SUARA PEMBARUAN DAILY

Daya Beli Masyarakat Turun

[JAKARTA] Keputusan pemerintah untuk melakukan koreksi pertumbuhan ekonomi terjadi terutama karena penurunan investasi dan ekspor serta daya beli masyarakat turun karena kenaikan harga-harga pangan. Untuk pertumbuhan konsumsi (consumption growth), pemerintah memprediksi hanya akan terjadi sebesar 5 persen, di bawah proyeksi awal sebesar 5,9 persen.

Demikian diungkapkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Selasa (4/3) malam di Jakarta.

"Sebenarnya, kalau dilihat dari data historis, perekonomian Indonesia bisa tumbuh secara cukup tinggi di atas 6 persen bahkan 7 persen. Itu biasanya ditopang consumption growth yang mendekati 6 persen. Ini karena berhubungan dengan variabel mengenai inflasi. Untuk 2007 kita dengan pertumbuhan ekonomi 6,3 persen, konsumsi masyarakat meningkat sebesar hampir 5 persen, yaitu 4,9 persen," paparnya.

Oleh karena itu, menurutnya, waktu pemerintah mengatakan target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2008 sebesar 6,8 persen, itu sebagian besar dikarenakan variabel dari konsumsi yang diperkirakan akan mengalami peningkatan sebesar 5,9 persen. Ini tentu bisa dijelaskan terutama asumsi stabilitas harga, kemudian daya belinya yang meningkat karena kebijakan-kebijakan pendapatan pemerintah maupun berbagai kegiatan ekonomi yang meningkatkan daya beli. Di antaranya seperti proyek-proyek infrastruktur dan proyek-proyek pemerintah di bidang pengentasan kemiskinan.

Tentu saja, pemerintah sebenarnya berasumsi bahwa BI bisa menjaga dari purchasing power melalui inflasi yang stabil dan cukup rendah juga nilai tukar yang cukup stabil. Namun, karena ekonomi 2008 dibayangi oleh harga komoditi, dan bahkan harga minyak, tentu sedikit banyak akan mempengaruhi daya beli masyarakat.

"Meskipun kita masih berikan subsidi, namun harga BBM non subsidi telah mengalami kenaikan. Sehingga kita prediksikan petumbuhan konsumsi lebih kecil atau lebih rendah dari proyeksi awal sebesar 5,9 persen," tuturnya.
Lebih lanjut lagi, Menkeu menjelaskan, BBM sangat berhubungan dengan angka pertumbuhan konsumsi. Hubungan antara harga BBM dengan tingkat pertumbuhan konsumsi pada 2008 akan mengalami leveling off. Sehingga, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi yang diprediksi flat atau bahkan menurun.

Kemudian, turunnya proyeksi konsumsi dalam APBN-P 2008 juga disebabkan rata nya pertumbuhan kredit konsumsi sejak 2007.
Selain itu, indikator yang lain adalah pembelian dan penjualan mobil motor yg dua-duanya mengalami peningkatan yang cukup tinggi pada 2007. Namun pertumbuhan yg sama tidak akan terjadi di 2008.

"Namun kami prediksi, akan tetap stabil di level yang cukup tinggi tersebut," tuturnya.


Asumsi Makro

Sebelumnya, pemerintah secara resmi mengajukan asumsi dasar makro dan APBN-P 2008 kepada Panitia Anggaran DPR. Asumsi harga minyak diubah dari US$ 60 per barel menjadi US$ 83 per barel. Sementara lifting minyak turun dari 1.034 juta kiloliter perhari menjadi 910 ribu kiloliter perhari. Untuk nflasi dan pertumbuhan ekonomi, pemerintah menargetkan angka 6,5 persen dan 6,4 persen, dengan nilai tukar rupiah berada di kisaran 9.150 per US$ dan suku bunga SBI sebesar 7,5 persen.

Koreksi ini dilakukan akibat adanya krisis ekonomi dunia yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Pemerintah, menurut Menkeu, akan menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan pemerintah.

"Karena ini merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk menjaga momentum pertumbuhan kita," ujarnya.
Di penghujung rapat, Komisi XI DPR menyepakati asumsi makro yang diajukan pemerintah, yakni pertumbuhan ekonomi 6,2-6,4 persen, inflasi 6-6,5, SBI 3 bulan 7,5-8 persen, nilai tukar Rp 9.050-Rp 9.150.

"Kita sepakati dalam kisaran untuk memberikan ruang pembahasan bagi panitia anggaran," kata Ketua Komisi XI, Awal Kusumah. [D-10]


Last modified: 5/3/08