabuh ke tangan para pemenang, setelah ancaman boikot dari Perkumpulan Penulis Amerika Serikat berhasil dihentikan dengan kesepakatan sementara. Aktor, aktris, sutradara dan produser, silih berganti naik ke atas panggung menerima piala. Haru dan gembira dirasakan oleh mereka yang berada di atas panggung itu. Seperti yang dirasakan aktris Tilda Swinton.
Swinton yang meraih Oscar untuk peran pendukung di film Michael Clayton, tidak dapat berkata apa-apa. Satu kata yang terucap berulang-ulang saat melangkah menuju panggung adalah "Wow!" Bahkan hingga naik ke panggung pun kata itu terus terucap. Sampai Alan Arkin yang bertugas membacakan pemenang menyerahkan amplop hasil keputusan dewan juri. "Oh ya. Ini buktinya," ujar Arkin kepada Swinton.
Kemenangan Swinton memang tidak diprediksi sebelumnya, apalagi di ajang Golden Globe, Swinton dikalahkan Cate Blanchett. Tidak hanya Swinton, Marion Cottilard pun tidak menyangka mendapat Oscar untuk aktris utama terbaik. Di ajang itu dia berhasil mengalahkan Cate Blanchett dan Julie Christie.
Melihat hasil Academy Awards kemarin, memang ada sesuatu yang menarik. Semua aktor dan aktris peraih Piala Oscar berasal dari daratan Eropa. Selain Tilda Swinton dan Marion Cottilard, Daniel Day Lewis dan Javier Bandem meraih Oscar untuk aktor utama terbaik dan aktor pendukung terbaik. Masing-masing berasal dari Inggris dan Spanyol. Dominasi Eropa di Hollywood pun mencuat. "Hebat. Hollywood sedang dibangun oleh orang Eropa," ujar Marion Cottilard usai menerima penghargaan itu.
Sebenarnya aktor atau aktris asli Amerika cukup bersaing dalam ajang Academy Awards kali ini. Di kategori aktor utama, ada nama George Clooney dan Johnny Depp, sementara di aktris utama ada nama Cate Blanchett dan Julie Christie. Untuk kategori pemeran pendukung pun ada nama Casey Affleck dan Amy Ryan. Namun, nama-nama itu tidak berbicara banyak. George Clooney yang dijuluki "The Golden Boy" Hollywood pun harus mengakui keunggulan Daniel Day Lewis, begitu pula Julie Christie yang harus mengakui keunggulan Marion Cottilard.
Melihat dominasi aktor dan aktris Eropa pada penyelenggaraan Oscar kali ini merubah perdebatan sebelumnya yang dikaitkan dengan isu gender dan warna kulit. Penelitian University of Southern California (USC) beberapa waktu lalu, menyatakan ada kesenjangan gender dan warna kulit dalam Oscar.
Penelitian itu menyebutkan statistik yang tetap tidak berubah selama tiga dekade, bintang film pria yang memegang peran penting jumlahnya hampir empat kali lipat daripada wanita. Dari aktor-aktor itu kebanyakan berkulit putih.
"Penemuan ketidakseimbangan gender ini merupakan suatu kehidupan kecil dari fenomena keterwakilan yang jauh lebih besar dalam film dan televisi Amerika," tutur Stacy Smith, dari USC yang menyusun studi itu.
Kriminal
Namun sebenarnya kemenangan seorang aktor atau aktris sangat ditentukan oleh kemampuannya berakting. Kemampuannya berakting juga tidak bisa dilepaskan dengan karakter yang dimainkan. Karakter ini pula yang mempengaruhi mood sebuah film.
Jika melihat mood film-film yang masuk nominasi, pemenangnya kebanyakan film-film yang memiliki mood kelam dan menampilkan sosok kriminal yang ekstrem.
Dari lima nominasi film terbaik Academy Awards kali ini, hanya Juno yang dikategorikan sebagai drama komedi. Sisanya drama yang membungkus kisah dunia kriminal yang kelam dan sedih. Film-film seperti There Will Be Blood, Michael Clayton dan No Country for Old Men, membungkus kelamnya dunia kriminal. No Country for Old Men yang dinobatkan sebagai film terbaik adalah film yang menampilkan kekerasan. Film ini berkisah tentang seluk-beluk perdagangan obat terlarang di perbatasan Meksiko tahun 1890-an.
Sementara, There Will Be Blood yang menjadi saingan utama No Country for Old Men juga merupakan film bertema kekerasan. Kisah pendulang minyak di Amerika pada tahun 1800-an diangkat dengan gaya yang kelam. Hal yang sama dengan film Michael Clayton. Michael Clayton yang menjadi debut sutradara Tony Gilroy mengangkat kelamnya kehidupan seorang pengacara saat menghadapi kasus.
Sebenarnya jika dilihat dari catatan pemenang Oscar, tidak sedikit film-film bertema kekerasan dan mood yang kelam dipilih menjadi film terbaik. Film-film seperti Silence of The Lambs, Unforgiven, dan The Departed berhasil dinobatkan sebagai film terbaik Oscar.
Bagi para penulis skenario dan sutradara Hollywood film kriminal yang menyuguhkan sisi kelam mungkin sangat menarik. Duet sutradara dan penulis, Joel dan Ethan Coen menjadi bukti bagaimana kisah-kisah kelam dunia kriminal menjadi sesuatu yang menarik. Kisah itu bisa diangkat ke dalam skenario yang apik. Bahkan sejumlah kritikus pun memuji film itu.
Prestise
Namun dibalik hasil penilaian dewan juri itu, hal lain yang menarik dari penyelenggaraan Academy Awards kali ini adalah berhentinya dua kubu yang berseteru. Sebuah kabar gembira usai penyelenggaraan Academy Awards ke-80, adalah penandatanganan kesepakatan antara penulis cerita film dan televisi Amerika Serikat (WGA) dengan para produser yang tergabung dalam Persatuan Produser Film dan Televisi (AMPTP). Kesepakatan ini membuka babak baru bagi industri film di Hollywood.
Hal ini menjadi bukti bahwa Academy Awards, menjadi suatu hal yang sangat dihormati oleh insan film di sana. Karena Piala Oscar itulah, para insan film yang berseteru mau duduk bersama mencapai kesepakatan. Ajang kali ini menjadi sebuah pembuktian prestise Piala Oscar oleh insan film Amerika Serikat.
Mereka bisa mencapai kesepakatan tanpa harus melalui campur tangan pihak lain, baik pemerintah maupun jalur hukum. Ini mungkin bisa jadi hikmah bagi insan film Tanah Air di tengah perseteruan Undang-Undang Perfilman. [SP/Kurniadi]