idup ini sudah susah, Nak, jangan dibuat susah lagi. Orang kecil seperti saya kan sudah senang, kalo bisa makan tiap hari. Celotehan Mang Ujang (48) kerap diucapkan kepada siapa saja yang mampir di kedai kopi miliknya. Apalagi kalau tamunya mengajak dia berdiskusi tentang suka duka hidup ini. "Ya, yang penting halal dan tidak ngerugiin orang lain," katanya seolah meledek para pejabat negara ini yang suka korupsi dan merugikan masyarakat umum.
Mang Ujang hanyalah orang kecil yang membuka usaha kecil-kecilan di depan Plaza Kalibata. Ia mencuri lahan pedestrian untuk usaha kedai kopinya itu. Terpaksa dilakukannya, karena Mang Ujang tak punya uang menyewa atau membeli lahan usaha. Korupsi pun ia tak mungkin, atau kalau pun mungkin tetapi tidak punya kesempatan.
Malam semakin larut. Jarum jam terus berdetak melewati pukul 02.00 WIB. Jalan raya di bawah kolong jalan layang Kalibata, Jakarta Selatan, sepi. Hanya beberapa kendaraan melintas. Wanita malam yang banyak berkeliaran di sana juta tak terlihat. "Sudah pada check in semua kali," kata seorang tukang ojek yang enggan menyebutkan namanya. "Enggak enak Mbak namaku ditulis, aku juga sering menghantar mereka," katanya polos. Sejumlah tukang ojek hanya tersenyum.
Aroma kopi menyebar ke mana-mana. Artinya warung Mang Ujang mulai dipadati. Terlihat beberapa pria bercengkerama sambil menyeduh kopi buatan Mang Ujang. "Ya, kalo lagi rame lumayan. Tapi kalau pun rame pembeli, paling dapetnya sehari juga tidak lebih dari Rp 300.000," ujar pria asal Sukabumi tersebut.
Setiap hari Mang Ujang membuka usahanya mulai pukul 18.00 WIB dan tutup sekitar pukul 03.00 WIB. Pelanggan warung kopinya kebanyakan tukang ojek yang mangkal di sekitar lokasi itu. "Di sini memang lumayan ramai, apalagi dekat dengan pusat belanja. Kalau Sabtu malam atau hari libur saya bisa jualan sampai pagi," tutur pria yang sudah membuka warung tendanya sejak 1990 tersebut. Penghasilan dari warung kopinya memang tidak bisa diperkirakan tiap harinya. "Tapi warung ini sudah membantu saya menyekolahkan anak-anak. Sekarang sembilan anak saya sudah menikah dan berkeluarga semua," katanya.
Mang Ujang hanya tamat SD, tetapi ia memiliki keinginan kuat agar anaknya bersekolah lebih tinggi. "Kalo hanya lulusan SD seperti saya, anak saya mau jadi apa nanti. Alhamdullilah, mereka semua sudah mandiri, meski tidak sekolah tinggi. Tapi sudah punya pekerjaan dan mampu menghidupi keluarganya masing-masing," katanya sambil menyeduh secangkir kopi susu.
Ia mengaku sudah tidak terlalu terbeban mencari uang seperti waktu anaknya belum mandiri. Sejak menikah dengan Maesaroh (34), ia memang berkeinginan agar anak-anaknya kelak setidaknya tamat SMU dan bisa hidup mandiri. "Mereka juga berdagang seperti saya, yah usaha kecil-kecilan. Lima anak saya sekolah di SMK. Jadi mereka lebih terampil. Kalo di SMU kan cuma bisa teori. Untung sejak kecil mereka ikut menjaga warung, jadi sudah terbiasa kalau sekarang punya warung," ia menjelaskan.
Mang Ujang punya satu obsesi yang sulit dicapainya yakni menyekolahkan anak bungsunya hingga perguruan tinggi. Tina, anak bontotnya itu selalu mendapat peringkat tertinggi di kelasnya. Sayang, biaya untuk kuliah di Jakarta tidak sanggup dicapai bapaknya. "Waktu Tina mau masuk ke PTN, saya sudah siapkan uang hasil warung yang sempat saya sisihkan tiap hari. Lumayanlah terkumpul sekitar Rp 1 juta, tapi ternyata pembayaran uang muka saja Rp 2,5 juta belum SPP tiap bulan. Kalau hanya menyekolahkan Tina saja mungkin saya sanggup, pinjam duit sana-sini tak apa, tapi masih ada dua orang lagi kakaknya yang sekolah," ujarnya pasrah. Saat mengumpulkan uang untuk sekolah Tina, ia pernah membuka warung 24 jam. Dia dan istrinya yang menjaga warung bergantian. "Saat itu yang terpikir bagaimana supaya anak perempuan saya bisa sekolah," ia mengatakan. [Maya Saputri]