SUARA PEMBARUAN DAILY

Rotavirus Penyebab Diare Akut

[YOGYAKARTA] Setiap tahun diperkirakan 610.000 anak di seluruh dunia meninggal akibat serangan virus rotavirus yang menyebabkan diare akut baik pada orang dewasa maupun anak. Dari 610.000 anak di dunia yang meninggal, karena rotavirus 80 persennya berada di negara miskin.

Di Indonesia, setidaknya, 10.000 balita mengalami diare akut setiap tahun. Enam Rumah Sakit (RS) besar di Indonesia pada Maret 2007 secara khusus mengadakan penelitian soal ini, dan hasilnya memang menunjukkan rotavirus menjadi faktor utama penyebab diare akut pada anak, namun belum ada vaksin untuk virus ini yang masuk ke Indonesia.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yati Soenarto, di Yogyakarta, Senin (3/3) mengatakan, keenam rumah sakit yang melakukan penelitian bersama tersebut adalah RS Ciptomangunkusumo Jakarta, RS Moh Hussein Palembang, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Sanglah Denpasar, RS Mataram dan RS Sardjito Yogyakarta.

Yati Soenarto, salah satu penemu rotavirus pertama di Indonesia mengatakan, 54 persen dari seluruh kasus diare yang ada di Indonesia, disebabkan oleh virus ini, dan 14 persen oleh bakteri dan sisanya, tidak dikenal penyebabnya, terutama yang biasanya terjadi di luar usus.

Akibat rotavirus anak akan muntah-muntah tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan diare yang disebabkan bakteri. Virus ini menyebabkan cairan berkurang dengan cepat dan menjadikan anak dalam kondisi akut.

''Pemberian oralit tidak akan efektif, karena cairan yang keluar terlalu banyak dan cepat. Pemberian antibiotik juga tidak ada gunanya, karena virus tidak mati oleh antibiotik," terangnya.

Lebih mengejutkan lagi, serangan rotavirus ini biasa terjadi pada anak di bawah lima tahun. Tetapi menurut Yati, balita yang mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif hingga enam bulan, memiliki kekebalan yang lebih terhadap virus yang munculnya dari tinja tersebut.

Menurutnya, vaksin baru ditemukan tiga kali. Tahun 1998 vaksin rotavirus yang pertama digunakan di Amerika ditarik dari peredaran, karena menimbulkan ganguan penyumbatan usus, pada 1 dari 10.000 bayi yang mendapat vaksin dari bovine.

Tahun 2006 vaksin rotavirus resmi dikeluarkan, Rotarix (GSK) dan Rotateg (Merck) dan keduanya dilaporkan aman dan efektif, dan sejauh ini belum ditemukan efek sampingnya.

"Sayangnya, kedua vaksin itu belum ada di Indonesia karena implementasi vaksin baru dalam suatu program nasional tidak mudah," ujar Yati.

Namun saat ini, Indonesia- Melbourne University, UGM dan Bio Farma sedang mengembangkan vaksin RV3 dan diharapkan vaksin ini segera selesai dan mampu menanggulangi rotavirus. [152]


Last modified: 3/3/08