
erupa Awan Parulian Simatupang mengungkap interaksi antara manusia dengan lingkungan lewat karya-karya tiga dimensinya di pameran gabungan bertajuk Ruang dan Subyek, yang digelar di Galeri Lontar, Utan Kayu Jakarta, pekan lalu.
Bila diamati, tema rumah sangat menarik perhatian Awan. Baginya, rumah bukan hanya arsitektur dan fungsi, tetapi juga metafora ruang di mana manusia tinggal.
"Rumah yang paling kecil adalah jabang bayi dalam kandungan, keluarga, masyarakat, bangsa, bahkan dunia dapat disebut rumah," kata Awan.
Meskipun karya-karya Awan berbentuk rumah, dia mampu memberi arti yang berbeda-beda pada setiap karyanya. Konsep itu diperlihatkan dari setiap bentuk rumah yang dibuatnya tidak selalu sama. Karakter berbeda tersebut ditonjolkan dengan tarikan garis yang tidak statis, melainkan dinamis.
"Dengan demikian, garis yang saya ciptakan dapat terlihat luwes saat divisualisasikan," katanya.
Dalam karya berjudul Next, Awan menggambarkan keluarga yang terdiri atas seorang ayah, ibu, dan anak. Satu keluarga yang tengah meniti kehidupan di tengah banyaknya persoalan digambarkan dengan tiga anggota keluarga yang berjalan perlahan di ujung atap rumah dan hampir jatuh.
Awan menggambarkan interaksi antara subjek dengan ruangnya dalam karya berjudul, Kenangan 2 yang dibuat tahun 2006 dengan media stainless steel. Kenangan 2 menghadirkan suasana sunyi yang diwakili bentuk rumah dan pohon miring seakan terbawa kencang searah hembusan angin.
Dalam berkarya, menurut pria yang mengecam pendidikan di Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta itu, inspirasinya seringkali datang tanpa diduga. Awan mengaku lebih senang mencari nafkah dan menghidupi keluarganya dengan nafkah seniman kendati uang yang dihasilkan tidak terlalu banyak.
Menurut kurator Asikin Hasan, karya Awan penuh dengan idiom-idiom atau ungkapan hati. Idiom yang berusaha bercerita tentang hubungan antar ruang dan subjek.
"Patung-patung hasil karya Awan dapat dikatakan tidak lazim untuk seni modern, dia meminjam media ungkap rumah dan subjek sebagai metafora," ujar Asikin.
Di samping karya Awan, juga dipamerkan karya Redy Rahadian. Pria yang lulus dari Belgia ini pernah menggelar pameran tunggal bertajuk Intensitas di Galeri Lontar, Jakarta. Karyanya berjudul Getting Old dan No Pain, No Game menarik perhatian pengunjung.
Asikin menilai karya-karya patung figur yang dibuat Redy memiliki titik-titik yang jelas dan dapat diraba. Karyanya yang berjudul Getting Old, menurut kurator, dibuat saat Redy mengalami tekanan yang sangat dalam.
"Semakin seorang seniman tertekan, semakin baik karya yang akan diciptakannya. Karena seni memiliki muatan emosi yang dapat menciptakan hal-hal yang unik dan bernilai tinggi," ujar Asikin.
Karya-karya pelukis Andy Dewantoro, dan Okky Arfie Hutabarat juga mengisi pameran Ruang dan Subyek. [WWH/N-4]