SUARA PEMBARUAN DAILY

TAJUK RENCANA II

Medvedev Presiden Baru Rusia

Rusia telah menyelenggarakan pemilihan umum (pemilu) parlemen 3 Desember 2007 dan pada tanggal 2 Maret 2007 melanjutkan proses demokrasi politiknya dengan pemilu presiden. Vladimir Putin pengganti mendiang Presiden Boris Yeltsin pada tahun 2000, harus mengakhiri jabatannya pada awal Mei 2008, setelah Komisi Pemilihan Umum Rusia 3 Maret 2008 mengumumkan, bahwa sekitar 70 persen suara diberikan kepada Dmitry Medvedev, Deputi PM yang juga pilihan Putin.

Proses demokrasi Rusia telah berjalan melalui pemilu parlemen dan pemilu presiden, namun pengamat Barat dan AS masih mengecam terjadi kecurangan. Sebagian pemilih mengatakan mendapat tekanan dan intimidasi, agar mereka datang ke tempat pemberian suara.

Kita tak perlu mengintervensi masalah domestik Rusia, dan pemerintahnya mengeluarkan pernyataan resmi bahwa pemilu telah berjalan dan calon pengganti Vladimir Putin, yakni Dmitry Medvedev meraih suara terbanyak (70 persen). Sisa suara diberikan pada Partai Komunis (18 persen) dan beberapa partai kecil lainnya.

Kehadiran 65 persen pemilih dari 109 juta pemilih terdaftar yang datang memberikan suara di 96 ribu TPS, menunjukkan kesadaran berdemokrasi rakyat Rusia. Rusia adalah negara yang baru beralih dari sistem otoriter ke sistem demokrasi. Oleh karena itu, terjadi penyimpangan, atau rekayasa agar Partai Rusia Bersatu yang menjagoi Putin, Medvedev dan pusat kekuasaan Kremlin, fenomena itu wajar-wajar saja. Toh komunisme Soviet baru runtuh tahun 1991 oleh tokoh refromasi Mikhail Goerbachev penggagas perestroika dan glasnost.

Dunia mencatat, bahwa Rusia yang terinspirasi oleh gagasan Gorbachev dan parade demokrasi mendiang Boris Yeltsin diputar kembali arahnya oleh Vladimir Putin. Putin dengan Partai Rusia Bersatu memang tidak memberdayakan kembali kejayaan komunisme. Namun dia menempatkan kembali Rusia sebagai adidaya pasca Uni Soviet, setelah ekonominya kolaps 40 persen. Bila Putin dianggap mempertahankan keadidayaan Rusia, maka penggantinya Medvedev akan membawa Rusia ke arah tuntutan globalisasi, dengan lebih terbuka, menghentikan "permusuhan dengan AS dan Barat", dan meneruskan program kesejahteraan rakyat Rusia dengan hasil migas yang berlimpah

Medvedev sebagai pengganti Presiden Putin berjanji meneruskan amanat dan program-program Putin. Namun dalam kondisi Rusia, Uni Eropa dan dunia di era keterbukaan, Medvedev yang berlatar belakang pengacara korporasi dan peminat hukum amat mungkin beralih langkah dari promotornya Vladimir Putin.

Rusia memang berjaya karena Siberia, Laut Hitam, Kaukasus dan Kutub Utara memiliki deposit migas yang cukup besar (kedua setelah Arab Saudi) dan menjanjikan. Eropa, AS, Tiongkok dan Jepang akan menggantungkan kebutuhan migasnya pada Rusia, untuk mempertahankan operasional industri mereka sebagai adidaya ekonomi dunia.

Maka Medvedev yang dijuluki "Boneka Putin" (Putin akan menjabat PM) tentu berpeluang mengkonsolidasikan bahkan meningkatkan kemampuan Rusia. Baik sumber daya alam, teknologi maupun sumber daya manusianya untuk menjaga keutuhan adidaya Rusia. Dengan begitu potensi ekonomi, militer dan teknologi Rusia tetap menjadi yang utama di samping AS, Jepang, Jerman, Tiongkok dan India.

Dmitry Medvedev (resmi menjabat 7 Mei 2008) bukan hanya meneruskan kebijakan mentornya Putin (keduanya akan bersama memerintah), juga menjalankan mandat Partai berkuasa Rusia Bersatu yang memiliki 306 dari 450 kursi di Duma (Parlemen Rusia). Politik Rusia yang berproses dan Medvedev masih terkait mengikuti pola kekuasaan lama.


Last modified: 4/3/08