
Memindahkan jalinan tali tanpa melepaskan pegangan, salah satu mata acara untuk membangun kerja sama dalam simulasi outbound koreksional di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung.
ua narapidana berusaha memasukkan air dari ember ke dalam pipa setinggi 2,5 meter di hadapannya. Orang yang memegang ember duduk di pundak bahu narapidana lainnya. Mereka tidak hanya berdua. Beberapa rekan mereka, tampak sibuk mengatur lalu lintas ember yang berisi air dan yang kosong untuk diberikan kepada dua orang yang langsung berhadapan dengan pipa yang banyak lubangnya tersebut.
Semakin cepat mereka memasukkan air, semakin cepat pula bola yang ada di dalam pipa itu terangkat dan keluar dari dalam pipa. Begitu bola keluar, rona bahagia terpancar dari wajah para narapidana yang masih menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung ini. "Itu namanya permainan tong bocor," kata Deden Budi Kusuma, Koordinator Spider Outbound yang menjadi operator dari kegiatan tersebut, Rabu (27/2).
Selain bermain 'tong bocor', para narapidana itu juga sempat ditantang kerja samanya dalam permainan 'rolling ball' dan 'magic finger'. Dalam 'rolling ball', mereka harus bisa memindahkan sebuah bola golf melewati pipa-pipa yang tergantung dan tidak bersambungan satu sama lainnya.
Sementara dalam 'magic finger', para narapidana harus bisa menurunkan pipa paralon dengan tanpa menjatuhkan kelereng di dalamnya. Mereka hanya boleh memanjangkan jari telunjuknya untuk menahan gerakan dari pipa itu.
"Ini diharapkan membangun kepercayaan diri dan saling kerja sama dalam hal-hal yang positif. Ada unsur psikologis, manajemen, rekreasi, dan olahraga tidak kalah penting," Untung Sugiyono, Direktur Jenderal Pemasyarakatan pada Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia yang menyaksikan Outbound Koreksional dan Pencanangan Kebulatan Tekad Bulan Tertib Pemasyarakatan 2008 di lapas itu, menjelaskan.
Memang bagi komunitas perkantoran, kegiatan serupa untuk melepaskan stres dan beban pekerjaan di kantor sudah menjadi hal yang biasa. Selain bisa menjadi sarana penyegaran, outbound dipercaya menjadi salah satu cara membangun jiwa kepemimpinan dan kebersamaan bagi para pelakunya.
![]()
Foto-foto: SP/Adi Marsiela
Membangun kekompakan menjaga agar pipa berisi kelereng tidak jatuh saat mengikuti simulasi outbound koreksional, acara seperti ini bermanfaat untuk memberikan rasa percaya diri kepada narapidana.
Kepercayaan Diri
Semangat serupa ternyata menjadi sesuatu yang berbeda dan sangat berharga bagi sekitar 400 narapidana di Lapas Sukamiskin. Setidaknya melalui kegiatan yang terdiri dari beragam permainan itu, mereka bisa melepaskan tawa tanpa ada batas.
M Agus Ridwan (26), narapidana asal Antapani, Bandung mengungkapkan permainan-permainan tersebut belum pernah dilihat apalagi dirasakannya. "Yang paling sulit itu memindahkan bola dari pipa-pipa yang putus," tutur pria yang menyisakan hukuman 1,5 tahun dari total 7 tahun yang harus dijalaninya.
Manfaat lain dirasakan oleh Deden Herman (37), yang tinggal menanti waktu empat bulan lagi untuk menjalani kehidupan normal di luar lapas. "Ini pencerahan buat saya. Saya menjadi lebih santai untuk menghadapi (kehidupan) di luar," papar pria yang di kedua lengannya penuh dengan tato itu.
Outbound, sambung Deden, membangun kepercayaan diri yang selama ini jatuh akibat harus menjalani masa tahanan selama sembilan tahun. "Saya berharap kalau bisa, kegiatan serupa diadakan lagi," katanya.
Buat operator outbound, kegiatan serupa memang baru pertama kali dilakukan di dalam lapas. Deden mengaku harus melakukan survei dahulu selama dua bulan sebelum akhirnya memutuskan permainan-permainan mana saja yang cocok untuk para narapidana di sana.
"Karena awalnya pasti ada jarak, beda dengan di perusahaan-perusahaan yang memang mereka meminta untuk diadakan kegiatan ini. Kalau di lapas ini mereka diajak untuk ikut serta," ujar dia.
Deden menjelaskan sasaran dari kegiatan ini adalah menumbuhkan rasa percaya diri, kebersamaan, kekompakan, dan kekeluargaan dari para narapidana.
Secara terpisah, Kepala Lapas Sukamiskin, Rachmat Prio Sutardjo mengharapkan dengan kegiatan seperti ini, warga binaan tidak lagi melakukan tindakan kriminal. Malah, sehabis masa kurungan, warga binaan diharapkan bisa menapaki kehidupan yang lebih baik.
"Ini memang kreativitas Kalapas (Sukamiskin). Pada dasarnya baik dan positif, tidak menutup bisa kita lakukan di lapas-lapas lain," ujar Direktur Jenderal Pemasyarakatan pada Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, Untung Sugiyono. [SP/Adi Marsiela]