SUARA PEMBARUAN DAILY

Dominasi Inggris dan Peluang Kecil Arsenal

Pelatih Arsenal Arsene Wenger (kanan) memegang kepalanya setelah timnya ditahan imbang 1-1 Aston Villa di Liga Inggris, Sabtu (1/3) lalu. Adegan seperti ini bisa saja terulang di Stadion San Siro, Milan, Italia, Rabu (5/3) dini hari WIB, saat Arsenal bertemu AC Milan di Liga Champions. AFP/GLYN KIRK

Siaran langsung RCTI

AC Milan Vs Arsenal

rabu (5/3) Pkl 02.45 WIB

Dalam tiga musim ke terakhir, klub-klub Inggris selalu mengisi partai final Liga Champion. Pada final 2005, drama adu penalti Liverpool versus AC Milan, dimenangi Liverpool. Musim berikutnya, giliran Arsenal bertemu Barcelona. Namun, tim asuhan Arsene Wenger ini belum cukup matang menghadapi Ronaldinho dkk.

Final 2005 terulang dua tahun berikutnya. Namun kali ini, Milan tak mengulangi kesalahan yang sama. Liverpool dibungkam Milan 1-2.

Memasuki babak 16 besar, klub Inggris kembali mendominasi ajang musim ini dengan empat wakilnya, Arsenal, Manchester United, Chelsea, dan Liverpool, yang terus melaju sampai babak perempat final.

Terwakili oleh empat klub, bukan mustahil, peluang Inggris mengulang sukses Eropa seperti yang ditorehkan Liverpool dua musim lalu semakin besar. Gengsi "English Premiere League" terdongkrak. Pemain bintang negeri asing pun tak ragu berlabuh di negeri Ratu Elizabeth ini.

Dibanding tiga tim Inggris lain, Arsenal paling rawan tersingkir pada putaran kedua babak 16 besar. Alasannya, "Young Gunners" gagal mencetak gol dan meraih kemenangan atas Milan saat bermain di Stadion Emirates, London, dua pekan lalu. Laga putaran kedua di Stadion San Siro, Milan, Italia, Rabu (4/3) dini hari WIB, jelas akan menyulitkan Cesc Fabregas dkk. Pertandingan akan disiarkan langsung oleh RCTI mulai pukul 02.45 WIB.

Torehan tujuh kali juara Liga Champion adalah tanda kehebatan Milan di Eropa. Dalam tiga tahun terakhir, "Rossoneri" mampu dua kali menembus final dan memenangi salah satunya.

Mental dan pengalaman Paolo Maldini cs terbukti sulit ditaklukan oleh pemain paling diburu Real Madrid, Cristiano Ronaldo. Keterampilan hebat, usia muda, dan kecepatan, belum cukup menaklukan Eropa. Dua tahun lalu, pasukan muda Manchester United (MU) merasakan kedahsyatan "besi tua" Milan. Juara Eropa tujuh kali itu mampu membalikkan kekalahan 2-3 di Old Trafford, Manchester dengan kemenangan 3-0 di San Siro. Catatan tidak pernah kalah dalam laga kandang semakin mengancam langkah Arsenal melaju ke babak berikut.

Tidak Konsisten

Arsenal sendiri juga sedang kehilangan konsistensi permainan, dengan tidak pernah menang dalam empat laga terakhir. Selain itu, absennya penyerang Eduardo Da Silva akibat cedera membuat peluang menang menjadi tipis.

Memang, bola itu bundar. Dan semua masih mempunyai peluang, walau hanya kecil. Berapapun selisih probabilitasnya, pilihannya tetap hanya dua, kalah atau mengalahkan. Melupakan kegagalan dan fokus pada satu laga bisa mencoreng keangkeran San Siro.

Di sisi lain, Arsenal bukan tim lemah yang tak mampu bicara di kandang lawan. San Siro atau Giuseppe Meazza bukanlah tempat asing. Pada musim kompetisi 2003/2004, di ajang yang sama, Arsenal bahkan mampu menumbangkan Inter Milan 5-1 stadion ini.

Sebelum mencapai final 2006, Arsenal tercatat sebagai tim Inggris pertama yang mampu menumbangkan Real Madrid di Santiago Bernabeu. Wenger yakin, menghadapi Milan di San Siro, tim asuhannya mampu membuat kejutan dan mementahkan semua prediksi dan statistik.

Tim "Gudang Peluru" berpeluang merepotkan pertahanan Alessandro Nesta dkk dengan permainan cepat namun tetap disiplin. Kalau Arsenal bisa bermain eksplosif seperti pada putaran pertama dua pekan lalu, ditambah sedikit keberuntungan, Paolo Maldini terancam pensiun tanpa gelar.

Saat ini, Milan sedang bermasalah dengan konsistensi. Dari enam laga terakhir, Kaka dkk hanya meraih satu kemenangan. Kondisi ini sama dengan yang terjadi pada Arsenal. Wenger dan Carlo Ancelotti harus menyiapkan strategi yang bisa memutus rantai inkonsistensi timnya.

Gelar Ketujuh

Milan mengincar gelar ketujuh, sementara Arsenal baru mau mencatatkan sejarah pertama kali memenangi Liga Champions. Kedua tim punya peluang berbeda. Kesabaran dan ketenangan bisa jadi lebih utama dari pada bakat dan teknik sepakbola. Waktunya William Gallas dan Paolo Maldini menunjukkan kepemimpinan mereka di lapangan dan membawa tim mereka memenangkan pertarungan.

Tiga laga tim Inggris lain, terhitung tidak seberat ujian Arsenal. Liverpool sudah unggul 2-0 saat menjamu Inter Milan di Anfield. Tim asuhan Rafael Benitez hanya perlu mendisiplinkan lini belakang yang dipimpin Jamie Carragher sehingga tidak kebobolan gol saat berlaga di San Siro, pekan depan.

Sementara, bagi MU dan Chelsea, tantangan putaran kedua relatif lebih mudah. MU sudah meraih satu gol tandang dari hasil imbang 1-1 di kandang Olympique Lyon, Stade de Gerland.

Chelsea diperkirakan tak akan kesulitan meraih kemenangan atas Olympiakos. Hasil imbang 0-0 di Stadion Pairaeus, kandang juara liga Yunani itu bisa menjadi kemenangan besar di Stamford Bridge, kandang Chelsea. [Goal/AP/UEFA/ATW/W-11]


Last modified: 4/3/08