SUARA PEMBARUAN DAILY

Impian UNESCO dalam Teka-Teki Silang

Agustin Purnawan (36) diam di hadapan layar komputernya. Sesekali tangan kanannya menggerakkan tetikus (mouse) untuk mengarahkan tanda panah dalam layar ke kotak-kotak teka-teki silang. Tanda panah itu berhenti di ujung kiri, kotak pertama dari tujuh kotak mendatar. Pelan tapi pasti, dia mengetikkan huruf demi huruf, merangkai kata "g-a-n-d-o-l-a".

Apun, demikian pria itu akrab disebut, baru saja menjawab pertanyaan nomor 24 mendatar, warna ungu dalam bahasa Sunda. Lepas dari kotak itu, dia memindahkan tanda panah ke kotak-otak lainnya.

Dia rupanya berusaha menjawab pertanyaan nomor 5 menurun. Soalnya berbunyi: ngaran sato dina dongeng nu sok ciciduh, leumpangna make leungeun (nama binatang dalam dongeng yang suka meludah, berjalan memakai tangan). Jawabannya harus ditulis dalam tiga kotak. Pelan, namun lagi-lagi secara pasti, dia mengetik "a-u-l".

Senyuman kecil tampak di sudut bibirnya. Dia berhasil menjawab satu lagi pertanyaan yang diberikan dalam Pasanggiri Tarucing Cakra (Lomba Teka- Teki Silang Bahasa Sunda). Acara itu digelar sebagai rangkaian peringatan Hari Bahasa Ibu Sedunia, di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Kamis (21/2). "Itu nama sejenis monyet di dongeng," katanya.

Dia tidak sendirian. Masih ada 45 guru bahasa Sunda yang mengikuti ajang serupa. Apun yang juga guru bahasa Sunda di SMA 12 Bandung, menghabiskan waktu yang diberikan oleh panitia untuk menjawab 18 soal menurun dan 14 soal mendatar. "Waktunya 40 menit."

Peserta lainnya, Cece Hidayat (44), guru bahasa Sunda di SMPN 13 Bandung menuturkan soal-soal yang diberikan dalam perlombaan itu tidak terlalu sulit. Hanya saja, ada beberapa kosa kata yang tidak populer digunakan dalam kehidupan masyarakat sehari- hari. "Ini gebrakan baru pertama kalinya. Menarik dan menyenangkan," ia memaparkan.

Acara itu merupakan salah satu bagian dari peringatan keputusan UNESCO - badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, pada tahun 1991.

Direktur Jenderal UNESCO, Koichiro Matsura dalam sambutan tertulisnya mengatakan bahasa dan budaya merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan, "Keduanya saling ketergantungan."

Makanya dalam tahun 2008 ini, tema yang diangkat dalam peringatan Hari Bahasa Ibu Sedunia adalah "Pentingnya Bahasa". Dia pernah mengungkapkan dari 6.000 bahasa yang digunakan di dunia, 61 persen dipergunakan di kawasan Asia Pasifik dan 700 bahasa dipergunakan di Indonesia.

"Bahasa penting sangat vital untuk menunjukkan identitas grup atau individu dan eksistensinya," dia menambahkan.

Acara lain yang digelar di Unpad adalah orasi budaya tentang bahasa Sunda, pameran buku dan pustaka Sunda, pentas kesenian, peluncuran cakram padat musikalisasi puisi, dan peluncuran buku Jeblog.

"Teka-teki silang itu untuk mengasah kembali penggunaan kosa kata bahasa Sunda," ujar Sekretaris Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS), Entis Sutisna, yang mengaku membutuhkan waktu satu minggu dengan rekan-rekannya untuk menyelesaikan teka-teki itu di komputer.

Menginspirasi

Peringatan yang digagas oleh PPSS, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, dan Unpad itu digelar untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa daerah yang ada.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, I. Budhyana, menuturkan saat ini bahasa Sunda di dunia berada pada posisi 33, sedangkan bahasa Cirebon di posisi 100 dari 330 bahasa daerah di dunia.

Ada tiga syarat dari UNESCO untuk menaikkan posisi bahasa Sunda dan Cirebon ke posisi lebih baik. Syaratnya, antara lain, jumlah penutur, adanya fakta tekstual, dan regenerasi. Budhyana mengatakan jumlah penutur bahasa Sunda mencapai 20 juta orang, sedangkan bahasa Cirebon lebih dari 3 juta, "Selain itu, kita pun banyak mempunyai naskah kuno berbahasa Sunda dan Cirebon serta kamus Sunda dan Cirebon."

Meski demikian, dia menyadari kalau bahasa ibu yang ada harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan informasi. Makanya, sambung Budhyana, dalam kegiatan itu juga digelar lomba mendongeng, baca puisi, menulis surat dan lain-lain.

"Dari kegiatan tersebut, sebagian besar pesertanya dari kalangan generasi muda. Saya optimistis bahasa daerah di Jawa Barat tidak akan masuk ke dalam bahasa mengalami kepunahan di dunia," paparnya.

Dia juga menolak anggapan bahasa daerah di Jawa Barat (bahasa Sunda, Cirebon, dan Melayu Betawi) mengalami pergeseran di kalangan masyarakat. Yang ada kata dia, adalah akulturasi bahasa, antara bahasa Sunda dengan bahasa Indonesia untuk bahasa komunikasi di kalangan mereka.

Kembali ke teka-teki silang dalam bahasa Sunda, Dadan Sutisna, pencetusnya, menuturkan banyak manfaat dari penyelenggaraan kegiatan itu. Misalnya, untuk menambah kosa kata bahasa Sunda dan bisa disebarkan secara menyenangkan kepada orang lain.

"Idenya untuk membangun kreasi dan menanamkan kecintaan bahasa Sunda kepada masyarakat terhadap bahasa Sunda yang sudah mulai berkurang," ia menambahkan.

Soal-soal yang diberikan dalam teka-teki silang itu ternyata menginspirasi banyak pesertanya untuk menularkan hal serupa ke murid-muridnya.

"Ini metode pembelajaran yang baik buat siswa," kata Darpan, guru SMP 1 Pakenjeng, Kabupaten Garut, yang terpilih menjadi juara pertama dalam lomba ini.

Atas keberhasilannya menyelesaikan seluruh soal dengan benar dalam waktu 17 menit, pria yang pernah memeriksa bahasa dalam penerbitan Kamus Basa Sunda-Indonesia Sastradibrata itu berhak atas sebuah komputer jinjing.

Bagi dia, soal-soal yang diberikan tidaklah sulit, mengingat semenjak tahun 1993 dia sudah menjadi penulis buku bahasa Sunda.

"Buat saya, kesulitan mengajar Basa Sunda karena ter- kadang kurang interaktif tidak seperti bahasa lainnya. Semo- ga dengan hadiah ini bisa jadi lebih baik," tuturnya. [SP/Adi Marsiela]


Last modified: 4/3/08