
SP/Ruht Semiono
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH), dr Eka J Wahjoepramono (kedua dari kiri) didampingi President Mochtar Riady Institute Of Nanotechnology (MRIN), Prof Susan Tai (kiri), dan CEO Siloam Hospitals Group, dr Gershu Paul (kedua dari kanan) dan Konsultan Pemasaran RS Siloam Andrew Mills (kanan) memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Senin (3/3), terkait rencana kuliah terbuka yang diadakan Fakultas Kedokteran UPH, Siloam Hospitals dan MRIN dengan pembicara Profesor Barry J Marshall AC, pemenang Nobel bidang kesehatan 2005.
[JAKARTA] Minimnya anggaran untuk penelitian membuat riset terhadap bidang medis di Indonesia menjadi jarang dilakukan. Para dokter lebih memilih bekerja di rumah sakit atau klinik daripada bekerja di laboratorium, karena penghasilan yang di dapat jauh lebih tinggi.
Hal itu diungkapkan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH), Eka Julianta Wahjoepramono, pada acara konferensi pers ceramah umum peraih Nobel bidang kesehatan tahun 2005, Prof Dr Barry J Marshall, di Jakarta, Senin (3/3).
Barry J Marshall dari Australia menjadi guru besar tamu pada FK UPH untuk memberikan serangkaian kuliah umum, yang dimulai Selasa (4/3) di UPH Lippo Karawaci, Tangerang.
Hadir pada acara tersebut, Chief Executive Officer (CEO) Rumah Sakit (RS) Siloam Gershu Paul, Konsultan Pemasaran RS Siloam Andrew Mills, dan Presiden UPH Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (UPH-MRIN), Prof Susan Tai.
"Tanpa suatu riset kedokteran, negeri ini akan terus tertinggal. Negara kita tidak pernah menemukan sesuatu, kita cuma bisa impor obat-obatan, tapi tidak melakukan riset sendiri," tutur Eka.
Penelitian
Terkait kendala dana, Eka mengatakan, hingga saat ini hanya beberapa konglomerat yang peduli untuk membiayai penelitian bidang kesehatan, salah satunya adalah Mochtar Riady yang berinisiatif membentuk MRIN.
Kendati demikian, dia mengharapkan, penelitian dapat terus dikembangkan. Oleh karena itu, melalui Medical Science Group yang merupakan kerja sama UPH, UPH-MRIN, dan RS Siloam diharapkan mampu menciptakan pondasi yang ideal bagi bidang penelitian di Indonesia.
Sementara itu, CEO RS Siloam, Gershu Paul, mengatakan, kedatangan Marshall ke UPH diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi generasi muda melakukan riset-riset. Gershu juga memaparkan tentang penelitian yang dilakukan oleh Marshall. Menurutnya, hasil penelitian Marshall memberikan manfaat bagi setengah juta populasi dunia.
Penelitian yang dilakukan Marshall dan Dr J Warren mampu menemukan kombinasi obat-obatan yang dapat membunuh bakteri H.Pylori dan menyingkirkan luka di lambung secara permanen. Diperkirakan, 3-5 persen penduduk Indonesia menderita penyakit lambung. [SYH/E-5]