SUARA PEMBARUAN DAILY

Yongky Safanayong : Desain Grafis Menjawab Tantangan Zaman

Istimewa - Yongky Safanayong

Rambutnya yang dibiarkan tumbuh panjang, sudah memutih. Susah membayangkan ia seorang guru besar, kalau tidak sedang mengenakan jubah kebesaran. Lebih mirip seniman. Paling tidak, begitulah stereotipe di film-film atau sinetron.

Lelaki kurus itu bernama Yongky Safanayong. Pria kelahiran Bandung, 26 Agustus 1950 itu, beberapa waktu lalu, dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Desain Komunikasi Visual di Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci. Dalam acara pengukuhannya sebagai guru besar tetap Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan (FDTP) di Kampus UPH, Yongky menyampaikan pidato ilmiah berjudul "Integrasi Tempat-Waktu-Kondisi-Sikap: sebagai Perspektif Baru dalam Desain Komunikasi Visual".

Yongky, yang kini menjabat Ketua Jurusan Desain Komunikasi Visual di FDTP UPH itu, dalam pendahuluan pidato ilmiahnya mengemukakan pengertian dan pemahaman tentang desain komunikasi visual atau desain grafis, yang berkembang pesat dalam abad ke-21 ini. Desain pada umumnya semakin erat berurusan dengan segala hal tentang tempat manusia berada, hubungan dan relasi antarmanusia, relasi dengan lingkungan, relasi dengan waktu/saat desain dibutuhkan dan dibuat.

Tempat dan waktu membentuk dan mempengaruhi kondisi khas masyarakat. Dalam saat atau era informasi saat ini, aspek 'manusia', 'kehidupan', dan 'lingkungannya' yang selaras dengan tempat, waktu, tidak terelakkan lagi dalam strategi desain yang berperspektif baru, lata Yongky yang menerbitkan buku Desain Komunikasi Visual Terpadu, pada 2006 itu.

Mengantisipasi masyarakat era informasi, desain komunikasi visual perlu disikapi sebagai suatu sistem pemecahan masalah yang kreatif dan inovatif, mengarah pada kehidupan bermasyarakat yang lebih sejahtera, lebih bermartabat, lebih nyaman, lebih aman, lebih tertib dan saling mengasihi.

Dengan semakin intensifnya arus informasi dan interaksi antarkebudayaan melalui tatanan internasionalisasi, menurut Yongky, umat manusia akan saling tergantung satu sama lain dalam kelangsungan hidupnya. Koeksistensi terjadi antarnegara, secara ekonomi maupun secara sosial budaya.

Begitu juga dalam dunia desain komunikasi visual, dipengaruhi dan memberi pengaruh dalam proses modernisasi, dalam konstelasi di satu sisi ingin mengedepankan desain komunikasi visual berkarakteristik Indonesia, sedangkan di sisi lain, seiring modernisasi berarti ingin menyejajarkan karya desain yang berpenampilan sama dengan karya negara-negara yang sudah maju.

Dalam era informasi ini, insan desain seperti desainer, pengajar, penulis, pengamat, pedagang dan pemerhati lingkungan, diharapkan tidak melulu terpaku pada dogma-dogma yang kaku dan ketat, tetapi mampu melakukan penafsiran umum, evaluasi dan menemukan hakikat dasarnya, sehingga mencapai makna yang tersimpan di balik semua itu berdasar integrasi tempat, waktu, kondisi dan sikap.

Ia mengingatkan, aktivitas desain bukan hanya sekadar mengungkapkan makna-makna simbolik, tetapi lebih jauh dapat menghayati, meningkatkan identitas/kepribadian. Aktivitas desain harus menyadari pula dunia global dewasa ini dengan segala kemajuan serta tantangan-tantangannya, seperti pemborosan energi, pikiran, waktu, biaya dan ruang, kemerosotan moral, rendahnya tingkat kesejahteraan dan kesehatan, kerusakan alam dan lingkungan hidup, perubahan tata nilai, dan pencarian spiritualitas.

Tantangan

Yongky memaparkan tiga fakta yang memunculkan tantangan bagi insan desain. Pertama, menyangkut kebudayaan. Manusia dewasa ini sudah terbawa arus hidup berbudaya atau berkebudayaan. Kedua, kelompok masyarakat Indonesia yang heterogen, membentuk suatu budaya yang khas karena berbeda tempat, waktu, kondisi, dan sikap. Ketiga, perkembangan sosial dan perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat saat ini membawa dampak yang luas, yang sangat memungkinkan terjadinya gejala goncangan budaya yang bersifat fundamental.

Fakta tersebut memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Apa yang dapat disumbangkan insan desain untuk hidup berkebudayaan. Bagaimana caranya eksis di tengah-tengah kenyataan tentang perubahan-perubahan yang cepat itu. Lalu, sebagai pelaku pendidikan desain komunikasi visual atau desain grafis, strategi dan taktik apa yang digariskan dalam mewujudkan karakteristik serta keunggulan yang diharapkan.

Analisis Yongky mencakup parameter tempat, waktu, kondisi, dan sikap. "Yang utama dalam disiplin ilmu ini adalah mengembangkan nilai tambah setiap orang untuk dimaksimalkan. Jangan takut untuk berubah dan melakukan perubahan. Saya tidak setuju dengan konsepsi persaingan, karena sesungguhnya segala bentuk memiliki nilai tambah. Jadi jika kita menyinergikan nilai-nilai tambah itu, akan menjadi sebuah kekuatan besar," kata Yongky yang berpenampilan sederhana itu.

Profesor pengagum Sutan Takdir Alisyahbana itu juga mengatakan, visi dan motivasi mutlak ditanamkan dan dimiliki seorang desainer grafis ideal, agar mampu menghasilkan desain yang memiliki arti dan bernilai tambah. Untuk itu, desain komunikasi visual perlu disikapi dengan sistem pemecahan masalah untuk mengantisipasi masyarakat era informasi. "Desain komunikasi visual adalah aktivitas mulia insan budaya yang diwujudkan dan disampaikan bagi kepentingan sesama dan alam lingkungan, sebagai karunia dan rasa syukur kepada Sang Pencipta," tulis Yongky di akhir pidato ilmiahnya.

Terputus

Yongky menjalani pendidikan dasar hingga lanjutan atas di perguruan Strada. Selepas SMA, ia memilih mendalami pendidikan seni rupa di Departemen Seni Rupa Fakultas Teknik Universitas Trisakti Jakarta. Ia kemudian menjadi dosen di almamaternya, dari 1980 - 1994. Sebelum pindah ke UPH, ia adalah Ketua Program Studi Desain Grafis Usakti. Yongky yang mempersun- ting Bwee Wisudha, dikaruniai satu anak yang kini menetap di Australia.

Malang-melintang di dunia desain komunikasi visual sejak penggal akhir 1970-an, tentu Yongky pun banyak menorehkan catatan prestasi. Pada 1993, ia jadi pemenang unggulan logo Dewan Riset Nasional, yang diselenggarakan Departemen Riset dan Teknologi. Karya poster pria yang sering terlibat dalam penjurian aneka lomba kreativitas ini, bisa disaksikan dalam ajang "Light of Hope for Indonesia", pameran internasional yang diikuti 17 negara di Jakarta Convention Center, 2005.

Berkecimpung di bidang pengajaran sejak menyelesaikan kuliah, membuat Yongky mampu meneropong kelemahan-kelemahan dalam bidang pendidikan desain komunikasi visual. Dalam dunia pendidikan, desain komunikasi visual, atau desain grafis, mulai dikenal sejak tahun 1970-an. Di Indonesia bidang ini mulai berkembang luas sejak 1990-an, seiring dengan perkembangan di dunia perdagangan dan perindustrian, teknologi komunikasi informasi dan cetak, serta perkembangan sosial budaya, terutama di kota-kota besar.

Namun, jika dikaitkan dengan perkembangan peradaban, pada kenyataan sekarang banyak perguruan tinggi desain, khususnya desain komunikasi visual, di mana pun, mengalami persoalan yang sama, yaitu terputusnya mata rantai akademik dan dunia nyata. Seyogianya yang dipelajari di perguruan tinggi dengan realitas persoalan di masyarakat tidak jauh berbeda.

Untuk memperkecil jurang atau persoalan yang faktual itu, Yongky berpendapat, dibutuhkan pendekatan baru dalam pendidikan desain yang taktis dan bernilai beda. "Sistem pendidikan sudah seharusnya bertitik berat pada penciptaan dan entrepreneur, bukan pada pencari kerja," kata Yongky, yang menjadi Ketua Tim Persiapan Pembentukan Jurusan Teknis Desain Universitas Bina Nusantara pada 1999 itu.

Hal lain yang penting, pendidik di bidang studi desain komunikasi visual harus mampu bekerja sama dengan para ahli bidang lainnya, di bidang teknologi maupun ilmu kemanusiaan. Tujuannya, untuk menganalisa masalah dari berbagai aspek dan secara kreatif, sehingga menghasilkan ide-ide yang interdisipliner. Lalu, apa pesan untuk mahasiswa? Yongky mengatakan, kreativitas menjadi kunci dalam pengembangan sumber daya manusia. Untuk UPH sendiri, sistem perkuliahan di jurusan itu lebih ditekankan pada aspek inovatif dan kreatif setiap mahasiswa.

"Biarkan mereka berkreasi tanpa batas, sehingga mereka akan menemukan karya orisinalnya sendiri," ujarnya. Tak lupa ia menambahkan, prinsipnya setiap manusia dipandang sebagai makhluk yang unik yang mampu menciptakan sesuatu yang spesifik. [SP/Eko B Harsono]


Last modified: 3/3/08