SUARA PEMBARUAN DAILY

Perintis GBI Itu Telah Pergi

Oleh Hadi Satyagraha

Gereja Bethel Indonesia (GBI) kehilangan Bapak Rohani. Pdt Dr Ho Lukas Senduk dipanggil pulang ke Rumah Bapa pada Selasa, 26 Februari 2008, di Rumah Sakit Pondok Indah. Oom Ho, panggilan akrab Pdt Senduk, lahir dengan nama Ho Liong Seng tahun 1917 di Ternate, besar di Manado. Ia menerima Kristus di Ambon pada usia 18 tahun. Setahun setelah itu, ia ke Surabaya sekolah di Netherlands Indies Bible Institute (NIBI), sekolah Alkitab yang dirintis oleh Bethel Pentecostal Temple dari Seattle, AS. Menikah dengan Thee Koan Nio, yang lahir di Ambon.

Bersama 22 pendeta Geredja Pantekosta di Indonesia, tahun 1952 Oom Ho mendirikan dan menjadi pimpinan Geredja Bethel Indjil Sepenuh (GBIS). Saat bersamaan ia juga mendirikan Yayasan Bethel yang berfungsi untuk mendukung dan melaksanakan kegiatan GBIS dalam bidang pendidikan Alkitab, pendidikan umum, dan pelayanan masyarakat. Perselisihan faham mengenai rencana amalgamasi dengan Church of God (COG) dari AS menyebabkan ia harus keluar dari GBIS. Bersama 129 pendeta GBIS, ia mendirikan GBI di Sukabumi tahun 1970. Delapan periode (1972-1994) ia menjadi Ketua Sinode GBI.

Gereja Bethel Indonesia (GBI) itulah warisan yang ditinggalkannya. Sekarang Sinode GBI beranggotakan 4.607 GBI yang ada di Indonesia, Amerika, Australia, Eropa, dan Singapura, yang dilayani sekitar 12.000 hamba Tuhan. Ia juga mewariskan Seminari Bethel yang telah meluluskan banyak sekali penginjil dan sarjana teologi, dan sejumlah sekolah umum. Tergolong produktif, Oom Ho menulis sejumlah buku yang dijadikan referensi bagi para pendeta GBI. Sungguh legacy yang tidak mudah dicapai sembarang orang.

Dari eulogy yang disampaikan dalam serangkaian Kebaktian Penghiburan di GBI Wahid Hasyim maupun GBI Asam Lama dan Kebaktian Pemakaman di TPU Petamburan, banyak yang memiliki kesan mendalam mengenai Oom Ho. Oom Ho dilukiskan sebagai legenda panutan (Pdt Erastus Sabdono), penasehat (Pdt Niko Nyotoraharjo), passion melayani Tuhan (Pdt Yorry Tasik), guru (Pdt Jacob Nahuway), pemimpin sejati (Pdt Suryadi), berdoa untuk murid-murid nya (Pdt Pudjo Abednego).

Steve Senduk, putranya, melihat Oom Ho sebagai seorang visioner. Ia mampu melihat kebutuhan GBI akan SDM yang handal dengan memulai Sekolah Penginjil Bethel di Petamburan. Reverend Paul Walker, perwakilan COG, yang hadir dalam Kebaktian Penghiburan melihat visi Oom Ho jugalah yang telah melahirkan amalgamasi dengan COG. Amalgamasi dengan COG menghasilkan gedung Seminari Bethel tempat SDM GBI dibentuk dan School of Theology dari Church of God menjadi tempat bagi pendeta GBI terpilih -Amos Hosea, George Tapiheru, Julius Ishak, SJ Mesach, Soeprapto, Suhandoko Wirhaspati, melanjutkan pendidikan mereka di AS. Ia juga mencanangkan selaksa GBI di muka bumi!

Disiplin

Penulis merasa amat beruntung dapat mengenalnya dari dekat. Sepeninggal ayah, sejak usia 16 tahun, Oom dan Tante Ho serta ketiga anak mereka menerima penulis numpang hidup di rumah mereka di Petamburan. Selama bertahun-tahun mereka memperlakukan penulis seperti layaknya 'the other brother' yang perlu diayomi. Oom dan Tante Ho telah membiayai sekolah sampai pendidikan tinggi yang akhirnya memungkinkan saya menempuh jenjang pendidikan formal tertinggi. Dari kontak yang cukup intens selama hidup di rumah keluarga Senduk itulah, in memoriam ini ditulis.

Disiplin. Hidupnya setiap hari bagaikan sudah diprogram. Setiap hari ia memulai harinya dengan doa pagi. Kegiatan rutinnya mengajar di Sekolah Penginjil siang dan sore. Selesai mengajar ia bekerja di kantor sambil belajar. Hari-harinya juga diisi dengan kegiatan diakonia mengunjungi dan berdoa bagi anggota jemaatnya yang sakit dan kesusahan.

Penulis amat terkesan dengan kedisiplinan tersebut. Salah satu penyebab krisis bangsa kita adalah ketiadaan disiplin dalam berbagai bidang kehidupan. Disiplin dalam bekerja dan disiplin dalam menjalani hidup dari pendapatan yang halal.

Belajar terus menerus. Hal lain yang juga amat menonjol adalah dia orang yang terus belajar, yang dia lakukan secara mandiri. Dalam mendalami bahasa Inggris, ia mengambil kursus dari Pouw's College di Bandung. Untuk teologi ia mengambil kursus tertulis dari American Bible College di AS yang kemudian memberinya gelas Doctor of Divinity. Ruang kerja penuh dengan buku baik. Di tengah kesibukannya mengajar dan melayani jemaat GBI Petamburan dan Wahid Hasyim, ia terus belajar secara mandiri

Memaafkan. Tentang Oom Ho, Pdt SJ Mesach dari GBI Petamburan amat terkesan akan sikapnya yang selalu memaafkan. Dia bisa memaafkan orang yang mengecewakannya. Ini pun dialami penulis saat mengkritisi proses amalgamasi GBI dengan COG.

Dapat dipahami kekecewaan Oom Ho sekeluarga. Anak yang dibesarkannya malah turut mengkritisi inisiatif besarnya. Sempat beberapa lama, penulis menjadi bak seorang outcast di keluarga Senduk. Namun, dia bukan hanya memaafkan penulis, tetapi bagaikan menerima 'anak yang hilang (the prodigal son)', memberikan penghormatan yang amat tinggi -mungkin penulis tidak pantas menerimanya- ketika pada awal tahun 1990-an menjadikan penulis Staf Ahli GBI, saat dia menjabat Ketua Sinode GBI. Sungguh luar biasa! Oom Ho bukan hanya berkhotbah tentang memaafkan, tetapi ia juga telah mempraktekkannya. He practiced what he preached!

Demokratis. Ini adalah sifat lain Oom Ho. Dalam budaya manapun, terutama budaya Indonesia, seorang yang berkuasa cenderung otokratis. Pernah saya bersama Tante Ho menonton televisi (awal 1960-an TV merupakan barang mewah) dan tiba saat azan maghrib. Oom Ho meminta agar TV dimatikan. Tante Ho menjawab "Seng, ini Negara Pancasila!" Beliau sempat tertegun atas reaksi Tante Ho. Tapi itulah Oom Ho. Ia menurut dan membiarkan kami mendengar azan maghrib.

Sikap demokratisnya juga ditunjukkan dengan tidak membujuk -apalagi memaksa- penulis untuk masuk Sekolah Penginjil. Sebagai penerima 'belas kasih', penulis sebenarnya berada pada posisi tawar yang sangat lemah. Namun, hanya kebesaran jiwanya sajalah yang memungkinkan penulis memilih pendidikan non-teologia. Sikap demokratis Oom Ho juga ditunjukkan saat mengetahui bahwa penulis tidak ke GBI tetapi ke GPIB yang jelas tidak 'sealiran.'

Sederhana. Pdt Erastus Sabdono dalam khotbahnya di GBI Wahid Hasyim, Rabu (27/2), mengatakan bahwa hidup sederhana Oom Ho sungguh menjadi contoh melegenda. Dengan posisi sebagai Ketua Sinode GBI, kehidupan material Oom jauh di bawah yang seharusnya. Bahkan cenderung asketik. Ia menjalani hidup bagai seorang sadhu. Makannya sangat sederhana, pakaiannya non-branded, tanpa aksesori, sampai mobil kerjanya (Kijang tua) yang dipakai sampai akhir hayatnya.

Para murid nya sudah mengendarai Alphard, BMW, Land Cruiser, Mercedez Benz dan tinggal di berbagai rumah dan apartemen tergolong mewah. Sungguh luar biasa. Di tengah budaya hedonistik yang juga mewabahi (sebagian) Hamba Tuhan, Oom Ho tetap hidup dengan segala kesederhanaannya sebagai sadhu HL Senduk.

Namun demikian, seperti kata pepatah 'tidak ada gading yang tidak retak', sebagai manusia biasa Oom Ho pun tentu tidak lepas dari berbagai kekurangan. Tetapi seperti kata Singapore Airlines 'the airline that other airlines talk about, maka seumpama gading, dengan segudang kelebihannya Oom Ho adalah 'the ivory that other ivories aspire to be', gading yang menjadi aspirasi gading-gading lain.

Selamat Jalan Oom Ho....tot ziens....aufwiedersehen!

Penulis adalah anggota Badan Pembina Yayasan Bethel Jakarta, Anggota GPIB Gloria Bekasi


Last modified: 4/3/08