Gong, di mata awam, bisa jadi sama saja. Tetapi, tidak demikian halnya bagi Granoka. Gong bukan semata-mata alat musik, tetabuhan, yang bersama alat musik lain membangun harmoni nada.
Bagi seniman asal Budakeling, Karangasem, Bali, yang bernama lengkap Ida Wayan Oka Granoka itu, gong memiliki arti mewakili inisiatif lokal untuk memaknai Bhinneka Tunggal Ika, lewat tembang, gerak tari, dan doa. Pada September 2006, bersama budayawan, rohaniwan, dan masyarakat Bali, ia sukses menggelar perayaan Tujuh Abad Sutasoma dan Satu Abad Puputan Badung. Sutasoma adalah nama karya Mpu Tantular yang membahas arti penting Bhinneka Tunggal Ika.
Upaya Granoka tak berhenti di situ. Belum lama, ia mengajak mendiskusikan soal keberadaan gong Majapahit dan gong Pajajaran. Ia bertanya, apa makna gong di tanah Pasundan. Namun, yang terpenting, adalah keinginan "mempertemukan" kedua gong itu dalam peringatan satu abad Kebangkitan Nasional di Trowulan, Jawa Timur, 20 Mei mendatang. "Kita bertemu di Panjalu, ya," kata Granoka dari Bali melalui telepon kepada SP. Sejak Februari ia mengancangkan rencana itu. Di Panjalu, Jawa Barat, ia memimpikan memadukan kecapi Sunda dan gender Bali. "Ada Kidung Sunda Buhun, ya. Biar suara alat musik dari Sunda dan Bali menyatu. Supaya kita semakin sadar makna Bhinneka Tunggal Ika," tuturnya.
Granoka memang selalu bersemangat berbicara soal Bhinneka Tunggal Ika. Dalam pandangannya, sejarah Kerajaan Majapahit dan Pajajaran mempunyai makna penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Upaya membangkitkan kembali ruh Bhinneka Tunggal Ika tidak mungkin berlanjut tanpa pemahaman mengenai hubungan kedua kerajaan itu. "Bukankah Raden Wijaya, pendiri Majapahit, keturunan Raja Sunda?" katanya.
Ada apa dengan Granoka yang tak lelah bicara soal arti penting Bhinneka Tunggal Ika? Ya, pria yang membawa anggota Maha Bajra Sandhi tampil dalam Olimpiade Kebudayaan di Akropolis, Yunani, pada 2004 itu ternyata memang tengah menyiapkan kegiatan besar. Seabad Kebangkitan Nasional. Tema kegiatannya, "Garba Datu Menapak Bumi Nusantara, Seabad Kebangkitan Nasional 1908-2008". Acara puncak akan berlangsung di Situs Candi Bajang Ratu Trowulan. Waktunya, 20 Mei 2008.
Menurut Ida Made Widarma Yantra, dari Bajra Sandhi, acara puncak di Candi Bajang berkaitan dengan perayaan tujuh abad Bhinneka Tunggal Ika karya Mpu Tantular, seabad Kebangkitan Nasional. "Kebetulan juga hari itu hari Raya Waisak. Usai tenggelamnya matahari, sedikit demi sedikit akan terlihat keindahan bulan di atas candi peninggalan Kerajaan Majapahit," ia menjelaskan.
Perjumpaan
Granoka pun memenuhi janjinya. Bersama istri dan anaknya serta Made Widarma, ia tiba di Desa Simpar, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis. Mereka melalui jalan darat dari Denpasar menyeberang ke Pulau Jawa dan menyusuri kota-kota di Jawa Timur.
Di Trowulan mereka sempat mengikuti pertemuan yang membahas mengenai Majapahit dan asal-usul Raden Wijaya, pendiri Majapahit, sebelum meneruskan perjalanan ke arah barat. Dari Cirebon ia meneruskan perjalanan melalui Kuningan, Cikijing, dan masuk jalan alternatif Desa Maniis sebelum tiba di Panjalu, Sabtu (23/2) malam.
Sesaji sudah tersedia di kediaman Oteng Padmanagara almarhum, di Panjalu, malam itu. Rumah itu dijadikan tempat pertemuan anggota Bajra Sandhi dan beberapa warga kampung serta tamu undangan yang tertarik membahas arti penting Bhinneka Tunggal Ika.
Rahmat, peserta pertemuan, menerangkan makna pohon hanjuang dalam kendi berisi air putih, salah satu bagian dari sesaji yang disiapkan tuan rumah. Menurutnya, hanjuang bermakna hayu urang berjuang, atau mari berjuang untuk tanah air. Tanah air sendiri dilambangkan dalam bentuk kendi yang terbuat dari tanah dan sedikit air sungai di dalamnya.
Suara kecapi dan suling terdengar. "Indah sekali. Jangan banyak bicara malam ini. Biarkan musik yang bicara. Suaranya akan menyatukan jiwa kita," bisik Granoka.
Sama
Rella Susanti dan ibunya, Neni Hayati, memperdengarkan beberapa pupuh Sunda Lama. Keluarga Bajra Sandhi terlihat antusias ketika kedua penembang membawakan kidung berbahasa Sunda campur Jawa. "Wonten kidung rumaksahing wengi. Teguh ayu luputa hing lara. Luputa bilahi kabeh. Jin setan boten purun..."
"Bolehkah anak saya membawakan kidung yang sama dalam versi Bali?" kata Granoka. Dan Ida Ayu Nyoman Diana Pani pun menembang. "Hana kidung angraksa siang latri. Teguh rahayu, adohing alara. Luputing balahing kabeh. Jin setan natan purun, paneluhan norana wani...."
Dialog tidak terhindarkan. Dari mulai nama kidung di masyarakat Sunda yang sekarang disebut KidungKombinasi, Dandanggula Kawali dan di Bali disebut Kidung Pangraksa Jiwa, hingga soal makna kidung itu sendiri. Intinya ternyata sama. Permohonan keselamatan kepada Sang Ilahi.
Persoalan gong Majapahit dan gong Pajajaran juga mencuat. Granoka mengatakan, kedua kerajaan besar di Nusantara itu jelas telah mewarnai perjalanan sejarah Indonesia.
"Gong Pajajaran dan Majapahit kami harapkan ada dalam acara puncak di Trowulan. Saya sudah ke sana-kemari mencari keberadaan gong itu. Beberapa sahabat menunjukkan keberadaan gong Majapahit. Tapi saya sendiri belum tahu pasti apa benar itu gong Majapahit. Tapi di mana gong Pajajaran?" tanyanya.
Engkus Rusmana yang hadir dalam pertemuan mengaku tidak tahu persis di mana gong Pajajaran. Banyak tokoh Sunda mengaku memiliki gong Pajajaran, "Tapi yang terpenting sekarang ialah bagaimana agar semakin banyak orang yang mau memberi ruh pada arti penting, betapa meskipun kita berasal dari suku-suku bangsa berbeda, kita adalah warga negara bernama Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika jelas adalah kata kunci yang seharusnya kita praktikkan sehari-hari."
Tiba-tiba saja, Nyoman Diana Pani berdiri. Ia membawakan tari Bajang Papah yang energik. Tari itu menggambarkan bangkitnya kembali sang jiwa murni.
Suara kecapi dan suling kembali terdengar. Malam bertambah larut. Suara Rella Susanti terdengar lirih saat membawakan tembang Salabintana. "Aya sora sangkakala di Pajajaran. Aya ceuluk sumawur di Gunung Sunda. Seuwe siwi Siliwangi, trah teureuh Galuh Pakuan. Kiwari mangsana tandang..."
Sungguh jauh lebih menghunjam kalbu daripada mendengar pidato politisi soal arti penting Bhinneka Tunggal Ika. Dan Granoka dengan Bajra Sandhinya meneruskan perjalanan. Membangkitkan inisiatif-inisiatif masyarakat untuk mengimplementasikan Bhinneka Tunggal Ika yang ditorehkan beberapa abad lalu oleh Mpu Tantular. Lewat tembang, lewat gerak tari dan doa, tentunya. [SP/Aa Sudirman]