Sejak tahun 2001, Universitas Gadjah Mada (UGM) menggalang kemitraan dengan PT Unilever Tbk untuk mengembangkan kedelai hitam yang saat ini diperluas hingga 1.800 hektare. Selain Bantul, kawasan lahan tersebar di Sleman, Nganjuk, Trenggalek, Madiun, Blitar, dan Jombang, serta beberapa daerah di Jawa Tengah.

Warga Dusun Krajanwetan, memperlihatkan benih kedelai hitam bantuan pemerintah. tanaman kedelai saat membuka masa tanam kedelai hitam di Dusun Krajanwetan, Desa Mantren, Kecamatan Pucung, Pacitan, Jawa Timur, baru-baru ini.
arietas kedelai hitam yang digunakan saat ini merupakan varietas unggul, yakni Mallika, yang memiliki bulu coklat pada batang dan tempat polong. Mallika yang dikembangkan peneliti UGM, Prof Dr Mary Astuti mampu tumbuh bercabang. Umur panen berkisar 90-an hari dengan umur bunga 33 hari dan umur polong masak 67 hari.
Mallika dalam Bahasa Tamil maupun Bahasa Arab berarti raja. Potensi hasilnya 2,4 ton-2,9 ton/ha.
Menurut Mary, Mallika tahan terhadap kekeringan, genangan air, dan hama kedelai, yang penting harus diperhatikan tata cara penanaman hingga pemanenannya, agar sesuai standar.
Mary menekankan, kedelai hitam unggulan mampu memberi hasil maksimal kalau ditanam dengan jarak 10 cm kali 40 cm. "Penanaman sebaiknya dengan menugal, yakni satu lubang diisi dua benih," pesan Mary.
Mary pun mengingatkan, kedelai hitam dapat dipanen hanya saat kondisi daunnya sudah berwarna coklat. Kualifikasi bermutu sebagai syarat mutlak penyerapan oleh pabrik kecap tertera melalui ukuran biji berikut beratnya.
Tiap 100 biji kedelai hitam beratnya mesti 17 gram. "Yang bagus jika kadar airnya 11 persen. Itu baru bermutu," kata Mary.
Varietas ini memiliki kandungan protein 37 persen dan lemak 20 persen. Di samping itu, kulitnya mengandung antioksidan antosianin, dengan daya simpan benih lebih tinggi dari kedelai kuning. Jika disimpan selama enam bulan, masih mempunyai daya tumbuh lebih dari 80 persen.
Menurut Mary, pengembangan kedelai hitam itu juga berdampak pada pertumbuhan perekonomian wanita-wanita di desa, yang daerah mereka bercocok tanam kedelai hitam. Pasalnya, untuk proses sortir atau memilah biji kedelai hitam yang memenuhi standar pabrik, menggunakan tenaga kerja wanita.
Sementara itu, Dirjen Pangan Departemen Pertanian, Sutarto Alimoeso mengatakan, varietas unggul kedelai hitam Mallika diharapkan mampu meyakinkan bangsa ini bahwa petani dalam negeri dapat memproduksi kedelai berkualitas. Penemuan Mallika juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kedelai hitam nasional, dari saat ini rata-rata 1,3 ton-3 ton/ha, sehingga dapat meningkatkan penghasilan petani.
Ia juga mengatakan, padi, jagung, dan kedelai merupakan komoditas strategis karena sebagian besar warga Indonesia mengonsumsi bahan pangan tersebut, sehingga Indonesia harus mampu swasembada.
Varietas Unggul
Sementara itu, sejumlah peneliti dari Badan Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang, Jawa Timur, menemukan tiga varietas unggul kedelai hitam. Ketiganya memiliki kelebihan dibandingkan dengan kedelai impor atau kedelai lokal, yang selama ini ditanam masyarakat.
Tiga varietas unggul kedelai hitam itu adalah Khibar, yakni kedelai hitam berukuran biji besar, Khipro berprotein tinggi, dan Khilau berkotiledon hijau. Keunggulan ketiganya adalah bisa menghasilkan produksi kedelai lebih banyak sekitar 18 persen dibandingkan dengan kedelai lain, seperti Cikuray, Burangrang, dan Wilis.
"Bahkan, kedelai hitam ini juga lebih unggul dibandingkan dengan kedelai Mallika, yang dilepas Februari 2007. Sebab, kedelai Mallika memiliki daya hasil sebanyak 2,34 ton/hektare, sedangkan ketiga varietas unggul itu memiliki daya hasil 2,51 ton/hektare," tutur peneliti Balitkabi, Ir M Muchlish Adie MS.
Menurut Muchlish, keunggulan tiga kedelai itu adalah ketiganya merupakan jenis kedelai besar 14 gram/100 biji kedelai, seperti yang dipakai dalam industri tahu dan tempe di Indonesia. Selama ini, yang banyak ditanam petani di Indonesia adalah jenis kedelai sedang, 10 gram/100 biji kedelai.
"Kedelai ini sangat cocok dengan kebutuhan industri, baik tahu, tempe, maupun kecap," ungkap Muchlish.
Keunggulan lainnya, ketiganya memiliki protein tinggi, yaitu mencapai 45,58 persen. Sementara kedelai impor dan kedelai yang banyak dibudidayakan di Indonesia saat ini, memiliki kadar protein 6-37 persen.
"Semoga kedelai ini bisa dilepas tahun ini dan segera bisa disosialisasikan serta dikembangkan. Harapannya, bisa sedikit mengikis ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor," ujar Muchlish. *