SUARA PEMBARUAN DAILY

Dokter Kurang Percaya Obat Generik Berlogo

[JAKARTA] Para dokter ternyata masih kurang percaya pada kualitas obat generik berlogo (OGB). Itu sebabnya, meski harganya sangat murah, tidak menjamin obat ini laku di pasaran. Hal ini diakui Ketua Majelis Kode Etik Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Indonesia, Syamsul Arifin, pada acara dialog publik Ikatan Dokter Indonesia (IDI), di Jakarta, Senin (3/3).

Menurutnya, karena tidak yakin, banyak dokter yang enggan meresepkan obat generik pada layanan pengobatan yang diberikan kepada pasien. Posisi pasien sendiri tidak berdaya akibat ketidakpahaman soal obat maupun penyakitnya.

Selain kurang yakin terhadap kualitas OGB, lanjutnya, dengan banyaknya obat branded (bermerek) yang beredar di pasaran sangat membingungkan dokter menulis resepnya. Sebab, katanya, dari sekian banyak obat bermerek, hampir semuanya memiliki khasiat yang setara.

Industri farmasi dan apotek juga kurang berminat memasarkan OGB. Sebab, dalam distribusi dan pelayanan obat generik tidak memberikan keuntungan yang wajar, bahkan beberapa produsen obat merugi.

"Produsen obat generik dituntut menjual OGB dengan harga rendah, sehingga mereka cenderung mencari bahan baku yang murah dengan mengabaikan uji bio ekuivalen terhadap originator," ucap Syamsul.

Dia menilai, pemerintah Indonesia ingin semua obat esensial digenerikkan. Akibatnya, jumlah obat generik yang beredar di Indonesia cukup banyak, mencapai 360 substansi obat dari 3.000 substansi obat yang ada. Sedangkan PT Askes telah menetapkan 351 substansi obat masuk dalam daftar obat wajibnya.

Selain persoalan obat generik berlogo, kondisi kesehatan masyarakat lain yang perlu mendapat perhatian pemerintah adalah masih ada 35 persen dari 8.114 puskesmas dan 21.000 puskemas pembantu yang tersebar di berbagai wilayah memiliki persediaan obat dan peralatan masih sangat terbatas.

"Yang sudah berfungsi baik sekitar 65 persen, sisanya masih perlu diperbaiki, baik gedungnya, kelengkapan alat kesehatannya, maupun tenaga kesehatannya," kata Direktur Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Bambang Sarjono. [E-5]


Last modified: 3/3/08