SUARA PEMBARUAN DAILY

Dampak Lumpur Lapindo

Korban Tuntut Tetap Dapat Makan

[SURABAYA] Warga pengungsi korban semburan dan luberan lumpur Lapindo dari Desa Besuki, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (3/3), protes terhadap penghentian pemberian jatah makan bagi mereka yang sedang mengungsi di bekas jalan tol Porong Sidoarjo-Gempol Pasuruan di km 40.

"Saya menyayangkan penghentian jatah makan pengungsi sejak Minggu (2/3). Warga mengungsi karena Desa Besuki terendam lumpur. Jika tidak ada bantuan makan, warga bisa mati kelaparan," kata Kordinator Aksi Warga Besuki, Mursyid kepada SP, saat ber- siap-siap melakukan aksi unjuk rasa ke Kantor Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Senin (3/3).

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo, harus tetap memperhatikan para pengungsi. Masalahnya mereka mengungsi bukan atas kemauannya sendiri, tetapi karena desa dan rumah pengungsi terendam lumpur Lapindo, setelah tanggul di titik 40 dan 41 jebol tiga minggu lalu.

Lahan pertanian terendam air bercampur lumpur. Warga juga tidak memiliki modal untuk berjualan, supaya bisa bertahan hidup. Dalam kondisi demikian, bantuan makan terhadap pengungsi yang hidup di bawah tenda pengungsian, harus tetap jalan.

Dalam aksi unjuk rasa para pengungsi menuntut agar jatah makan pengungsi tetap diteruskan. Paling tidak jatah uang kontrak dan jaminan hidup menggunakan dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) cair.

Tanda-tanda penghentian makan sudah dirasakan warga korban lumpur, karena pada Sabtu (1/3), jatah makan yang seharusnya berjumlah 1.500 bungkus, dikurangi menjadi 1.000 bungkus. Apa yang menjadi kekhawatiran mereka terbukti, karena pada Minggu dan Senin (3/3) ini jatah belum juga dikirim.

Sekretaris Panitia Khusus Lumpur Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sidoarjo menyayangkan, jika pemberian bantuan makan bagi pengungsi korban lumpur di bekas jalan tol dihentikan. Bantuan bagi pengungsi tetap diperlukan, sampai mereka mendapatkan bantuan jaminan hidup dari pemerintah.

Mengecek

Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial Muslikh Yasin mengatakan, pihaknya akan melakukan pengecekan terhadap penyebab terhentinya bantuan makan kepada pengungsi.

Sementara itu, munculnya semburan liar mengandung gas di halaman tiga pabrik di Jatirejo, mengundang minat warga untuk mengetahui dari dekat. Keingintahuan warga, setelah semburan tersebut semakin tinggi hingga mencapai tujuh meter. Semburan yang muncul mudah terbakar.

Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo berupaya agar semburan terarah, dengan memasang pipa paralon.

Di Desa Siring Barat, gelembung gas yang mudah terbakar ditemui di berbagai tempat. Di kedua desa tersebut masyarakat dilarang menyalakan korek api di sembarang tempat, karena dikhawatirkan bisa menyambar gelembung dan semburan air mengandung gas yang mudah terbakar. [080]


Last modified: 4/3/08