[JAKARTA] Pemerintah optimistis mampu meningkatkan angka rata-rata ekspor dalam European Free Trade Association (EFTA) dari sekitar 10 persen menjadi sebesar 15 persen di tahun 2008. .
Saat ini kontribusi dari anggota EFTA seperti Islandia sekitar US$ 6 juta, Swiss US$ 142 juta dan Norwegia US$ 124 juta. Angka ini meningkatkan impor negara-negara EFTA dari Indonesia sebesar 24 persen dari tahun 2006. Sementara itu, total ekspor EFTA ke Indonesia sebesar US$ 455 juta dengan total ekspor impor keseluruhan mencapai US$ 728 juta di tahun 2007.
Demikian dikemukakan Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Departemen Perdagangan Bachrul Chairi kepada SP di sela-sela Seminar Ekspor Produk Perikanan dan pertanian di Sari Pan Pasific Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (4/3).
Produk unggulan yang diimpor negara-negara EFTA dari Indonesia yakni, elektrikal, pakaian jadi, dan alas kaki, disamping barang-barang lainnya seperti, produk kosmetik, kayu, jam tangan, kopi, dan teh. Sementara Indonesia banyak mengekspor produk farmasi dan alat medis.
Secara global di pasar dunia, berdasar data Badan Pusat Statistik, tren ekspor Indonesia memang tengah meningkat. Ekspor Indonesia pada Januari 2008 mencapai US$ 11,08 miliar. Jumlah ini meningkat 33,19 persen dibanding periode yang sama di tahun 2007. Namun, sumbangan ekspor dari sektor industri justru "loyo." Ekspor produk industri turun menjadi 63,53 persen dari sebelumnya 64,53 persen.
Saat ini, pemerintah tengah memfokuskan produk pertanian dan perikanan untuk diekspor ke negara-negara EFTA. Menurut Bachrul, hasil pertanian dan perikanan Indonesia berpotensi besar untuk dipasarkan ke negara-negara EFTA.
Produk perikanan tuna misalnya. Untuk pasar Uni Eropa, Indonesia mendapat pembagian kuota paling kecil yakni, tujuh persen. Kuota ini sangat kecil jika dibandingkan Thailand, 60 persen dan Filipina, 12 persen.
"Dulu, Indonesia dianggap tidak siap sementara produk perikanan Thailand dan Filipina telah memenuhi standar. Sekarang, kita bisa klaim, kita bisa membuktikan hasil pertanian dan produk perikanan kita berpotensi besar untuk diekspor ke pasar Uni Eropa," ujar Bachrul.
Oleh karena itu, pemerintah melalui departemen terkait antara lain, Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) tengah bersinergi dan berkoordinasi membahas standar hasil pertanian dan produk perikanan agar dapat diekspor ke pasar Uni Eropa.
[CNV/M-6]